|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)..Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda
Home » » Riwayat Guang Ze Zun Wang Bag. 1

Riwayat Guang Ze Zun Wang Bag. 1

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Selasa, 27 Desember 2011 | 14.44

Pada masa dinasti Song, tahun 923 M, Propinsi Fujian, Kota Quanzhou di Kabupaten Nan An, Desa Shi San, dalam keluarga Guo pada tanggal 22 bulan 2 Imlek terlahirlah seorang putra yang diberi nama GUO ZHONG FU.

Ayahnya, GUO MING LIANG / Guo Lizhu ( lahir tahun 899 M tanggal 9 bulan 2 Imlek ) adalah seorang yang suci dan berbakti kepada orang tuanya, serta mencintai saudaranya, sikapnya terhadap orang miskin dan kaya sama. Guo Liang adalah seorang petani. Setiap hari sejak pagi-pagi buta sudah bekerja di sawah.   Ayahnya juga suka pergi ke pegunungan yang pemandangannya indah.
Namun walaupun sudah bekerja susah payah, tetap saja penghasilan yang diperoleh sedikit.

Ibu Zhong Fu bernama LIN SU NIANG, lahir pada tahun 904 M tanggal 4 bulan 9 Imlek. Lin Su Niang adalah seorang yang lemah lembut dan baik hati, hemat dan tidak pernah mengeluh, walaupun hidup tampaknya cukup berat baginya.

Guo Ming Liang dan Lin Su Niang menikah pada tahun 922 M. Ia mendapat wahyu ketika hamil dan ketika Zhong Fu dilahirkan, seluruh ruangan menjadi harum dan di sekelilingnya terasa hawa-hawa baik. Tubuh Zhong Fu tegap, kekar dan amat berbakti kepada orang tuanya. Kepandaian Zhong Fu juga melebihi anak-anak seusianya.

Tak disangka Guo Ming Liang ayahnya yang memang sering sakit-sakitan akhirnya meninggal pada umur 31 tahun (tahun 929 M tanggal 1 bulan 10 Imlek),  yang pada saat itu Zhong Fu masih berumur 7 tahun.   Karena kondisi ekonomi keluarganya yang miskin, mereka tidak mempunyai biaya untuk membuat makam untuknya.   Oleh karena itu mereka kemudian mengkremasi jasad Guo Ming Liang dan dimasukkan ke dalam sebuah periuk.

Zhong Fu kecil dalam bimbingan ibundanya yang baik hati, sejak usia dini telah memiliki sifat rendah hati, rajin bekerja dan berbudi luhur, terbukti dengan riang gembira pagi-pagi ia bekerja menggembalakan ternak yang dipercayakan kepadanya oleh Tuan Tanah YANG XINFU, tanpa pernah berbuat kesalahan. Oleh karena itulah Tuan Yang sangat menyukai Zhang Fu. Ibunya juga bekerja pada Tuan Yang sebagai pembantu yang bekerja menjahit, mencuci baju dan memasak.

Namun setelah Zhong Fu dan ibunya bekerja pada Tuan Yang selama 3 tahun, tetap saja uang yang dihasilkan belum cukup untuk menguburkan abu Guo Ming Liang.

Sifat mulia yang dimiliki Zhong Fu kecil, sangat jelas terlihat waktu ia bekerja pada Tuan Yang di Chongsanli Jingu di distrik Anxi yang kaya raya, ia tidak pernah mengeluh dan gusar dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaannya.   Setiap dombanya dibeli, keesokan harinya dombanya tidak berkurang jumlahnya, sehingga membuat rakyat desa menjadi kagum dan merasa aneh.

Zhang Fu juga sangat berbakti dan sayang kepada ibunya. Hal ini terlihat dari tindak tanduknya sehari-hari yang dilakukan oleh Zhong Fu yaitu Zhong Fu tidak mau makan sebelum ibunya makan, tidak pernah mengeluh ataupun mengomel.

Sering terlihat banyak anak-anak kecil yang bekerja sebagai gembala bermain dan bercanda bersama dengannya. Mereka sangat hati-hati menuntun domba-domba mereka untuk merumput dan mencegah agar domba-domba tersebut tidak merusak hasil panen.

Pada suatu hari, ada pertunjukan opera di desa. Zhong Fu ingin sekali menonton pertunjukan tersebut, namun di lain sisi ia harus membuat domba-dombanya untuk tetap dalam satu kelompok. Zhong Fu melingkari kumpulan domba-dombanya dan memberitahu mereka agar tidak keluar melewati batas lingkaran air kencingnya ketika dia pergi. Ketika dia kembali, ternyata memang domba-dombanya masih berada di dalam lingkaran tersebut. Kejadian ini semakin membuat rakyat desa menjadi kagum.

Zhong Fu sering bermain permainan dengan teman-temannya. Salah satu permainan favoritnya adalah bermain raja-rajaan dan bawahan di bukit dekat desa, dimana di sana hutannya sangat lebat. Di bukit itu terdapat semak belukar dan rotan yang membentuk pijakan dan dudukan. Zhong Fu berhasil mendaki sampai ke tempat yang paling tinggi dan duduk di sana, bermain menjadi seorang raja.

Di sana ia memerintahkan teman-temannya yang bermain sebagai bawahan untuk menyerukan “Semoga Kaisar Panjang Umur !”. Setelah itu ada anak-anak yang lain juga ingin menjadi raja, namun mereka selalu terjatuh ke bawah sebelum mencapai puncak bukit tersebut dan tidak dapat memanjat dan mendaki gunung tersebut setinggi Zhong Fu. Teman-temannya pun akhirnya menyatakan bahwa Zhong Fu memang ditakdirkan untuk menjadi raja.

Permainan lainnya adalah permainan perang-perangan. Zhong Fu menggunakan domba-dombanya sebagai prajuritnya dan dia sendiri bermain sebagai jenderal atau raja yang memimpin perang. Bersama domba-dombanya lari ke sana sini menyerang ke arah selatan ataupun utara. Oleh karena itu, Zhong Fu merasa bekerja sebagai gembala adalah hal yang sangat menyenangkan.

Di kemudian hari, ada seorang Ahli Geologi ( Dili Dashi ) tua dari Gan Zou yang diundang oleh Tuan Yang untuk mencari tanah dengan Feng Shui yang baik sebagai kuburan Tuan Yang nantinya ketika meninggal dikemudian hari.   Namun sang Guru Geologi belum dapat menemukan tanah yang cocok, oleh karena itu untuk sementara ia tinggal di rumah Tuan Yang dan dikontrak selama 3 tahun. Segala ongkos makan dan minum ditanggung oleh keluarga Yang. Zhong Fu diberi tugas oleh majikannya untuk melayani Guru geologi tersebut, setiap pagi menyediakan air panas untuk mencuci muka, membersihkan tempat tidur setiap malam sebelum dan sesudah sang Guru tidur. Di samping itu, Zhong Fu masih tetap bekerja menggembalakan Domba.

Guru geologi tersebut juga mengajari anak-anak Tuan Yang. Ketika Zhong Fu melewati tempat sang guru mengajar, ia turut mendengar dan berusaha untuk menghafal apa yang diajarkan oleh sang Guru pada anak-anak Tuan Yang. Dengan cepat dia dapat menangkap apa yang diajarkan oleh sang Guru geologi.   Begitu mengetahui hal tersebut, sang Guru kagum terhadap Zhong Fu dan menganggapnya sebagai anak yang kepandaiannya luar biasa dan sangat cerdik. Oleh karena itu dikala waktu luang, sang Guru geologi juga menyempatkan diri mengajari Zhong Fu ilmu pengetahuan, membaca dan menulis.

Pada mulanya, perawatan dan pelayanan yang meliputi makan, minum dan lain-lainnya dilakukan oleh keluarga Yang dengan sangat baik terhadap Guru geologi tersebut. Sang Guru disambut dengan ramah, serba mewah, makan tiga kali sehari dengan berbagai macam menu lauk pauk yang enak-enak. Ketika sang Guru ingin bepergian, selalu disediakan tandu tersendiri untuknya. Zhong Fu melayaninya tanpa mengenal lelah dan bosan. Dia dapat menuruti segala kehendak Gurunya, serta pandai mengambil hati. Lama-lama sang Guru pun menganggapnya seperti keluarga sendiri. Setiap sang Guru makan, ia selalu tak lupa untuk memberi makan Zhong Fu. Makanan yang diberikan sang Guru kepada Zhong Fu, diberikan terlebih dahulu pada ibunya untuk dimakan.

Hari-hari terus berlalu dan sudah satu tahun lamanya, sang Guru geologi tinggal di rumah Tuan Yang. Lama kelamaan Tuan Yang menjadi bosan terhadap sang Guru. Karena Guru geologi tersebut tidak menunjukkan hasil yang diharapkan Tuan Yang untuk memperoleh tanah kuburan yang Feng Shuinya baik, sang Guru dianggap setiap hari pekerjaannya hanya jalan-jalan saja menghabiskan waktu tanpa ada hasil.

Sudah menjadi kebiasaan orang kaya yang selalu memikirkan keuntungan saja tanpa memikirkan perasaan orang lain. Segala sesuatu harus mendatangkan keuntungan, tidak mau mendapatkan kerugian biarpun dengan jalan apapun harus dia tempuh dengan uangnya. Tuan Yang dan istrinya memikirkan dan menghitung berapa saja biaya/uang yang dikeluarkan untuk sang guru secara cuma-cuma tanpa memperoleh hasil, karena sang Guru masih saja tidak pernah menyinggung soal tanah ber-Feng Shui bagus yang diinginkannya.

Tuan Yang dan istrinya khawatir kalau nantinya berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk dua tahun ke depan, sedangkan sekarang saja biaya yang dikeluarkan sudah sangat banyak. Tuan Yang merasa menyesal bahwa dia mengeluarkan banyak biaya untuk keperluan sang Guru. Selain itu Tuan Yang juga mencurigai sang Guru hanya mencoba mengulur waktu dan enak-enak saja tanpa berusaha mencari tanah yang Feng Shuinya bagus.

Akhirnya atas saran istrinya yang tidak rela memberikan makanan yang lezat pada sang Guru, Tuan Yang menyuruh pelayan dan juru masak untuk melayani sang Guru sekedar saja, tidak usah diberi berbagai macam menu makanan yang enak-enak. Padahal makanan di rumah Yang sangat banyak yang dibuang atau disia-siakan karena tidak habis.

Lama kelamaan perilaku Tuan Yang terhadap sang Guru makin menjadi-jadi. Ia sangat kasar, tidak ramah dan tidak menghormati lagi sang Guru. Melihat perubahan sifat Tuan Yang, sang Guru menjadi sangat kecewa. Dalam hatinya ia berkata, “Oh, andaikata kata orang seperti Tuan Yang diberi tanah yang ber-Feng Shui bagus, rejeki yang besar dan harta yang lebih, mungkin tindak tanduknya akan lebih menekan dan menindas orang yang menderita, serta tidak suka menolong sesamanya dikarenakan kesombongan dan kecongkakannya.”

Tahun kedua telah lewat, Tuan Yang Xinfu merayakan Tahun Baru dengan mewah dan meriah, tanpa menghiraukan sang Guru. Bahkan Tuan Yang sama sekali tidak memberikan makanan, kue atau minuman, selama merayakan Pesta Tahun Baru yang meriah itu. Sang Guru menjadi kecewa melihat sifat dan perilaku Tuan Yang terhadap dirinya. Akhirnya dalam diri sang Guru timbulah rasa kurang senang terhadap Tuan Yang.

Pada tahun ketiga, sang Guru akhirnya menemukan tanah yang Feng Shuinya bagus, namun timbul dalam pikiran sang Guru untuk tidak menyerahkan tanah tersebut pada Tuan Yang, mengingat segala sifat dan perilaku Tuan Yang. Sang Guru menjadi bimbang dan ragu-ragu, apa yang harus dijalankan untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Pikirannya bercabang dihadapkan pada dua pilihan yaitu, kalau tanah tersebut diserahkan pada Tuan Yang, apa dia tidak berdosa, tapi kalau tidak diserahkan berarti selama ini dia menerima gaji buta. Artinya menerima gaji tanpa memberikan hasil pada orang yang memberi gaji. Sampai larut malam sang Guru geologi memikirkan hal tersebut, sampai tidak bisa tidur. Tiba-tiba Zhong Fu datang mengingatkan, “Guru, hari sudah larut malam, sudah semestinya Guru tidur.”

Waktu tiga tahun terasa sangat lama, segalanya berubah tetapi rasa-rasanya keadaan akan seperti ini saja.   Makan yang diberikan oleh Tuan Yang juga masih tidak enak dan kurang bergizi, mengakibatkan sang Guru geologi jatuh sakit. Setelah diperiksa dan diketahui penyakitnya, maka untuk obatnya diperlukan daging domba.

Kebetulan ada seekor domba Tuan Yang yang terjatuh ke dalam septic tank dan mati. Istri Tuan Yang menyuruh Zhong Fu untuk mengambil domba tersebut dan dimasaknya sebagai campuran obat untuk sang Guru geologi. Sang Guru yang selama ini selalu diberi makanan yang tidak enak, begitu melihat daging domba, langsung makan dengan lahapnya. Ia berkata, “Sejak 2 tahun yang lalu aku berada di rumah ini, tidak pernah aku merasakan makanan yang enak di lidahku. Ketika aku sakit, kok baru hari ini mereka berbaik hati memberikan aku daging domba.”

Lalu Zhong Fu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, “Guru, domba ini mati tenggelam di septic tank.   Tuan Yang tidak berani memakannya, tapi beliau merasa sayang membuangnya. Kemudian nyonya Yang menyuruh saya memberikan dan memasakkan domba itu pada Guru.” Sang Guru sangat terkejut mendengar perkataan Zhong Fu dan langsung memuntahkan kembali daging domba yang telah ia telan.

Sang Guru kemudian berkata, “Tuan Yang, kamu memang tidak punya rasa menerima dan berterima kasih, makanya kamu tidak punya hoki (rejeki) !” Kemudian Zhong Fu mengingatkan Gurunya, agar tidak memikirkannya lagi dan bahwa hari sudah larut malam, sebaiknya tidur saja, karena keadaan sang Guru juga belumlah baik.

Karena kejadian ini, sang Guru akhirnya sudah mempunyai pendirian yang tetap dan kedua tangannya memegang pundah Zhong Fu, sambil berkata, “Apakah ayahmu meninggal ketika kamu masih kecil, sehingga akhirnya engkau dan ibumu hidup miskin, bahkan engkaupun tak bisa sekolah ?” Zhong Fu menjawab apa adanya tentang dirinya, tanpa ditutup-tutupi, bahwa memang karena itulah ia bekerja pada Tuan Yang.

Sang Guru sangat tertarik pada Zhong Fu, sebab anak tersebut pandai, jujur, berbakti pada ibunya, selalu melayani sang Guru tanpa mengenal lelah dan tidak pernah mengeluh sedikitpun, meskipun pada siang hari ia harus bekerja mengembalakan domba. Sang Guru mengutarakan kepada Zhong Fu, bahwa saat ini dia sudah mendapatkan tanah yang Feng Shuinya bagus, namun belum diberitahukan kepada Tuan Yang. Sang Guru tidak ingin memberitahukannya pada Tuan Yang, dikarenakan atas pertimbangannya, tidak selayaknya Tuan Yang memiliki tanah yang bagus tersebut, karena :
1. Waktu kontrak 3 tahun masih belumlah habis
2. Tanah Feng Shui yang baik, harus ditempati oleh orang yang bijaksana.
3. Sedangkan Tuan Yang dan istrinya, berdasarkan pengamatan selama 2 tahun terakhir mempunyai sifat yang tidak berperikemanusiaan, tamak, penuh dengki, jahat, kikir, kejam dan bengis.

Bersambung ke bagian ke 2
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011 - 2018. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger