|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)..Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda
Home » » Mengobati dan Mendidik Anak Sesuai Prinsip Kebenaran

Mengobati dan Mendidik Anak Sesuai Prinsip Kebenaran

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Rabu, 21 September 2016 | 13.54


KEBAJIKAN ( De 德 ) Adalah hal yang wajar bila setiap orang tua itu mencintai dan menyayangi anak-anak mereka, namun, terkadang agak berlebihan, selalu memberikan apa pun yang diinginkan buah hatinya. Sekadar diketahui cara mendidik anak, dengan menuruti apa pun keinginan anak seperti ini akan mengembangkan kecenderungan pada suatu kebiasaan tertentu, yang dengan sendirinya dapat memengaruhi kesehatan.

Contoh misalnya, ketika buah hatinya jatuh terpeleset, sang ayah/ibu lantas menyalahkan tanah sebagai penyebab anaknya jatuh, seakan-akan tanah atau apa pun itu memang biang keladinya. Masih banyak hal-hal seperti ini, sebagai orang tua yang bijak jangan sepenuhnya menuruti kehendak anak, tapi perlakukan sesuai dengan prinsip kebenaran yang rasional.

Masih hangat terbayang dalam benak saya, ketika sedang melangsungkan program siaran di suatu tempat, ada seorang kepala keluarga menelepon ke studio, ia menceritakan kalau anaknya mengidap ADHD-attention deficit hyperactivity disorder atau lebih umum dikenal dengan istilah hiperaktif. 

Bapak itu tanya apakah punya cara untuk mengobatinya ? Saya bilang itu bukan hiperaktif, tapi anak itu kurang perhatian, sehingga muncul gejala seperti itu. Karena tidak mendapat perhatian orang tua, sehingga anak itu pun melakukan sesuatu yang aneh-aneh untuk menarik perhatian orang tua, dan pada saat demikian, sang ayah/ibu pun memarahi dan memukulnya, hingga akhirnya anak itu benar-benar hiperaktif. 

Selain itu, anak ini pun agak tidak fokus ketika sedang belajar di sekolah, mengapa ? Karena dia terlalu pintar, langsung mengerti begitu mendengar penjelasan guru, jadi sama sekali tidak perlu lagi mendengar atau menyimak buku pelajaran, karena itulah ia menjadi tidak fokus, lalu kita pikir ia hiperaktif, anggapan ini tidaklah benar.

Kemudian, salah satu pendengar menelepon, menceritakan kalau anaknya dinyatakan hiperaktif oleh pihak sekolah, tapi sang ibu mendapati bahwa anak ini terlalu pintar, sehingga anak ini pun dibawa pulang dan ia didik sendiri di rumah, belakangan anak ini melanjutkan pendidikannya di Universitas Harvard.

Obyektif menghasilkan anak yang baik

Setiap orang tua memang harus benar-benar peduli (memberikan perhatian) pada anak, tapi bukan berarti harus selalu menuruti kehendaknya ketika ia ngambek, ini adalah mendidik anak yang tidaklah benar. Demikian juga dengan orang tua, jangan memaksakan konsep Anda itu kepada anak-anak. Karena anak itu sebenarnya adalah harta pusaka yang dianugerahkan Tuhan, adalah titipan yang dipercayakan Tuhan kepada Anda, bukan milik Anda. Kita sebagai orang tua sering menjadikan anak itu sebagai harta pribadi, ini tidaklah benar. Jika bisa menyadari bahwa anak adalah titipan dari Tuhan kepada kita, maka niscaya kita akan bisa melahirkan / membesarkan anak yang baik (berguna).

Merawat kesehatan dan mengobati (penyakit) sesuai dengan takdir-Nya (Tuhan)

Prinsip ini sebenarnya sama dengan mengobati penyakit. Mengobati (penyakit) sesuai dengan kehendak Yang Maha Kuasa, maka penyakit ini bisa sembuh ; sebaliknya tidak akan sembuh jika melanggar kehendak-Nya. Contoh misalnya ada penyakit yang disebut AIDS, seandainya bisa saya sembuhkan, Anda akan berterima kasih kepada saya, dan memberi uang yang banyak, namun, jika setiap AIDS itu bisa saya sembuhkan, maka saya melanggar takdir-Nya. 

Sebenarnya perlu saya garisbawahi : Saya sembuhkan penyakit Anda, tapi Anda tidak boleh lagi melakukan hal-hal itu, dengan begitu, saya baru bisa disebut bertanggung jawab terhadap masyarakat. Prinsip kedokteran sebenarnya merupakan prinsip yang sesuai dengan takdir-Nya, bukan hanya prinsip dalam pengobatan penyakit. Salam kebajikan (Sumber)

Hu Nai-wen adalah seorang dokter klinik Shanghai Tong De Tang, Taipei, Taiwan.
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011 - 2018. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger