|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)..Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda
Home » » Bubur Gosong

Bubur Gosong

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Jumat, 28 Oktober 2016 | 13.12


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Suatu ketika, ayah Epel menderita sakit yang mengharuskannya untuk istirahat selama beberapa hari ke depan.

Menurut anjuran dokter, karena menderita sakit tenggorokan lumayan parah, beliau harus mengkonsumsi makanan lunak, terutama bubur. Jika membandel, maka penyakitnya akan menjadi semakin parah.

Ibunda Epel sangat telaten mengikuti nasehat dokter. Setiap pagi, siang dan malam beliau selalu memasak bubur untuk ayah Epel. Agar tidak bosan, ke dalam bubur putih, dimasukkan aneka sayuran dan daging, yang dimasak hingga lunak.

Suatu sore menjelang malam, Epel melihat keanehan pada bubur buatan ibunya di atas meja. Di sekelilingnya terlihat warna gelap. Bukan menyerupai bentuk sayuran maupun daging, melainkan bentuk gosong.

Ayah Epel juga melihat kejadian itu, namun beliau tidak bereaksi apa-apa, diam dan hanya tersenyum ke arah Epel.

Saat ibunda Epel datang membawakan sup kentang, Epel berniat mengabarkan perihal bubur gosong itu. Namun sebelum Epel bersuara, ibunda Epel lebih dahulu berkata : "Ibu tahu buburnya gosong. Tadi ibu buru-buru mengangkat jemuran karena hari sudah mau hujan. Akibatnya ibu telat mematikan api kompor. Ibu ingin memasak ulang, tapi ibu takut ayah kelaparan menunggu buburnya matang. Ibu minta maaf kalau buburnya sampai gosong. Ayah, bagian yang gosong nanti dibuang aja..."

Ayah Epel : "Sayang, jangan khawatir, ayah suka kok dengan bubur gosong. Rasanya pasti lezat jika dicampur dengan sup kentang..."

Ayah Epel mengambil mangkok bubur dan mencentong sup kentang ke dalam bubur. Kelihatan sekali, bagaimana lahapnya beliau berusaha menghabiskan bubur gosong tersebut. Sambil makan, ayah tidak lupa menanyakan kegiatan Epel di sekolah.

Epel tidak begitu mendengarkan apa yang dikatakan ayahnya. Pandangannya terus tertuju ke arah bubur gosong yang sedang dilahap sang ayah. Dia melihat ayahnya seperti biasa saja, padahal bagian bubur yang gosong itu pasti keras dan pahit, sangat tidak enak rasanya.

Sebelum beranjak tidur, ayah Epel masuk ke kamar Epel untuk memberikan sebuah kecupan di kening, kegiatan yang tidak pernah dilalaikan oleh sang ayah, sejak kecil hingga kini.

Epel : "Ayah, bolehkah saya bertanya sesuatu hal...?"

Ayah Epel : "Ada hal apa yang merisaukan pikiranmu saat ini, puteriku tersayang...?"

Epel : "Apakah ayah benar-benar menyukai bubur gosong...?"

Ayah Epel : "Persis dugaan ayah, pasti kejadian tadi sore telah membebani pikiranmu hingga kini..."

Ayah Epel memeluk erat puteri semata wayangnya dengan erat, penuh kehangatan dan cinta kasih.

Ayah Epel : "Sayangku, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari tanpa mengeluh sedikitpun. Ayah tahu pasti ibu merasa amat lelah. Apapun yang dikerjakan ibumu, harus kita hargai dengan penuh kekhlasan. Jadi, semangkok bubur gosong, tentunya tidak akan menyakiti ayah..."

Epel mendengar cerita ayahnya dengan penuh perhatian. Dia salut dengan cara ayahnya menghadapi sesuatu masalah, sesuatu yang tidak sesuai dengan hati.

Ayah Epel melanjutkan : "Saat ayah sakit, siapa yang menjaga dan merawat ayah? Siapa yang membersihkan rumah dan mempersiapkan kebutuhan kita berdua? Ibu bukan...? Nah, jika demikian hal, masak gara-gara bubur gosong, ayah harus menyakiti hati ibu dengan menolak makan atau bahkan tidak menghargai perjuangan ibu dalam menyiapkan makanan kita..?"

Epel menggelengkan kepalanya...

Ayah Epel membelai rambut sang buah hatinya, lalu melanjutkan : "Ketahuilah, hal yang paling menyakiti hati seseorang, tatkala kita tidak menghargai kebaikannya. Apalagi sampai tega mengeluarkan kata-kata kasar bernada menghina."

Saat sang ayah berdiri dari pembaringan, beliau kembali menasehati Epel : "Tiada manusia yang sempurna di dunia ini, termasuk ayah dan ibu. Ayah bukan orang yang terbaik dalam segala hal. Jika demikian halnya, mengapa ayah harus ngotot menyalahkan kekurangan orang? Bukankah ibu tadi sudah meminta maaf? Masak ayah harus marah hanya gara-gara bubur yang gosong? Anakku, cobalah untuk menerima kesalahan dan kekurangan orang lain di dalam hidupmu. Niscaya hubungan kita dengan siapapun akan tetap langgeng dan harmonis..."

Malam itu, Epel merasa mendapat sebuah pelajaran berharga tentang arti keikhlasan dalam menerima dan menghargai kekurangan orang lain.

Sobatku yang budiman...

Hidup itu terlalu pendek untuk diisi dengan segala bentuk amarah, egois, dan kebencian. Aktualisasikan cinta dan kasih sayang kita kepada mereka yang telah berlaku baik dan berkorban untuk kita.

Keindahan itu hanyalah sementara. Keabadian itu tidaklah kekal. Keikhlasan hanyalah dari hati. Ketulusan itu bersumber dari kemuliaan batin.

Tidak mudah mencari yang hilang. Tidak mudah menggapai keinginan. Namun yang jauh lebih susah adalah mempertahankan apa yang sudah ada, sebab walaupun sudah tergenggam kadang dapat terlepas juga.

Ingatlah kalimat pepatah yang baik ini : "Jika kita tidak memiliki apa yang kita sukai, maka sukailah apa yang kita miliki saat ini. Sesuatu yang sudah ada di depan mata."

Cobalah untuk belajar menerima apa adanya, bersyukur dan selalu berpikir positif....Salam kebajikan #firmanbossini
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011 - 2018. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger