|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)..Happy Cap G Meh (十五暝)2569/2018....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda
Home » » Memasak Seperti Ini Rentan Memicu Zat Penyebab Kanker

Memasak Seperti Ini Rentan Memicu Zat Penyebab Kanker

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Minggu, 16 Oktober 2016 | 12.05


KEBAJIKAN ( De 德 ) Mungkin bagi sebagian orang, biasanya setelah memasak sesuatu, lalu langsung dipakai lagi untuk membuat masakan lain tanpa dicuci lagi wajannya, ketahuilah hal ini dapat menghasilkan benzena dan karsinogen.

Setelah memasak sesuatu, lalu langsung dipakai lagi untuk membuat masakan lain tanpa dicuci lagi wajan, menghasilkan benzena dan karsinogen

Sebagian besar orang memiliki kebiasaan seperti ini : Baru saja menggoreng telur, lalu tambahkan lagi sedikit minyak untuk menumis sayuran lain, cara ini selain hemat uang juga hemat minyak.

Namun, ahli gizi menyebutkan, bahwa permukaan wajan yang sekilas tampak bersih itu bisa ditempeli oleh sisa makanan dan minyak, dimana ketika dipanaskan kembali dapat menghasilkan benzena dan karsinogen atau zat penyebab kanker. Lagipula setelah memasak sesuatu lalu langsung dipakai lagi untuk membuat masakan lain tanpa dicuci lagi, dimana sisa masakan semula yang menempel di wajan itu akan mudah menjadi gosong, yang mengandung bahaya karsionogen tertentu.

Usai masak langsung mematikan cooker hood (pengisap asap dan bau tak sedap) : Dapat memicu kanker paru-paru

Sebagian orang suka langsung mematikan alat pengisap asap sehabis memasak, dan karena kebiasaan ini justru memicu timbulnya “pembunuh” tersembunyi.

Menurut ahli gizi, jika apinya besar saat memasak, dan masakan menjadi hangus, hal ini dapat menyebabkan pelepasan zat berbahaya bagi sistem pernapasan, selain itu kemungkinan dapat menyebabkan kanker paru-paru, karena itu dihimbau sebaiknya jangan langsung mematikan alat pengisap asap sehabis memasak.

Sekadar diketahui, alat penyedot asap juga membutuhkan waktu pembuangan, sementara sisa-sisa limbah yang belum sepenuhnya dibersihkan itu akan tertinggal di sekitar dapur. Setelah memasak, sebaiknya biarkan alat penyedot asap dapur itu terus bekerja sekitar 3 – 5 menit, untuk memastikan gas berbahaya sudah dibersihkan secara tuntas.

Baru mengolah masakan setelah minyak mengepulkan asap : Asam lemak trans tidak baik bagi tubuh

Bagaimana cara mengetahui apakah minyaknya sudah panas atau belum ? Banyak yang menjawab kalau asapnya sudah mengepul. Namun ahli gizi, ketika minyak di wajan mengepulkan asap, suhu minyak biasanya telah mencapai lebih dari 200 ℃, apabila baru mengolah masakan dengan suhu setinggi ini, maka zat penyebab kanker dapat meningkatkan risiko kanker.

Selain itu, banyak nutrisi dalam sayuran juga telah hancur, termasuk vitamin yang larut dalam lemak dan asam lemak esensial yang mutlak bagi tubuh.

Ahli gizi merekomendasikan, selama proses memasak, sebaiknya wajan dalam keadaan panas dan minyaknya dingin, asam lemak trans yang dihasilkan minyak dari suhu yang tinggi itu berbahaya bagi tubuh.

Menggunakan minyak sisa untuk memasak : kandungan karsinogen yang tertinggal sangat tinggi

Banyak orang merasa sayang membuang minyak bekas, bahkan dipakai lagi untuk memasak atau menggoreng dengan suhu tinggi. Minyak makan sebaiknya cukup dipakai sekali, atau maksimal 2 – 3 kali dibawah kontrol suhu minyak yang ideal.

Penggunaan secara berulang minyak bekas akan menyebabkan karsinogen dari sisa-sisa yang terpendam di dalam minyak, terutama senyawa benzena dan pyrene, juga sejumlah aldehid dan senyawa heterosiklik. Dalam hal memilih minyak goreng, sebaiknya kurangi penggunaan minyak hewani, pilih minyak sayur.

Selain itu, sebelum makanan hasil rekayasa genetika itu terbukti tidak berbahaya, direkomendasikan pilihlah minyak nabati non-genetik. Kurangi menggunakan minyak dari hasil ekstraksi kimia.

Cara masak yang aman

Lumuri permukaan dengan pasta baru di goreng

Untuk hidangan goreng, sebagian besar berupa daging, misalnya, kroket, ikan goreng, steak goreng dan sejenisnya. Ketika menggoreng makanan-makanan ini, protein dari daging dapat menghasilkan karsinogen pada suhu tinggi.

Untuk mengurangi timbulnya karsinogen, Anda bisa melumurinya dengan pasta dengan ketebalan yang pas pada permukaan makanan yang akan digoreng (bisa menggunakan campuran tepung kanji dan putih telur), kemudian baru digoreng.

Alasannya, karena pasta dapat berperan sebagai pemisah, tidak akan memanaskan daging secara langsung dalam minyak bersuhu tinggi, sehingga meminimalkan timbulnya kedua karsinogen. Saat melumuri pasta, sebaiknya lumuri secara merata, dengan ketebalan yang ideal, agar pemanasan/pematangan makanan bisa merata.

Tambahkan cuka saat memasak

Untuk mengurangi faktor karsinogen saat memasak, sekaligus mempertahankan vitamin C dalam makanan. Sebaiknya tambahkan cuka secukupnya ketika memasak, karena cuka dapat mencegah hilangnya vitamin C dalam sayuran, sementara vitamin C dapat memutus terbentuknya senyawa nitroso (sejenis zat yang dapat menyebabkan kanser kolorektal. Salam kebajikan (Sumber)
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011 - 2018. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger