|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)..Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda
Home » » Batas Kelayakan Berbicara

Batas Kelayakan Berbicara

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Selasa, 28 Maret 2017 | 14.50


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Tidak semua topik pembicaraan layak dibahas secara terbuka pada segala tempat dan waktu. Bila ingin menjadi orang terkemuka dalam dunia usaha, perlu mengerti penguasaan kelayakan berbicara. Berikut ini membahas beberapa pantangan dalam berbicara:

1. Kondisi kesehatan diri sendiri

Selain keluarga dan sahabat karib, maka tidak ada orang yang tertarik pada hasil pemeriksaan kesehatan atau penyakit alergi orang lain.

2. Keadaan kesehatan orang lain 

Orang yang menderita penyakit berat seperti kanker dan lain-lain, biasanya tidak berharap dirinya menjadi obyek fokus pembicaraan. Janganlah bermuram durja ketika bertemu dengan teman yang lagi menderita sakit, bila dia bekerja kembali, hendaknya dia diperlakukan biasa seperti orang lainnya, jangan menyinggung tentang sakitnya.

3. Topik pembicaraan yang bisa menimbulkan perselisihan  

Kecuali sudah mengetahui dengan jelas sikap pihak lain, hendaknya menghindari topik-topik pembicaraan yang mudah menimbulkan perselisihan seperti agama, politik, partai dan lain-lain agar tidak menimbulkan pertengkaran atau keadaan kaku karena saling tidak mengalah.

4. Harga suatu barang 

Bila topik seseorang selalu hanya seputar, berapa harga barang ini? Berapa harga barang itu? Akan terasa menjemukan. Harga rumah maupun mobil seseorang sebenarnya bukan urusan orang lain.

5. Nasib jelek pribadi

Jangan membicarakan tentang penderitaan atau nasib jelek yang sedang menimpa teman kantor, misalnya tentang perceraian atau keluarga meninggal dunia. Tentu saja kalau pihaknya yang mulai dulu membicarakannya, perlu mendengarkan ceritanya dengan menunjukkan rasa simpati, namun janganlah mempertanyakannya secara bertubi-tubi hanya karena ingin memuaskan rasa ingin tahu.

Pada saat berbicara dengan orang yang baru mengalami musibah, yang paling baik adalah membiarkan dia menyatakannya sendiri. Namun bila yang mengalami musibah adalah diri Anda sendiri, maka pada saat membicarakan urusan dinas, sebisanya jangan memasukkan topik mengenai musibah yang Anda alami, karena akan membuat orang lain menjadi serba sulit, orang lain mungkin tidak mengetahui bagaimana menyatakan rasa simpati.

6. Topik yang sudah basi atau sudah ketinggalan zaman

Topik yang menimbulkan kesan “itu-itu terus” bukanlah topik yang baik.

7. Gosip yang mencelakai orang

Dalam bekerja akan terdapat banyak kesempatan untuk menyiarkan berita burung yang merugikan masa depan orang lain, tentu saja sebelum Anda mulai membahas berita burung ini perlu mempertimbangkan, apakah berita tersebut sudah “banyak ditambah dengan bumbu-bumbu” atau isinya mungkin semuanya benar, namun setelah disebarkan akan dapat melukai orang lain.

Seorang manager yang mampu membela anak buah hendaknya menunjukkan sikap seorang pimpinan, sekalipun mungkin hanya sepatah kata, “Saya kira hal ini kurang adil baginya.” Ini akan membuat orang lain kagum dan hormat.  Salam kebajikan (Sumber)
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011 - 2018. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger