|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)..Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda
Home » » Kita (Tidak) Akan Bersama Selamanya

Kita (Tidak) Akan Bersama Selamanya

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Rabu, 05 April 2017 | 13.03


KEBAJIKAN (De 德) Akankah kita akan bersama selamanya?

Ketika awal dari sebuah hubungan, kedua pihak yang saling mengasihi, tentang kalimat di atas berpikirpun tidak pernah terlintas, jawaban dari permasalahan itu dikira sebuah kepastian, seolah mutlak sudah pasti. Jika tidak, mengapa harus bersama-sama? Hanya akan membuang-buang waktu dan mengabaikan kehidupan.

Tak peduli yang mengembangkan hubungan denganmu itu, seorang pria, seorang wanita, seorang anak, seekor kucing, seekor anjing… semuanya berprasyarat: “Kita akan bersama selamanya!”, barulah dapat dengan serius memulai hubungan emosional itu.

Sebenarnya di dalam hatimu juga telah ada persiapan, kekhawatiran, sedikit atau banyak, takut yang berlebihan atau ringan, tanda tanya besar ataupun kecil, mengingatkan dirimu: “Anggap saja untuk selamanya, akan berjalan seberapa jauhkah?” Paradoksnya adalah: Ketika hubungan semakin baik, semakin tidak memikirkan hal itu; dan ketika semakin tidak peduli akan permasalahan itu, hubungan pun semakin memburuk sampai-sampai apakah jawabannya sudah tidak penting lagi. Bahkan ada lagi yang lebih membuat kebanyakan orang merasa tak habis pikir, tapi memang mau tak mau yang harus diakui adalah: Keyakinan akan dapat berjalan sampai berapa lama dengan pasangan hidup, mungkin ketergantungannya itu lebih sedikit daripada dengan hewan peliharaan.

Abadi? Ah, hanya khayalan saja

Sahabat Archie mengadopsi seekor anak anjing dari kerabatnya, ia dinamakan: “Panpan (盼盼 mandarin: berharap).” Dinamakan demikian karena pandangan matanya dipenuhi dengan harapan menunggu sang majikan pulang ke rumah.

Archie sejak awal sudah tahu umur anjing ras ini rata-rata maksimal 12 – 15 tahun, ia sangat menghargai kebersamaan mereka berdua. Pada tahun ketika mengadopsi Panpan, ia baru saja lulus dari perguruan tinggi dan membawa anjing ini, dari daerah selatan pergi ke utara mencari kerja.

Waktu telah berlalu, Archie telah tiga kali berganti tempat kerja dan lima kali ber¬pacaran, ketika berusia 35 tahun, begitu pesta ulang tahunnya selesai dan sehabis menyanyi menuju pulang, tiba-tiba ia baru menyadari bahwa Panpan yang dulunya anjing cilik telah berubah menjadi anjing tua. Ketika membuka pintu rumah, ia masih mengibaskan ekornya dan menggonggong, tetapi ekor yang bergoyang telah melemah, gonggongannya pun bernada rendah dan terputus-putus.

Beberapa bulan kemudian, ketika Panpan sekarat, Archie sedang bertugas ke luar kota, begitu menerima pemberitahuan darurat dari ibu kosnya, ia bergegas pulang dan membawanya ke perawatan medis, tetapi tidak tertolong lagi. Archie memeluk tubuh Panpan, tak hentinya tubuhnya terus bergetar, menangis tanpa suara. Inilah untuk kali pertama dalam hidupnya menghadapi perpisahan karena kematian, begitu menyakitkannya sehingga ia tercerahkan bahwa rupanya, hubungan kita tidak abadi. Dan pencerahan yang membawa kepedihan dan perenungan ini, masih melampaui perpisahannya dengan kelima mantan pacarnya.

Alasannya sangat muskil sekaligus sangat sederhana: Ketika saling mengasihi, keyakinan akan “kita akan bersama selamanya” tersebut semakin mendalam, ketika berpisah, “selamanya” berakhir disaat kedua belah pihak itu saling membalikkan badan, maka dari hati yang terdalam makin terasa sakit.

Kita bisa saja ditolak oleh orang lain, tetapi sebaliknya hewan peliharaan relatif setia kepada kita. Archie ketika berpacaran dengan teman wanitanya, meskipun juga sempat beranggapan “Hubungan kita akan abadi”; seiring dengan penambahan jumlah gesekan dan pertengkaran ketika berpacaran, keyakinan akan “hubungan kita akan abadi” secara bertahap terguncang menjadi “kita kemungkinan tidak dapat bersama selamanya”; pada akhirnya setelah hubungan terputus dan menerima kenyataan kejam bahwa: “Kita tidak mungkin bersama selamanya”.

Dari “kita akan bersama selamanya” dan “kita kemungkinan tidak dapat bersama selamanya” serta akhirnya menemukan “kita tidak dapat bersama selamanya”, itulah yang disebut sebagai wujud dari “ketidakkekalan”, hal itu dapat dikarenakan panjang-pendeknya proses perubahan, serta tingkat kesulitan untuk menerima dan beradaptasi, yang memutuskan sejauh mana pengenalanmu mengenai kehidupan dan dangkal-mendalamnya pemahamanmu tentang kehidupan.

Tidak peduli seberapa dalamnya cinta, pada akhirnya harus menghadapi perpisahan

Bagaimana mendalamnya hubungan pria dan wanita, toh akhirnya harus menghadapi perpisahan. Orang yang saling mencintai, sering kali tidak dapat lahir pada hari/bulan/tanggal yang sama, juga tidak akan meninggal pada hari/ bulan/tahun yang sama pula (kecuali mengalami bencana alam atau musibah secara bersamaan), cepat atau lambat pada suatu hari harus berpisah.

Bersikeras akan benar-benar mencintai seseorang, bahkan saking cintanya sampai tahap “Tanpa dirimu, aku akan mati!”, begitu gegap gempita, itu belum tentu hal yang baik. Ketika dirimu dalam hidup secara perlahan mengalami suka-duka dan berpisah-berkumpul, maka akan menyadari bahwa prinsip kebenaran dari cinta: Pada masa muda karena pertengkaran menjadi putus, tentu ada penyesalan; ketika menginjak usia tua berpisah karena kematian, sama saja akan bersedih. Banyak orang beranggapan, cinta yang terlalu mendalam maka baru ada derita, sebetulnya pemikiran ini hanya setengah betul. Cinta yang mendalam, jika mengerti bagaimana memenuhi dan memberkati, maka derita itu sudah sepatutnya ditanggung.

Derita yang sebenarnya, sebetulnya berasal dari obsesi “ kita akan bersama selamanya” yang tak mampu dilepas, tidak bersedia merelakan dengan terus-terusan mempertanyakan: “Bagaimana kau bisa begitu kejam, meninggalkanku sendiri….”

Hanya kembali ke hakikat kehidupan, menerima dua kenyataan “kita tidak akan bersama selamanya” dan “akhir dari percintaan adalah pada akhirnya hanya tinggal aku sendiri”, kemudian mempersiapkan mental “walaupun tidak sempurna, tetapi cukup menentramkan”, barulah dapat dengan bebas dan tanpa rasa takut membuka lembaran “kehidupan kedua” dirimu.

Pikirkan tentang pasangan hidup yang kamu cintai, pada suatu hari akan meninggalkanmu, hanya memperkuat menyayangi dan rasa bersyukur, barulah membuatmu belajar dari awalnya “tidak merelakan” menjadi “merelakan.” Ketika cinta sampai akhirnya ha-nya tinggal dirimu sendiri, karena sudah tidak ada penyesalan dan rasa kecewa, malah menjadi semakin tegar dan lembut, dapat memastikan diri sendiri membawa berkah dan dapat menjalani sisa hidup dengan sebaik-baiknya.

Akankah kita bersama selamanya?

Gaung tiada henti pasca pertanyaan ini, membawa kita ke kesadaran tentang kehidupan, mengerti “Kita belum tentu bisa selamanya bersama”, tetapi “Saya sendirian pun bisa hidup dengan baik,” barulah arti sebenarnya dari “abadi”. Membuat orang yang meninggalkan Anda tersebut, dapat berlalu dengan tenang, saling rela memberkati satu sama, yang tertinggal barulah kebahagiaan. Salam kebajikan  (Sumber)
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011 - 2018. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger