|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)..Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda
Home » » Mencuri Uang Istri

Mencuri Uang Istri

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Senin, 10 April 2017 | 11.59


KEBAJIKAN ( De 德 )Seorang temanku, sebut saja namanya Rimba, mengajakku keluar untuk santap siang bersama. Kali ini saya tidak menolak ajakannya setelah sebelumnya beberapa kali menolak permintaannya karena kesibukan pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan.

Setelah berbicara banyak hal, akhirnya sebuah pernyataan Rimba membuatku heran plus terkejut.

Rimba : "Dua hari lalu saya mencuri uang isteriku..."

Setelah mengucapkan kalimat demikian, Rimba menghela nafasnya dalam-dalam. Untuk menutupi perubahan mimik wajahnya, Rimba mengeluarkan dan menyalakan sebatang rokok kretek.

Saya : "Mengapa harus mencuri? Jika meminta dengan baik-baik, pastilah isterimu akan memberikan. Setahu saya, isterimu itu baik dan tidak pelit..."

Rimba : "Karena itulah makanya saya mengambil uang diam-diam dari dompetnya..."

Saya : "Memangnya isterimu tidak akan tahu jika uangnya berkurang...?"

Rimba : "Isteriku jarang menghitung uangnya. Seringkali uangnya diletakkan di sembarangan tempat..."

Saya semakin penasaran, lalu bertanya lebih detil : "Banyak yang kamu ambil?"

Rimba : "Cuma lima puluh ribu. Uangnya juga masih utuh sampai sekarang. Saya mengambil uang tersebut untuk berjaga-jaga jika suatu ketika saya ada keperluan tiba-tiba..."

Kali ini justru saya yang menghela nafas dengan lega. Sebelumnya terbersit kekhawatiran diriku jika Rimba mengambil uang dalam jumlah banyak. Yang paling mengganggu pikiranku adalah jika Rimba menggunakan uang curian untuk berjudi atau membeli narkoba.

Saya : "Apakah saat ini kamu seorang pengangguran?"

Rimba menggelengkan kepalanya : "Saya masih memiliki penghasilan bulanan. Beberapa bulan ini, pendapatanku berkurang drastis, tinggal setengah saja. Selama ini saya yang menafkahi keluarga. Membayar keperluan rumah tangga, kebutuhan sekolah anak, susu, gaji pembantu dan sebagainya. Namun, saat ini saya tidak sanggup lagi menutupi seluruh pengeluaran. Apalagi, tiga bulan ini, ibuku meminta uang bulanan lebih banyak dari biasanya."

Saya terpaku sejenak mendengarkan penuturan Rimba yang blak-blakan. Selama ini, Rimba jarang sekali menceritakan masalah rumah tangganya kepadaku. Mungkin kali ini, dia sudah berada pada puncak kesulitan dan ingin berbagi cerita untuk meringankan beban perasaan.

Rimba melanjutkan : "Bro, sebenarnya saya malu menceritakan semua kesulitanku. Saya percaya bahwa kamu mungkin dapat memberikan jalan keluar untukku, setidaknya dapat meringankan beban hidupku... Saya hanya ingin mendengar pendapatmu, bukan yang lain-lain, bukan mau meminjam duit..."

Saya tertawa mendengar kepolosan sahabatku yang saya kenal adalah pemuda yang baik, jujur dan bertanggung jawab.

Saya : "Tenang aja bro... Saya mengerti perasaanmu saat ini..."

Rimba : "Sebenarnya saya ingin berkata jujur kepada isteriku, namun saya malu dan takut. Malu karena telah mencuri. Takut kalau isteriku menganggap diriku bukan suami yang bertanggung jawab, lantas pergi meninggalkanku... Selama ini isteriku sudah sedemikian baik membantuku menutupi sebagian kebutuhan rumah tangga kami..."

Saya : "Nah, justru itulah, kamu tidak sepantasnya mencuri uang isterimu..."

Rimba : "Saat itu dompetku benar-benar kosong. Sementara itu, setiap hari saya harus keluar rumah untuk mengantar anak dan pergi bekerja. Untuk meminimalisir pengeluaran, saya pergi ke rumah orang tua untuk sarapan dan makan siang. Saat itu saya berpikir hanya meminjam uangnya sebentar dan akan mengembalikannya setelah ada pelanggan yang mentransfer uang ke rekeningku..."

Saya : "Nanti malam setelah isterimu pulang kerja, katakan sejujurnya apa yang sudah terjadi. Saya yakin isterimu pasti akan memaklumi perbuatanmu..."

Rimba : "Saya takut isteriku menyepelekan diriku. Khawatir jika dia berpikiran bahwa saya sudah jatuh miskin dan akan segera meninggalkanku..."

Saya tertawa sekali lagi : "Kamu terlalu banyak menonton sinetron atau drama. Masak gara-gara uang lima puluh ribu, isterimu berniat menceraikanmu?"

Rimba tersenyum, sedikit terpaksa, lalu menganggukkan kepalanya : "Tapi saya sudah mencuri uang isteriku. Saya takut dia marah..."

Saya menggelengkan kepala : "Percayalah, isterimu pasti akan maklum mengapa kamu mencuri uangnya. Toh, saat ini kamu tetap menafkahi keluarga, bersama-sama dengannya. Jujur sajalah, karena kejujuran itu adalah modal utama dalam kehidupan berumah tangga..."

Rimba : "Iya bro..."

Saya melanjutkan : "Seorang isteri yang baik pasti akan mengerti kondisi suaminya. Tidak mendesak apalagi menuntut berlebihan. Tidak akan merendahkan apalagi menghina atau mencaci maki."

Rimba : "Makasih atas nasehatnya bro... Ngomong-ngomong, kali ini kamu yang membayar bonnya yah. Soalnya uang lima puluh ribu ini akan saya kembalikan kepada isteriku..."

Saya tertawa terbahak-bahak mendengar celoteh Rimba : "Nyantai aja boss. Dan yakinlah, besok pagi dompetmu pasti akan berisikan dua lembar uang seratus ribuan..."

Rimba : "Siapa yang memberiku...? Kamu...?"

Saya memeletkan lidah : "Enak aja... Udah makan gratis, mau minta mentahnya pula... Hahaha..."

Rimba : "Jadi siapa dong...?"

Saya : Tentu saja isterimu yang akan memberikan. Mana mungkin dia tega melihat dompet suaminya yang tinggal selembar uang lima puluh ribuan, sementara di dalam dompetnya terdapat banyak uang berwarna merah... Satu lagi, uang itu adalah bonus atas kejujuranmu..."

Rimba : "Sok tau nih... Udah kayak paranormal aja..."

Sobatku yang budiman...

Kejujuran adalah modal utama yang wajib dimiliki oleh siapapun, terutama bagi mereka yang sudah berumah tangga.

Banyak suami isteri yang harus berpisah karena menyembunyikan sesuatu yang pada akhirnya diketahui oleh pasangannya. Sesuatu yang amat menyakitkan hati pasangannya.

Jujur itu memang hebat...!!!  Salam kebajikan #firmanbossini
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011 - 2018. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger