|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)..Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda
Home » » Nenek ini Menangis Sedih Setelah Menggeledah Tong Sampah, Perlakuan Menantunya Menyakiti Hatinya

Nenek ini Menangis Sedih Setelah Menggeledah Tong Sampah, Perlakuan Menantunya Menyakiti Hatinya

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Sabtu, 01 April 2017 | 15.14


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Ada empat orang anggota keluarga, masing-masing adalah nenek yang berusia 70 tahun, ayah, ibu dan Xiang-Xiang, cucunya yang berusia 6 tahun.

Sang Nenek sehari-hari menjual telur ayam di pinggir jalan lapaknya. Modal 1 butir telur adalah 50 sen, dan biasanya dijual 1 dolar per butir.

Sementara ayah-ibu adalah pekerja kantoran, dan Xiang xiang, anaknya atau cucunya si nenek baru kelas 1 SD.

Suatu hari sepulang sekolah, si nenek yang berada di dapur bergegas ke kamarnya setelah mendengar suara pintu dibuka cucunya yang baru pulang sekolah sambil berteriak mengatakan, “Cucuku, sini sebentar, nenek membelikan sesuatu untukmu !”

Si bocah berlari ke arah neneknya, si nenek tersenyum sambil mengeluarkan satu stel pakaian baru, “Coba lihat, nenek belikan pakaian baru untukmu, minggu depan adalah ulang tahunmu, di baju itu ada gambar beruang kesukaanmu!”

Si bocah tampak begitu gembira dan mencoba baju baru dari neneknya, dan enggan melepaskannya lagi.

Malamnya, ketika ayah dan ibu Xiang Xiang pulang kerja, tampak ekspresi tak sedap dari seraut wajah ibunya, karena baju yang dibelikan ibu mertua untuk anaknya itu adalah baju murahan tidak berkualita. Bukan saja jahitannya kasar tapi juga banyak benang yang putus dan bau menyengat yang menusuk hidung, tapi si nenek (mertuanya) diam saja.

Saat Anaknya mandi seusai makan, ibunya berkata, “Xiang Xiang, baju itu jangan dipakai lagi, banyak pakaian di rumah, baju ini simpan dulu.”

Si nenek hanya diam saja mendengarnya.

Tengah malam, saat seluruh anggota keluarga sedang tidur pulas, secara diam-diam si nenek bangun dari tidurnya, kemudian sambil membawa lampu yang redup dari gerbang pintu, perlahan-lahan si nenek membuka pintu, lalu membuka dan menggeledah isi kantung sampah yang dibuang di pintu.

Tak lama kemudian, ia menemukan pakaian yang dibelikannya untuk cucunya itu, tak disangka hanya karena berkualitas rendah, pakaian yang dibelinya dengan uang hasil penjualan telurnya itu pun secara diam-diam dibuang ke kantung sampah oleh menantu perempuannya.

Melihat kenyataan itu, mata nenek berkaca-kaca dan menyeka air matanya, setelah mengguncang-guncang membuang kotoran lengket pada pakaian itu, kemudian dengan langkah perlahan nenek berjalan masuk ke rumah.

Namun, pemandangan itu tanpa sengaja dilihat oleh ayah dari cucunya yang terbangun tengah malam, dan tampak air mata ayah Xiang Xiang pun berlinang membasahi wajahnya.

Kebetulan keesokannya adalah hari Sabtu, ibu telah pergi dengan temannya. Sementara nenek berjualan di lapaknya seperti biasa, si ayah kemudian membangungkan Xiang Xiang putranya, dan berkata pada anaknya, “Nak, bagaimana kalau hari ini kita praktik sosial?

Si bocah menganggukan kepalanya tanda setuju.

“Bagaimana kalau hari ini kita amati nenek menjual telur?”

Si bocah kembali menganggukan kepalanya. Mereka lalu mengikuti si nenek ke pasar, kemudian diam-diam masuk ke sebuah kedai kopi di sampingnya, dan mengamati si nenek dari dinding kaca.

Dagangan Nenek
Mungkin karena hanya menjajakan dagangannya di kaki lima, tidak punya toko yang formal, sehingga tidak banyak pembeli, sebagian besar yang beli adalah tetangga yang dikenal di gang. Sepanjang pagi itu pun berlalu, nenek hanya berhasil menjual sekitar 30 butir telurnya. Saat menjelang siang, orang-orang yang membeli sayurpun berangsur-angsur mulai berkurang.

Nenek kemudian merapikan dagangannya, tapi kali ini tidak langsung pulang ke rumah seperti biasa, tapi langsung menuju menuju ke toko pakaian anak-anak tidak jauh dari lapaknya. Sementara ayah dan anak yang mengamatinya dari dalam kedai kopi diam-diam mengikutinya.

Setelah nenek masuk ke dalam toko, ia mengambil baju dari dalam kantong plastik dan mengatakan pada pemilik toko ingin mengembalikan pakaian yang dibelinya tempo hari, tapi sang nyonya toko mengatakan, “Tidak dapat dikembalikan, apalagi pakaiannya sudah kotor dan labelnya sudah dibuang.”

“Kalau begitu saya bersihkan dulu, bagaimana, bisa dikembalikan?”

“Tidak bisa nek!”

Si nenek tampak tidak berdaya, dan matanya mulai berkaca-kaca lalu air matanya pun berlinang, “Tolonglah nyonya, saya harus menjual telur selama dua hari baru bisa mendapatkan kembali uang pakaian yang saya beli ini. Sudah mahal-mahal saya beli, kirain ibunya si cucu akan senang.”

Si nenek akhirnya hanya bisa menelan ludahnya sendiri, tidak bisa ngomong apa-apa lagi.

“Kalau saya terima barang kembalianmu ini, saya rugi, nek, jangan hanya lihat toko saya sebagai penjual, saya juga susah untuk mendapatkan keuntungan yang tidak seberapa ini.”

Karena tidak bisa dikembalikan, akhirnya nenek duduk di lantai dan menangis, rambut putih di kepala dan badannya yang lemah tampak bergetar, sehingga menarik perhatian banyak orang.

“Nek, pergilah, nanti orang-orang mengira saya yang menyakitimu!” Nyonya itu berusaha menyuruh nenek itu pergi dari tokonya.

Nenek dan Cucunya
“Nak, ayo pakai baju itu.”

Bocah 6 tahun itu pun seketika paham dengan maksud ayahnya, kemudian ayah dan anak ini menghampiri si nenek, dan tanpa banyak omong lagi anak itu melepas bajunya dan mengambil baju dari tangan neneknya, “Nek, saya suka dengan baju ini, jangan dikembalikan!”

Sang Ayah memapah ibunya, dan mengangkat keranjang telur ibunya, “Bu, jangan menjual telur lagi, telur ibu selanjutnya telah saya beli.”

Sambil memapah ibunya yang terhuyung-huyung, nenek, ayah dan anak bertiga ini pun berjalan pulang ke rumah.

Keluarga yang bahagia, tidak tergantung pada merk atau harganya, tapi pengertian, toleransi antar sesama anggota keluarga, curahan cinta dan kasih sayang yang mengalir di antara keluarga, inilah kebahagiaan sesungguhnya.

Tegakah melukai perasaan orang tua hanya karena pakaian yang sepele. Anak yang masih kecil bukan saja telah belajar menipu, tapi juga belajar menjadi anak durhaka. Berbakti pada orang tua dimulai dari sosok ayah-ibu.  Salam kebajikan (Sumber)
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011 - 2018. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger