|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)..Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda
Home » » Lihatlah dari Sisi Kebaikan

Lihatlah dari Sisi Kebaikan

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Senin, 08 Mei 2017 | 14.13


KEBAJIKAN ( De 德 ) Beberapa waktu lalu, seorang sahabatku, sebut saja namanya Kusuma, mengeluhkan perilaku isterinya yang membuatnya merasa tidak senang. Belakangan ini, sang isteri lebih senang menghabiskan waktunya di luar rumah dengan mengajak puteri semata wayang yang masih balita.

Kusuma : "Bro, saya merasa tidak nyaman dengan kondisi ini. Hampir setiap malam, setelah pulang kerja, isteriku selalu mengajak anakku keluar rumah bersama teman-teman dan saudara-saudaranya..."

Saya mencoba bercanda : "Coba kamu cek lagi rumah kamu, mana tahu ada bangkai tikus. Mungkin ini yang menyebabkan dia enggan berada lama-lama di rumah..."

Kusuma : "Jangan becanda bro... Saya datang untuk meminta solusi kepadamu..."

Saya : "Oke dech... Apakah kamu sudah pernah membicarakan hal ini dengan isterimu?"

Kusuma : "Beberapa kali pernah saya omongin, tapi besoknya dia sudah lupa lagi...."

Saya : "Terus, keberatan kamu dimana? Apakah dia menghabiskan uang belanja keluarga? Apakah dia pergi dengan pria lain? Atau barangkali dia kelaparan di rumah?"

Kusuma : "Tidak bro... Isteriku tidak pernah menggunakan uang keluarga, dia juga tidak pernah macam-macam. Kalau kelaparan mungkin iya, karena jika tidak dipaksa makan malam, isteriku sering tidak mau makan. Alasannya mau diet karena berat badannya sudah melar..."

Saya : "Jadi mengapa kamu harus keberatan...?"

Kusuma : "Sejujurnya saya khawatir dengan perkembangan anakku yang masih balita. Takutnya, perkembangan kepribadiannya menjadi tidak baik karena sering keluyuran di luar rumah. Lagi pula, orang-orang dekatku sayang banget dengan si kecil, apapun yang dimintanya pasti akan dikabulkan..."

Saya : "Oh... itu toh masalahnya. Si kecil ada takut atau segan sama orang?"

Kusuma : "Walaupun saya menyayanginya melebihi apapun, namun jika dia melakukan kesalahan, saya paati akan menghukumnya. Hukuman paling sederhana, saya mendiamkannya, memasang muka marah atau mengeluarkan suara keras. Seringkali si kecil akan menangis dan berkata, sorry papi..."

Saya : "Nah, ternyata si kecil takut sama kamu. Selagi si kecil masih ada rasa takut dan mau mendengar apa katamu, seharusnya kamu tidak perlu khawatir. Jangan bosan untuk mengingatkan si kecil tentang sesuatu yang baik, bisa melalui kalimat langsung maupun cerita atau dongeng. Hal ini akan membuatnya mengerti mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan..."

Kusuma : "Tapi kan gak perlu begitu sering keluar rumah di malam hari...."

Saya : "Mengapa kamu tidak ikut keluar saja..?"

Kusuma : "Saya tidak bisa ikut karena setiap malam harus kerja sampai jam 21:00, Senin sampai Jumat..."

Saya : "Jika demikian, kamu jangan mengekang mereka terlalu ketat. Lagipula kamu bilang isterimu tidak senang jika ditegur. Kalau dipaksakan, ntar malah terjadi pertengkaran, yang berujung pada ketidakharmonisan keluarga..."

Kusuma : "Jadi saya tidak perlu menegur isteriku...?"

Saya : "Ucapkanlah dengan kalimat yang lembut. Jangan dengan kata-kata kasar yang dapat menyakiti hatinya. Kejadian ini terjadi, bukan melulu salah isterimu yang suka keluyuran, namun juga karena keterbatasan waktumu menemani mereka bercengkerama. Jangan membesarkan masalah yang kecil, karena akan timbul banyak masalah lain yang tidak terduga. Jangan menghabiskan energi hanya untuk menyimpan perasaan yang tidak enak, apalagi menegur orang hingga melukai perasaannya..."

Kusuma : "Iya bro... Jujur saja, kadang hatiku nyesek melihat mereka keluar rumah. Sampai-sampai saya berpikir apakah saya telah salah memilih pendamping hidup..."

Saya : "Husshhh... Kamu terlalu banyak nonton sinetron Eros kali... Banyak orang memandang keluarga kamu itu adalah keluarga yang bahagia, termasuk diriku yang selalu menilai positif keluargamu... Jangan membebani pikiran sendiri dengan keburukan pasangan kita. Tidak mungkin kita mampu mendapatkan pasangan yang sempurna, yang sesuai dengan 100% kriteria kita. Banyak orang hidup dalam kesengsaraan karena selalu melihat sisi buruk pasangannya serta mengabaikan kelebihan dan sisi baiknya. Ingat, kita akan hidup selamanya bersama pasangan kita, entah berapa puluh tahun ke depan lagi, tidak ada seorangpun yang tahu...."

Kusuma : "Jadi saya harus bagaimana...?"

Saya : "Biarin saja hingga beberapa waktu ke depan... Akan tiba saatnya isterimu merasa bosan untuk keluyuran dan lebih senang berada di rumah. Omongin saja pelan-pelan saat hati kalian sedang bergembira. Bicarakan dari hati ke hati, mungkin di saat kalian sedang intim..."

Kusuma : "Hahaha... Jika intimnya sebulan sekali...?"

Saya ikut tertawa mendengar ungkapan ceplas ceplos dari sahabatku. Namun saya yakin kalau dia dapat menerima pesan dari ucapanku, mengerti apa yang pantas dilakukan agar kehidupan keluarganya selalu harmonis dan bahagia.

Sobatku yang budiman...

Sebelum menikah, banyak orang menganggap pasangan yang dipilihnya adalah yang paling sempurna. Namun pada kenyataannya setelah menikah, mulai timbul satu persatu kekurangan dari pasangannya.

Kita berharap mendapatkan pasangan ideal, kalau bisa 100% sesuai dengan keinginan, namun ternyata setelah dikira-kira ternyata hanya memenuhi 60% saja. Lantas bagaimana kita menyikapinya?

Apabila kita selalu memandang 60% yang berhasil dicapai oleh pasangan kita, maka kita pasti akan bersyukur dan hidup dalam kebahagiaan, tidak meribetkan kekurangan yang ada.

Apabila kita selalu memandang yang 40% yang tidak dimiliki pasangan kita, maka dipastikan hidup kita akan sengsara, selalu mengeluh dan menghabiskan waktu sepanjang hidup hanya untuk meratap, menyesali diri dan tidak bahagia.

Kita tidak perlu membuang waktu dan tenaga untuk mencari-cari dan membesar-besarkan kekurangan, kelemahan dan kesalahan pasangan kita. Hal ini akan menciptakan kehidupan keluarga yang tidak harmonis. Ujung-ujungnya muncul kata perpisahan, karena merasa ada orang lain yang mungkin lebih baik dari pasangan kita di luar sana.

Bahkan jika diberi pasangan yang hampir sempurna, 99%, dan selalu melihat dari yang 1%, maka kita akan selalu memandang sisi keburukannya, hidup kita tidak akan pernah bahagia.

Bukankah selama ini banyak sisi kebaikan yang dimiliki pasangan kita? Sudah sepantasnya kita selalu bersyukur, walaupun masih ada kekurangan yang dimilikinya. Bukankah diri kita juga bukan manusia sempurna dan pastinya memiliki banyak kekurangan?  Salam kebajikan #firmanbossini
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011 - 2018. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger