|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)......Mohon Maaf Blog ini masih dalam perbaikan....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda

Senin, 08 Mei 2017

Mundur Selangkah untuk Mengubah Lawan Menjadi Kawan


KEBAJIKAN (De 德) -   Ada pepatah lama di Tiongkok: Dalam sebuah konflik, saat Anda menahan emosi, Anda akan terhindar dari badai; Saat Anda mundur selangkah, Anda akan menemukan laut dan langit luas tak terbatas. Pepatah ini diilustrasikan oleh Zhai Fangjin, yang hidup pada akhir Dinasti Han Barat lebih dari 2.000 tahun yang lalu.

Kampung halaman Zhai berada di Kabupaten Shangcai, Provinsi Henan. Kabupaten ini masih bernama sama hingga saat ini, namun di tempat kuno ini sayangnya sekarang dikenal dengan desa-desa AIDS.

Zhai sudah menjadi yatim sejak masih muda. Dia sangat rajin dan belajar di Ibukota Chang’an (kota modern Xi’an masa itu), saat masih remaja. Karena merasa iba terhadap Zhai yang dianggap masih terlalu muda, ibu tirinya menemani Zhai di Chang’an. Dia membuatkan sepatu buatan tangan untuk menunjang studinya.

Zhai sangat tertarik mempelajari Sejarah Musim Semi dan Musim Gugur, sebuah sejarah Tiongkok kuno yang dihitung sebagai salah satu dari Lima Klasik dalam literatur Tiongkok.

Hasil atas studi kerasnya selama sepuluh tahun, membuat Zhai semakin mahir dalam pengetahuan, memperoleh nilai tertinggi dalam memanah, dan ditunjuk sebagai penasihat saat berusia 20-an tahun.

Zhai teliti dalam pelajarannya tentang klasik. Perlahan-lahan ia mendapatkan ketenaran di kalangan para ilmuwan di ibukota, dan ia memiliki lebih banyak murid.

Seorang ilmuwan tua, Hu Chang, juga belajar klasik dan memegang posisi yang lebih tinggi daripada Zhai. Meskipun ia telah memulai lebih awal dari Zhai, namun ketenarannya masih kalah dibandingkan Zhai, hal ini membuat Hu cemburu kepada bakat Zhai dan menunjukkan rasa tidak hormat saat merujuk kepadanya.

Zhai tidak membalas dendam saat mengetahui hal ini. Sebaliknya, dia malah bersikap rendah hati. Setiap kali Hu mengumpulkan siswa untuk memberikan pelajaran, Zhai akan mengirim murid-muridnya ke tempat Hu untuk bertanya dengan cara yang paling tulus, membuat catatan dengan tekun. Ini terus berlanjut untuk beberapa lama.

Kemudian, ketika Hu tahu bahwa kerendahan hati Zhai adalah untuk menunjukkan rasa hormat kepadanya, dia merasa sangat malu. Setelah itu, dia berhenti mempermalukan Zhai dan mulai menunjukkan penghargaan kepadanya sebagai gantinya.

Kearifan Zhai dalam kerendahan hati yang disengaja mengubah seorang antagonis menjadi seorang teman.  Salam kebajikan (Sumber)