|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)..Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda
Home » » Tidak Percaya Adanya Karma, Anak ini Campakkan Ibunya, “Bakar Saja Kalau Sudah Mati.”

Tidak Percaya Adanya Karma, Anak ini Campakkan Ibunya, “Bakar Saja Kalau Sudah Mati.”

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Jumat, 26 Mei 2017 | 13.43


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Bokong nenek berusia lebih dari 80 tahun dari Shantou, provinsi Guangdong ini baru diketahui bernanah setelah jatuh sakit terbaring di tempat tidur dalam waktu yang lama.

Sementara putra sulungnya bukan saja tidak pernah menjenguknya, malah mengatakan, “Ya sudah kalau sudah mati, tinggal dibakar, buang saja!

Suami Zhang luan-mei (80) asal Gu-rao, distrik Chao Yang, Shan Tou, provinsi Guangdong ini sudah lama meninggal. Mereka dikaruniai 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan yang masing-masing sudah berkeluarga.

Menurut penuturan Zhnag Luan-mei, putra sulungnya yang berusia 55 tahun tidak pernah merawatnya, “Sepeserpun tidak penah dia berikan untuk saya berobat, dengan bantuan dua potong kayu sebagai penopang, saya mengemis di jalan, beberapa orang yang baik hati memberikan sedikit uang setelah mendengar kondisi yang saya alami.”

Pada awal April lalu, nyonya Zhang terjatuh, kepalanya cedera, terbaring sakit di rumah sendirian. Ah Lian, putri bungsunya yang bekerja di luar daerah segera pulang ke rumah begitu mendengar kabar ibunya yang sakit. Melihat bokong ibunya yang sudah bernanah, Ah lian dan suaminya kemudian membawa ibunya ke rumah sakit.

“Kakak laki-laki saya tidak pernah menjenguk sejenak pun juga, tidak pernah peduli, apalagi memberi uang. Ia bilang ya sudah kalau mati, bakar dan buang saja,” kata Ah Lian.

Sementara kakak kedua pernah menjenguk ibu, namun, karena pernah bertengkar dengan suami Ah Lian, tak lama kemudian ia langsung pergi.

Sudah berulang kali Ah Lian menelepon kakak sulungnya, tapi selalu ditolak kakaknya dengan berbagai alasan.

Menurut kakaknya, beberapa hari ini tekanan darah saya tinggi, kepala saya sering pusing, selalu di rumah istirahat dan minum obat. Sementara telepon kakak keduanya selalu tidak diangkat.

“Saya dan suami bekerja di luar daerah, hidup kami juga sangat sederhana. Setelah ibu jatuh sakit, biaya pengobatan semuanya berkat sumbangan dari orang-orang yang bersimpati. Sementara biaya pengobatan ibu di masa depan akan memakan waktu yang sangat lama, saya khawatir tidak sanggup merawatnya seorang diri, saya harap kedua kakak laki-laki dan kakak perempuan saya bisa menjaga ibu secara bergantian,” kata Ah Lian.

Karma anak durhaka

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus tentang anak yang mencampakkan dan tidak merawat orang tuanya yang sudah senja di Tiongkok sering diberitakan di koran.

Pada Agustus 2016, media Tiongkok pernah mengungkapkan tentang orang tua usia 90 tahun yang tengah sakit dicampakkan ke dalam tong sampah di pinggir jalan. Meskipun memiliki 5 anak, namun, seorang kakek usia 82 tahun di Yichang, Hubei, terpaksa duduk di kursi roda dan tinggal di jalanan sambil menjaga peti matinya.

Berbakti dan menghormati orang tua sebagai perioritas utama adalah kebajikan tradisional orang-orang Tionghua. Orang-orang dahulu yang memiliki keyakinan percaya bahwa mereka yang tidak berbakti atau durhaka itu akan dikutuk Tuhan, karena itu, mereka harus menjalani baktinya pada orang tua.

Namun, orang-orang di Tiongkok yang tidak lagi punya keyakinan di era sekarang, dimana karena tidak percaya adanya karma, sehingga mereka berani terang-terangan memperlakukan semaunya dan tidak merawat orang tua kandung mereka.

Selain itu, media Tiongkok juga pernah memberitakan tentang dua bersaudara yang bernasib malang. Dua bersaudara dari Wenchuan masing-masing menikahi sepasang sepupu perempuan, dan masing-masing melahirkan seorang putra. Tapi sejak itu, bencana baru menimpa mereka, pertama putra tunggal adiknya hilang saat gempa, dan selama bertahun-tahun tidak pernah ditemukan, diduga sudah tewas.

Tak lama kemudian, putra dari si kakak menginvestasikan semua hartanya ke sebuah perusahaan investasi, tapi semuanya ludes, karena stress kini mentalnya pun terganggu.

Mengapa kedua bersaudara itu mengalami nasib malang secara berturut-turut?

Menurut keterangan media, kedua bersaudara ini pernah ditegur tetangga karena menelantarkan orang tua kandung mereka sendiri. Sejak kedua bersaudara ini menikah, mereka selalu menghina orang tuanya, bukan saja sering dicaci maki oleh menantunya, tapi kedua orang tua atau mertua mereka ini diusir dan tinggal di pondok tua, dan hanya memberi bubur dua kali sehari.

Putri dari pasutri senja yang menikah di desa tetangga itu akhirnya merawat kedua orang tuanya yang sudah senja.

Perbuatan kedua bersaudaranya yang durhaka itu pernah membuat tetangganya naik pitam, sekarang bencana silih berganti menimpa kedua keluarga ini. Orang-orang mengatakan bahwa itu adalah karma atas sikap dan perilaku mereka terhadap orang tua kandungnya. Salam kebajikan (Sumber)
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011 - 2018. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger