|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)..Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda
Home » » Syukur yang Dilupakan

Syukur yang Dilupakan

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Jumat, 16 Juni 2017 | 17.42


KEBAJIKAN ( De 德 )Seorang nenek yang berumur 70 tahun sedang menjalani operasi katarak mata akut. Hampir dua puluh tahun lamanya, sang nenek mengalami penglihatan yang buram. Berkat "paksaan" dari para tetangganya, akhirnya sang nenek tersebut bersedia melakukan operasi.

Operasi berjalan sukses dan sang nenek berhasil melihat kembali dengan jelas. Warna-warni di sekitarnya sudah dapat dinikmati sang nenek dengan sempurna. Semuanya terlihat begitu indah.

Saat hendak meninggalkan rumah sakit, sang nenek meminta tagihan yang harus dibayarnya. Beliau sudah menyiapkan sejumlah uang yang berhasil ditabungnya selama beberapa tahun. Uang tersebut tersimpan rapi di dalam kantongnya.

Saat melihat tagihan pengobatan matanya, sang nenek terlihat begitu syok. Matanya terbelalak melihat deretan angka yang menurutnya sangat besar. Mulut wanita yang hidup sebatang kara itu berkomat kamit tidak jelas.

Melihat ekspresi wajah sang nenek yang terperanjat melihat nominal yang tertera di tagihan, dokter yang menangani sang nenek merasa sangat iba.

Lantas dokter itu berkata : "Nenek tidak perlu mengkhawatirkan masalah tagihan ini. Semua ini akan saya limpahkan kepada yayasan sosial yang kami kelola..."

Sambil terisak, sang nenek mengeluarkan segepok uang dan meletakkannya di atas meja, lalu berkata : "Saya tidak mempermasalahkan tagihan ini. Nih, uang untuk membayar semuanya. Saya menangis karena sebelum mengalami katarak, Tuhan tidak pernah sekalipun mengirimkan tagihan atas penglihatanku. Tuhan sungguh maha baik. Selama ini saya kurang mendekatkan diri kepada Tuhan dan kurang mensyukuri nikmat penglihatan yang diberikan-Nya..."

Semua orang yang berada di dalam ruangan merasa terenyuh mendengar penuturan sang nenek. Sebagian dari mereka mengangguk menandakan setuju dengan apa yang dikatakan sang nenek.

Sobatku yang budiman...

Seringkali kita tidak mensyukuri apa yang sudah dimiliki, mengabaikan keberadaannya, menganggapnya sebagai milik kita yang tidak dapat diganggu gugat, bahkan oleh Sang Pemilik alam semesta. Begitu angkuh dan arogan.

Namun saat musibah atau kesulitan datang, kita baru ingat bahwa kenikmatan yang didapatkan sebelumnya bukanlah milik kita sepenuhnya. Mengumpat dan melontarkan kekesalan kepada Tuhan atas derita yang dialami.

Nikmat sehat baru terasa, ketika kita terjerumus dalam kesakitan. Namun saat sehat dan bugar, kita sering melupakan nikmat tersebut.

Nikmat kaya baru terasa, ketika kita terperosok dalam kemiskinan. Namun saat kaya dan berlimpah harta, kita sering mengabaikan nikmat tersebut.

Nikmat keluarga harmonis baru terasa, ketika kita ditinggalkan oleh mereka yang kita kasihi. Namun saat bersama, kita sering menyia-nyiakan nikmat tersebut.

Nikmat damai baru terasa, ketika suasana menjadi ajang peperangan dan saling menyakiti. Namun saat damai, kita sering meremehkan nikmat tersebut.

Nikmat umur panjang baru terasa, ketika malaikat maut datang menjemput. Namun ketika hidup, kita sering mencuekkan nikmat tersebut.

Jalani saja apa yang ada di depan mata dengan penuh rasa syukur. Jika semua berjalan sesuai harapan, jangan lupa mengucapkan syukur atas nikmat kesuksesan yang telah dianugerahkan kepada kita. Jika apa yang didapatkan tidak sesuai dengan keinginan, tetaplah bersyukur atas nikmat cobaan ini.

Kita memiliki dua kaki untuk melangkah, janganlah kita meminta sayap untuk terbang. Kita memiliki dua tangan untuk bekerja, janganlah kita berpangku tangan membiarkan kedua tangan kita tetap bersih. Kita memiliki mata untuk menatap masa depan, janganlah kita memejamkan mata untuk berkhayal setinggi langit.

Hiduplah dengan sewajarnya untuk meraih kebahagiaan, sebab kita memang berhak untuk bahagia.  Salam kebajikan #firmanbossini
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011 - 2018. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger