|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)......KEBAJIKAN ( De 德 ) Mengucapkan Xin Nian Kuai Le (新年快乐) 2571 / 2020...Xīnnián kuàilè, zhù nǐ jiànkāng chángshòu, zhù nǐ hǎo yùn..Mohon Maaf Blog ini masih dalam perbaikan....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda

Kamis, 14 Juni 2012

Keharuman Bunga Plum, Keluar Dari Kepahitan Dan Kebekuan

 


Bunga plum menjadi simbol penting dalam budaya Tiongkok. Sebagai “sahabat di musim dingin”, bunga plum sangat gamblang mewakili nilai ketahanan diri, karena seiring berjalannya waktu pada akhirnya akan dikuasai kehidupan.
 
Sebagaimana pepatah Tiongkok yang mengatakan, "keharuman bunga plum, keluar dari kepahitan dan kebekuan”. Jiwa ditempa pada kematangan pengalaman, tumbuh dalam kekuatan batin dan keberanian yang pantang menyerah.

Penyatuan budaya dan alam telah menjadi bagian terpenting dalam tradisi Tionghoa, dan elemen-elemen alam menambahkan nilai-nilai penting dalam kebudayaan. Bunga plum, begitu juga dengan anggrek, bambu dan bunga krisan, dijuluki sebagai “tanaman bangsawan”. Ini dikarenakan karakteristiknya yang mewakili sifat keningratan, seperti kemurnian (anggrek), kebenaran (bambu) dan kerendahan hati (krisan). 

Zhu Xi, seorang pelajar Konfusius era Dinasti Song, menuliskan empat falsafah kebajikan bunga plum : kuncup bunga melambangkan kekuatan besar, bunga melambangkan kemakmuran, buah melambangkan keharmonisan dan kematangan melambangkan kebenaran. Menurut I  Ching (Kitab Perubahan), seluruhnya mewujudkan karakteristik Surga (Qian). Orang Tionghoa juga memandang, 5 helai mahkota bunga plum sebagai 5 simbol berkah, yakni panjang usia, kemakmuran, kesehatan, kebajikan dan hidup bahagia. 

Tanaman Plum atau Prunus mume, berasal dari Tiongkok barat daya. Lebih dari 3.000 tahun pohon plum ditanam di tanah Tiongkok, termasuk Tiongkok Utara, dimana musim dinginnya lebih dingin. Dari Tiongkok, bunga plum menyebar ke Korea, Jepang (disebut ume), dan lain-lain, sebagai tanaman hias. Pohon plum akan berbunga sebelum mengeluarkan daunnya saat musim semi.   

Mahkota bunga plum biasanya memiliki 5 helai, satu lapis atau banyak lapis, dan umumnya berwarna pink atau merah, putih, dan kuning. Warna pink / merah seringkali digunakan untuk perayaan Tahun Baru Imlek pada akhir Januari dan awal Februari.

Tiongkok memiliki sejarah yang panjang dalam pembudidayaan bunga plum. Buah plum dikonsumsi lebih 3.000 tahun, dan tanaman plum menghiasi taman-taman atau halaman rumah selama lebih dari 2.000 tahun. Pada abad ke-5, para raja dan putri istana mulai memanfaatkan bunga plum sebagai dekorasi, dan ini membuat tanaman tersebut semakin populer.  

Bunga plum menjadi obyek penting dalam berbagai puisi dan lukisan sejak Dinasti Tang, mencapai puncaknya saat Dinasti Song. Dibawah goresan kuas literatur dan seni, semangat yang diwakili bunga plum menjadi terkenal. 

Bagi penyair Lin Bu dari Dinasti Song, bunga ini lebih dari sekedar simbol, ia merupakan seorang sahabat dan belahan jiwa. Puisinya tentang bunga plum yang terkenal telah diturunkan dari generasi ke generasi :

Seluruh bunga layu,
hanya kau sendiri yang mekar,
Menjadi pusat pemandangan di taman kecil.
Kelembutan cabangmu memantul bayangan serong diatas air jernih yang dangkal;
Harummu diam-diam melayang ringan dalam cahaya bulan.

Penyair Dinasti Song lainnya, Lu You, juga terkenal akan puisi tentang bunga plum. Dalam “Pujian Bunga Plum”, dia menjabarkan :

Saya biasa berkuda mengunjungi Chengdu Barat,
Bau harum bunga plum memabukan.
Keharumannya hingga duapuluh li (satuan jarak Tiongkok, = 500 meter),
Dari Istana Qingyang hingga ke
selokan Huanhua.

Puisi ini mengekspresikan harapan penyatuan dengan bunga plum :

Bagaimana aku bisa meleburkan tubuhku
dalam jutaan,
masing-masing bermekaran di pohon plum.

Su Dongpo, penyair era Dinasti Song, disebut-sebut yang bertanggung jawab pada gaya seni yang berfokus pada penggambaran spirit daripada bentuk luarnya. Dia mengatakan, “Keindahan bunga plum jauh melampaui rasa masam buahnya.” Pemikirannya melebihi fisik yang mempengaruhi lukisan bunga plum secara mendalam, terutama pada gaya “tinta plum”, yang hanya menggunakan tinta hitam untuk melukis pohon plum dan bunganya. 

Shi Zhongren, pencipta gaya “tinta plum” di atas kain sutera, adalah seorang biksu pada masa Dinasti Song. Sebagaimana kepercayaan orang Tionghoa, karakter mulia bunga plum menghendaki pelukisnya menjadi orang yang berwatak mulia. Shi membubuhkan kesadaran inti yang penting dalam karya seninya, dan lukisannya dikenal sebagai “puisi tanpa kata”. 

“Lukisan plum menghendaki karakter mulia pohon plum, dan kemurnian sang pelukis dalam menerapkan filosofi bunga plum,” tutur Wang Mian dari Dinasti Yuan, yang mengikuti Shi dalam gaya melukis tinta bunga plum. Tidak seperti gaya Shi yang biasa melukis dengan sedikit cabang dan bunga plum, lukisan Wang memiliki banyak cabang dan kuntum bunga plum, mengekspresikan kebenaran dan semangat menyala. Wang hidup dalam pengasingan dimana dia menanam ribuan pohon plum disekeliling kediaman “Rumah Bunga Plum”. Puisinya tentang bunga plum mengandung kemiripan dengan kehidupan pribadinya.
Bertempat di hutan, dengan es dan salju,
tak bercampur dengan debu persik dan bunga pir.
Tiba-tiba wewangian muncul di suatu malam,
menyebar ke langit dan bumi,
membawakan musim semi diseluruh daratan.

Sejak Dinasti Tang, tiap-tiap generasi penyair dan pelukis menikmati catatan-catatan yang dibuat pelukis bunga plum.Kini, Shen Yun Performing Arts membawakan tarian bunga plum dalam pentas tarian klasik Tiongkok, merayakan kemurnian, kecantikan dan daya tahannya. Penampilan Shen Yun secara keseluruhan menampilkan filosofi bunga plum: Meskipun menderita, mendapat rintangan dan kehilangan budaya, harapan adalah abadi, dan pembaruan sudah tidak jauh lagi

Tidak ada komentar:
Write komentar