|
Welcome To My Website Kebajikan ( De 德 ) Festival Kue Bulan (Tiong Chiu) Happy Mid Autumn Festival....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda
Latest Post

Berbakti Pada Ayah Ibu

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Jumat, 30 September 2016 | 13.24


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Orang yang mempunyai ibu cintailah ibu, ibu ada maka rumah ada, rumah sudah tiada ibu, tertawa pun bukanlah sebahagia dahulu. 

Cinta ibu tiada batas, ibu rela mengorbankan segalanya untuk anak-anaknya. Ibu boleh memberikan segala kebutuhan anaknya tanpa memikirkan kemampuannya. Cinta ibu dapat menembus langit dan bumi tanpa memikirkan panas dingin hidupnya. 

Dalam kehidupan karakter orang tua serta didikan orang tua sangat mempengaruhi kehidupan anak-anaknya. Sukses dan kemandirian anak-anak sangat tergantung kewibawaan orang tua. Tetapi sukses dalam kehidupan berumah tangga anak-anak tergantung pedamping hidupnya mereka. 

Orang tua kita besarkan kita, kita besarkan anak-anak kita dan anak-anak kita besarkan anak mereka. Zaman berbeda didikan terhadap anak juga beda, kebesaran ibu menjadikan anak-anaknya orang yang berguna juga beda. 

Keberhasilan ibu adalah bagaimana anaknya menjadi seorang yang berkemampuan, sebaliknya kegagalan anaknya juga tanggung jawabnya. Setiap orang tua mempunyai keterbatasan mendidik anak-anaknya, keterbatasan waktu, uang dsn lain sebagainya. Jangan bandingkan orang tua kita dengan orang lain. 

Selalu bersyukurlah ibu kita melahirkan atau membesarkan kita di dunia ini dengan keterbatasannya, tiada berharap atau menuntut balasan. Sayangilah orang tua kita, karena saat kita menyadari mendidik anak tidak semudah apa yang kita pikirkan. Saat yang sama menyadari kebesaran orang tua mungkin orang tua kita sudah tiada di dunia. Semua sudah terlambat buat kita menyadari jasa orang tua kita. 

Berbakti pada ayah dan ibu adalah berupaya agar hati mereka merasa tenang dan bebas dari rasa khawatir. (孝順就是讓父母安心)。Not making our parents worry is what it means to be a good son or daughter. - Kata Perenungan Master Cheng Yen - Salam kebajikan (Ai Ti)

Hadapi Hidup dengan Bersyukur


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Hidup semiskin apapun, tidak usah diutarakan, karena tidak ada orang yang tanpa alasan memberikan Anda uang. 

Hukum ekonomi manusia berbeda dengan hukum ekonomi Tuhan, ukuran diberkati bukan hitungan matematis, seperti bertambah; berkurang dan berbagi, manusia berpikir bertambah itu berkat, berkurang itu kutuk dan berbagi itu kerugian. 

Hukum ekonomi manusia ukurannya uang dan harta, tapi hukum ekonomi Tuhan ukurannya KASIH yang mendatangkan BERKAT dan ANUGRAH baik dibumi dan disurga. 

Jangan TERPENJARA oleh keadaan, apapun hasilnya, apapun keadaannya, banyak maupun sedikit, kecil atau besar, tanamkan KEYAKINAN bahwa HARI INI kita semua SUDAH diberkati, sebab itu BERSYUKURLAH kepada Tuhan! 

Sebagai manusia kebahagiaan akan bisa dicapai dengan selalu bersyukur atas setiap keadaan yang dihadapi. Seringkali manusia hanya bersyukur saat mendapatkan kebahagiaan. Sangat jarang manusia bersyukur saat sedang berkesusahan. Padahal setiap detik kehidupan dan juga kejadian yang dialami baik itu keadaan yang menyenangkan atau kurang menyenangkan harus disyukuri. 

Nah sobat, Setiap kejadian selalu memiliki hikmah dan maksud tersendiri yang harus disyukuri. Tuhan sudah merencanakan semua hal dengan sebaik-baiknya. Jangan pernah mengeluh. Hadapi hari dengan sebaik-baiknya, selalu berpikiran positif dan berbaik sangka atas segala sesuatu.  

Semoga Bermanfaat.. 
Tetaplah bersemangat! 
Teruslah bertumbuh! 
Teruslah belajar!
Salam kebajikan (Lily)

Kejujuran Palsu


KEBAJIKAN ( De 德 )Seorang pria muda yang sudah beristeri, namanya Emon, baru saja meninggalkan kantor setelah usai bekerja seharian. Sebelum pulang ke rumah, Emon menyempatkan diri singgah ke sebuah supermarket untuk membeli pampers, seperti yang dipesankan sang isteri, Dora sebelum Emon berangkat ke kantor. 

Saat hendak membayar bill di kasir, tiba-tiba saja pundak Emon dipukul oleh seseorang. Emon menoleh ke belakang. Seorang perempuan muda tertawa terkekeh-kekeh melihat mimik wajah Emon yang terkejut. 

Perempuan muda : "Haiii Emon... Apa kabar? Sudah lama kita tidak berjumpa..." 

Emon : "Nobita..? Apakah benar kamu ini Nobita...? 

Nobita : "Iya benar, saya Nobita... Kok kamu begitu terperanjat seperti melihat kuntilanak di siang bolong...?" Emon : "Bukan begitu Bita... Kamu tampak berbeda..." 

Nobita : "Berbeda gimana..? Tambah jelek dan kelihatan lebih tua...?" 

Emon : "Tidak... Kamu tampak lebih cantik dan hmmm... kamu sexy banget... Beda banget dengan waktu dulu ketika kamu menjadi pacarku..." 

Nobita tertawa kegirangan mendengar pujian dari mantan kekasihnya. Emon : "Kok kamu sendirian? Mana suami dan anak-anakmu..? Tumben kamu ada di kota ini?" 

Nobita : "Saya hanya menemani suamiku. Dia sedang mengurus proyeknya di dekat sini. Kebetulan saat ini, suamiku sedang berada di luar kota, selama beberapa hari. Mon, kami sudah berkeluarga selama sepuluh tahun namun belum dikaruniai anak. Makanya saya kesepian sendirian berada di kota ini..." 

Emon : "Saat ini kamu tinggal dimana?" 

Nobita : "Di hotel Jw meriot..." Emon : "Tadi kesini naik apa?" 

Nobita : "Naik taxi. Mengapa nanya-nanya? Memangnya mau mengantar diriku?" 

Emon : "Boleh-boleh saja. Lagipula kita sudah lama sekali tidak berjumpa... Sekalian untuk melepas kangen..." 

Perasaan Emon bercampur aduk bagaikan permen nano-nano. Senang, gembira, berbunga-bunga, sekaligus takut kalau ketahuan isterinya. Emon berani mengambil keputusan mengantarkan Nobita ke hotel karena berharap dapat mengobrol panjang lebar selama di jalan. Hanya itu saja. Sehingga dia hanya akan terlambat sedikit, saat tiba di rumah. 

Setelah selesai berbelanja, meluncurlah mereka menuju ke hotel tempat Nobita menginap. Sepanjang perjalanan, Emon tidak henti-hentinya memandang wajah Nobita yang berubah menjadi semakin ayu. Obrolan di dalam mobil pun menjadi semakin seru. Mereka saling mengenang masa-masa pacaran yang menyenangkan. 

Emon : "Itulah kamu... Gara-gara kamu sekolah ke luar negeri, akhirnya kita terpaksa harus berpisah..." 

Nobita : "Bukankah kamu berjanji akan menungguku pulang ke tanah air? Mengapa malah kamu yang menikah duluan?" 

Emon : "Almarhum ayah saya memaksaku menikah. Sebelum wafat, beliau ingin melihat saya berumah tangga. Maafkan saya Bita..." 

Nobita sedikit terisak mengingat kisah perpisahan mereka. Emon merasa tidak tega dan akhirnya tanpa disadari telah mengelus rambut hitam Nobita. Suasana kembali menjadi hening. Kepala Nobita jatuh ke bahu Emon, menikmati elusan tangan Emon, tangan yang paling sering digenggam dan diremasnya pada saat pacaran. Tidak terasa mereka telah tiba di hotel JW meriot. 

Nobita : "Mas, bolehkah saya minta agar kamu mampir dan menemaniku sejenak. Saya takut sendirian di kamar..." 

Emon mulai terbawa situasi, pikirannya tidak lagi memikirkan isterinya. Di dalam hatinya timbul perasaan tidak tega melihat mantan kekasihnya ketakutan dalam kesendirian. 

Emon berkata dalam hati : "Biarlah kali ini saya menuruti keinginannya. Anggap saja hari ini saya menebus kesalahan yang pernah saya lakukan dulu..." 

Nobita menggamit lengan Emon, cukup mengagetkan Emon yang sedang terbuai lamunan dan kebimbangan. 

Nobita : "Ayok kita pergi ke kamar saya sebentar. Kok malah melamun? Saya dapat membaca matamu, kamu pasti sedang bimbang... Kalau kamu tidak bisa, gak papa kok.. Saya tidak mau memaksa dirimu lagi. Pulanglah...." 

Emon : "Tidak... Saya tidak apa-apa. Saya hanya takut tidak dapat menahan diri..." 

Nobita tertawa terbahak-bahak : "Hahaha... Pikiran kamu pasti sedang ngeres... Nyantai aja Mon..." 

Di dalam kamar hotel, mereka melanjutkan obrolan. Tidak terasa tiga jam telah berlalu. Sementara itu, Emon tidak menyadari bahwa baterai hapenya sudah lowbat sejak di supermarket tadi sore. 

Akhirnya apa yang ditakutkan terjadi... Terjadilah... 

Emon terkesiap saat matanya memandang ke arah jarum jam milik Nobita yang terletak di atas meja. Waktu sudah menunjukkan pukul 23:00. Saat ingin menelepon isterinya Dora, barulah Emon menyadari baterai hapenya sudah habis. 

Emon : "Matilah aku... Pantesan dari tadi, hape-ku tidak berbunyi. Rupanya lowbat... Udah telat banget untuk pulang ke rumah. Apa alasan keterlambatanku...? Dora pasti marah besar...." 

Tidak berapa lama berpikir, Emon meminta Nobita menghubungi Gojek untuk membelikan catur. Hanya dalam waktu 30 menit papan catur beserta bidaknya sudah ada di depan mata. 

Setelah berpamitan, Emon segera pulang ke rumah sambil menenteng plastik berisi catur. Begitu membuka pintu, tampak sang isteri Dora sedang memasang tampang marah dan wajah garang seperti ingin menerkam Emon. 

Dora menghardik : "Kamu pergi ke mana? Hayo ngaku...!!! Sampai pegal jariku menekan tombol hape, ini malah telepon kamu dimatiin..." 

Emon : "Sabar dikit sayang... Saya akan menpceritakan kejadian sebenarnya mengapa saya sampai pulang larut malam..." 

Dora masih menyolot : "Mau kasih alasan apa lagi, hah...?!?" 

Emon : "Begini ceritanya... Setelah pulang dari kantor, saya singgah ke supermarket untuk membeli pampers pesanan kamu tadi pagi. Waktu di sana saya ketemu dengan mantan pacarku, Nobita yang pernah saya ceritakan dulu. Terus saya diajak ke hotelnya, buat menemani dirinya. Karena terbawa situasi, akhirnya terjadi juga, sayangku..." 

Dora terdiam dalam keheningan. Dahinya berkernyit seperti memikirkan sesuatu. Dia pernah berjumpa dengan Nobita setahun lalu di Paris, ketika dia dan Emon menikmati liburan tamasya ke Perancis. 

Dalam hati Dora bergumam : "Apa mungkin Nobita sudah balik ke Indonesia...?" 
Tiba-tiba, terdengar suara benda jatuh ke lantai. Tas tenteng yang dipegang Emon, terlepas dari genggamannya dan menjatuhkan semua isi. Buah catur berceceran di atas lantai. 

Seketika Dora tertawa terbahak-bahak : "Ini yah hasil berjumpa dengan Nobita? Hahaha... Dasar pembual...! Sudah tua dan jelek, masih merasa ganteng. Masih sok laku... Bilang kek dari tadi kalau kamu sudah mengingkari janjimu untuk puasa bermain catur selama sebulan. Kalau ketahuan, maka kita akan pisah ranjang selama sebulan. Untung saja hari ini, hatiku lagi baik. Jadi hukuman untuk kamu dibatalkan. Cepat pergi mandi, habis itu kerokin badan saya..." 

Emon menghela nafas lega : "Siaaapppp sayanggkuuu..." 

Dalam hati Dora berkata : "Hampir copot jantungku mendengar suamiku berselingkuh dengan Nobita... Untung saja ada papan catur yang jatuh ke lantai...." 

Emon juga bergumam dalam hati : "Hampir saja... Terima kasih caturku... Engkau adalah penyelamat hidupku..." 

Sobatku yang budiman... 

Begitulah contoh sebuah kejujuran dalam kehidupan rumah tangga walaupun sering dibalut dengan praktek kepura-puraan. Kejujuran palsu. 

Seringkali kita terpaksa harus berbohong untuk menyelamatkan hubungan dengan pasangan. Hampir semua orang pernah melakukan kebohongan dengan berbagai alasan, terutama untuk menjaga perasaan pasangan kita. 

Jika kita berada dalam situasi seperti yang dialami Emon, apakah kita akan berterus terang atau berbuat seperti yang dilakukan oleh Emon atau justru berbohong semampu yang kita lakukan? 

Terlepas dari semua itu, alangkah baiknya jika kita mampu berpikir jernih sebelum melakukan sesuatu kekhilafan yang dapat berujung pada perpisahan. Cobalah berpikir, bagaimana perasaan kita seandainya kita berada di pihak yang dibohongi. Salam kebajikan #firmanbossini

Berawal dari Kejujuran

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Kamis, 29 September 2016 | 13.42


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Pada suatu siang yang terik, seorang pemuda yang alim dan jujur, bernama Zuki sedang berendam di sungai yang berair jernih. Tampak dari kejauhan sekumpulan buah kelapa yang hanyut terbawa oleh arus sungai. 

Karena merasa haus dan lapar, Zuki memungut beberapa buah kelapa. Dengan sebilah parang tajam, Zuki membolongi pucuk buah kelapa dan meminum airnya. Lantas buah kelapa itu dibelahnya dan dengan lahap Zuki menghabiskan seluruh daging kelapa muda tersebut. 

Kemudian Zuki mengambil buah kelapa yang kedua. Saat hendak membelahnya, tiba-tiba Zuki menghentikan aksinya. Termenung sejenak. Zuki baru menyadari telah melakukan kesalahan karena mengambil buah kelapa yang bukan miliknya. 

Zuki bergumam : "Saat ini saya telah mencuri buah kelapa. Saya harus menemui pemiliknya dan meminta maaf atas kelancanganku mengambil dan memakan buah ini tanpa permisi..." 

Lalu, Zuki berjalan menyusuri pinggiran sungai dan akhirnya menemukan pohon kelapa yang sedang berbuah banyak. Zuki melangkahkan kakinya menuju ke sebuah rumah sederhana yang berada tidak jauh dari pohon kelapa tersebut. Seorang kakek tua, bernama Opung Toba menyapanya : "Ada apa gerangan kamu menemuiku, wahai anak muda?" 

Zuki : "Sebelumnya saya memohon maaf atas kelancanganku memakan buah kelapa milik kakek...." Zuki menceritakan detil kejadian sehingga dia tidak sadar telah menghabiskan buah kelapa yang hanyut terbawa sungai. 

Opung Toba tersenyum mendengar cerita Zuki. Beliau merasa sangat kagum dengan kepolosan dan kejujuran Zuki. Terbersit keinginannya untuk merawat dan mendidik Zuki, pemuda yang hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya sudah lama meninggal. 

Opung Toba : "Untuk menebus kesalahanmu, kamu harus membantu saya mengurus lahan pertanian ini, membersihkan rumah dan melayani kebutuhanku selama dua tahun..." 

Tanpa banyak bertanya, Zuki menyanggupi permintaan Opung Toba. Dia bersyukur diberi kesempatan menempati rumah yang layak, jauh lebih baik dari waktu sebelumnya, saat dia harus tidur di sembarang tempat dengan beratapkan langit. 

Sementara itu, Opung Toba tinggal sendirian, sejak anak satu-satunya pergi melanglang buana ke negeri seberang dan tiada berkabar selama puluhan tahun. Hanya seorang cucu perempuan satu-satunya yang saat ini bekerja di kota, selalu menjenguk dirinya, setahun dua kali. 

Namun, sejak keberadaan Zuki di rumahnya, Opung Toba melarang cucu kesayangannya menjenguk dirinya. Sang cucu merasa heran, namun tidak berani membantah perintah sang kakek tercinta. 

Selama dua tahun, Zuki mendapat banyak ilmu dari Opung Toba, baik tentang ilmu agama, ilmu tentang kehidupan dan cara bercocok tanam yang baik. Opung Toba merasa sangat berbahagia "menemukan" Zuki, pemuda cerdas, santun dan jujur. Dia berencana untuk mewariskan semua yang dimilikinya kepada Zuki. 

Setelah dua tahun "mengabdi", Zuki menanyakan kepada Opung Toba, apakah permintaan maafnya sudah diterima. Zuki hanya ingin memastikan bahwa kesalahannya sudah termaafkan, tanpa berniat sedikitpun meninggalkan rumah Opung Toba. Sebab selama ini, dia merasa sangat betah dan senang menikmati kehidupannya bersama Opung Toba. 

Opung Toba menjawab : "Sebagian sudah saya terima, namun masih ada satu lagi tugas yang harus kamu laksanakan untuk menghapuskan semua kesalahanmu..." 

Zuki : "Apapun yang kakek perintahkan pasti akan saya laksanakan..." 

Opung Toba : "Kamu harus menikah dengan cucu kesayanganku, seorang wanita yang buta, tuli, bisu dan lumpuh..." 

Sedikit terkejut, namun seperti biasanya, Zuki tidak membantah sepatah katapun. Dia menerima amanah yang diberikan oleh Opung Toba. Seminggu kemudian, berlangsunglah akad nikah yang sederhana antara Zuki dan Suci, cucu semata wayang Opung Toba. 

Saat hendak memasuki kamar pengantin, Zuki teringat dengan penjelasan Opung Toba tentang kondisi fisik isterinya, lantas Zuki berdiam diri sejenak dan mulai berdoa : "Ya Tuhan, saya berserah kepada-Mu. Berilah hamba petunjuk. Kuatkanlah jiwaku dalam menghadapi semua kenyataan yang ada. Semua hidupku akan kuserahkan kepada-Mu.." 

Saat membuka pintu kamar, Zuki merasa sangat terkejut. Ada seorang wanita berparas cantik rupawan sedang duduk di atas ranjang. Zuki merasa heran. Kepalanya melongok kesana kemari seperti mencari seseorang. Tidak ada orang lain lagi selain wanita cantik tadi. 

Seketika Zuki melangkah keluar sambil mengucapkan permohonan maaf karena masuk ke kamar yang salah. Lantas Zuki mencoba mencari ke kamar sebelah, namun sosok isterinya yang cacat, tidak juga diketemukan. 

Akhirnya Zuki mendatangi Opung Toba dan menanyakan dimanakah keberadaan isterinya saat ini. 

Zuki : "Kek, dimanakah isteriku berada? Mengapa saya tidak berhasil menemukannya?" 

Opung Toba tersenyum : "Tentu saja, isterimu berada di dalam kamar pengantin... Masak ada di dapur...? Hehehe..." 

Zuki : "Kek, wanita yang berada di kamar pengantin itu tidak sesuai dengan apa yang kakek katakan dulu. Yang di kamar, hanya ada seorang wanita cantik dan anggun dengan bentuk tubuh sempurna..." 

Opung Toba : "Nak Zuki... Kamu salah menduga... Cucuku Suci itu tidak buta, bisu, tuli dan lumpuh. Dia adalah wanita cantik, anggun dan berbudi luhur..." 

Zuki masih merasa kebingungan melihat kenyataan yang ada, lantas bertanya : "Mengapa kakek mengatakan isteriku Suci adalah wanita yang buta, bisu, tuli dan lumpuh...?" 

Opung Toba : "Saya mengatakan Suci buta, karena dia tidak ingin melihat sesuatu hal yang dapat merusak pikirannya. Mata Suci hanya digunakan untuk melihat sisi kebaikan orang lain. Saya mengatakan Suci itu bisu karena Suci tidak ingin bertutur kata tidak sopan dan dapat menyakiti hati orang lain. Cucuku Suci tuli karena dia selalu menutup kedua telinganya dari berita yang mengandung fitnah dan menjelek-jelekkan keburukan orang lain..." 

Zuki mendengarkan dengan seksama penuturan Opung Toba. Mengangguk dan mulai dapat tersenyum lega. 

Opung Toba melanjutkan : "Suci lumpuh karena kakinya tidak ingin melangkah ke tempat-tempat maksiat dan yang dilarang oleh Tuhan.... Sudah mengertikah dirimu, wahai anak muda yang baik...?" 

Akhirnya Zuki mengerti semua maksud ucapan Opung Toba. Setelah Opung Toba menceritakan maksud dan tujuannya memberi hukuman kepadanya dua tahun lalu, Zuki merasa sangat bersyukur. 

Berkat ketulusan, sopan santun dan kejujuran yang selalu dipegangnya, maka semua kesulitan hidup yang dialaminya selama ini berbuah menjadi kemudahan dan kebahagiaan. 

Sobatku yang budiman... Sosok Zuki sudah jarang dijumpai di masa kini. Manusia yang mau berlaku jujur dan bersedia menerima hukuman dan menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Bukan justru melarikan diri meninggalkan jejak kejahatan di mata orang lain. Zuki juga bersedia menerima amanah untuk menikahi wanita yang "buta, bisu, tuli dan lumpuh", namun akhirnya semua "cacat fisik" tersebut hanyalah makna kiasan yang justru bernilai positif. 

Karena kesabaran dan ketulusannya kepada orang lain dan bersedia menerima amanah dari Opung Toba, akhirnya Tuhan memberikan "hadiah" kepada Zuki berupa kenikmatan dan kebahagiaan hidup. 

Sesungguhnya, semua perbuatan baik yang bersumber dari lubuk hati terdalam, pasti akan mendapat imbalan sepadan dari Tuhan, baik secara langsung maupun melalui tangan orang lain. 

Di saat beberapa orang berusaha menjaga amanah (kepercayaan), namun ada segelintir dari kita, justru gemar "bermain-main" dengan amanah. Bertindak culas dan berperilaku tidak jujur. 

Di saat beberapa orang merasa jabatan dan kekayaan merupakan amanah, namun ada segelintir dari kita, justru menganggap amanah adalah peluang terbaik untuk menaikkan status sosial dengan memperkaya diri sendiri. Salam kebajikan #firmanbossini

Cinta Bukan Kewajiban


KEBAJIKAN ( De 德 )Kemarin malam, menutup telepon, seperti biasa saling mengucapkan selamat malam lalu berbaring diatas tempat tidur, tiba – tiba merasa masih kurang mengucapkan satu kalimat, perkataan yang sangat penting, saya bangun dan menelpon kembali, mendengar kamu sedikit terkejut, saya tiba – tiba, berkata dengan canggung dan bodoh: ”Saya ingin memberitahu kamu sesuatu: Saya merasa kita bukan invidu yang sama, juga tidak memiliki hubungan darah, kamu tidak mempunyai kewajiban terhadap saya, oleh sebab itu… terima kasih kamu telah mencintai saya.” 

Saya dengan sepenuh kekuatan menyelesaikan satu per satu kata. Kamu tertawa terkekeh-kekeh, kamu selalu begitu, tampaknya mengejek kebodohan saya, tetapi saya tahu kamu bermaksud baik, saya juga mengerti hal ini.

“Saya menerima terima kasih kamu.” Kamu berkata. “Karena kamu, jadi saya memiliki tanggung jawab, bagaimanapun kamu sebenarnya mempunyai lebih banyak kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan, tapi kamu malah memberikan kesempatan itu kepada saya, jadi saya juga mau berterima kasih kepada kamu.”

“Ah.” Saya pada saat itu tidak tahu bagaimana harus menjawab, tetapi didalam hati sangat senang.

Kami sekali lagi saling mengucapkan selamat malam, kali ini, saya dapat tidur dengan sangat tenang.

Bukankah demikian! Tidak ada cinta orang terhadap diri sendiri ada kewajiban, kita terlalu sering menempatkan cinta seperti ini, perbuatan yang baik sebagai hal yang sudah semestinya demikian, seharusnya pasangan mengirim bunga pada hari Valentine, seharusnya pasangan mengantar dan menjemput di tempat kerja, seharusnya pasangan merawat ketika sakit, seharusnya pasangan menghibur ketika sedih, Pada kenyataannya, tidak ada satu masalah yang “wajib” demikian, lebih banyak memberi perhatian terhadap pengorbanan pihak lain, orang yang benar – benar saling mencintai harus saling memperlakukan pasangannya dengan baik.

Ada satu kali, saya bertanya kepadanya:” bagiamana jika suatu hari perasaan cinta kita sudah tidak ada?” Saya khawatir, takut cinta menghilang terlalu cepat.

Dia masih dengan tertawa menjawab: ”Kita tidak hanya memiliki cinta, juga memiliki budi.”

Betul! Seperti teman saya yang tidak mengerti kenapa ayahnya bisa mencintai ibunya begitu lamanya, sampai pada umur 23 tahun akhirnya dia bertanya kepada ayahnya.

“Masih ada budi! Itu bisa membuat kamu dengan alami setiap saat memikirkan pihak lain.” Oleh sebab itu pasangan tua ini pada akhir bulan masih bersama-sama pergi ke restoran dan nonton film.

Walaupun bersama dia hanya berhubungan lewat telepon sehari sekali karena dinas luar kota, tetapi saya menghargai dan juga berterima kasih, selain itu, siapa yang bisa mempedulikan kamu dengan menelepon ditengah malam? Cinta, jangan terlalu buta, dapat menderita. Jangan menghabiskan banyak waktu untuk melihat diri sendiri, lihat pihak lain, bersama – sama melihat kedepan baru mendapatkan kebahagiaan! Terkadang, juga berterimakasihlah kepada orang yang menemani Anda bersama-sama berjalan!  Salam kebajikan (Sumber)

Tukang Beca Mendidik Anaknya


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Pada suatu Sabtu pagi, sebuah sekolah favorit berencana akan mengadakan pertemuan antara pihak sekolah dengan orang tua dan wali murid. 
Di halaman sekolah telah berkumpul beberapa orang tua dan wali murid. Sebagian dari mereka sengaja datang dengan menggunakan mobil terbaik dan paling mewah. Acara pertemuan ini dimanfaatkan mereka sebagai ajang untuk pamer dan menunjukkan kehebatan masing-masing. 

Pakaian yang digunakan juga serba bermerek dan sangat mahal, lengkap dengan aksesoris emas berlian, jam tangan dan tas branded. 

Dari kejauhan, muncul seorang pria separuh baya sedang mengayuh becak memasuki halaman sekolah. Penumpangnya adalah salah seorang murid di sekolah ini. Tukang becak yang berkulit hitam legam, segera memarkirkan becaknya di antara barisan mobil-mobil mewah. 

Seketika pandangan para orang tua murid tertuju kepada pengemudi becak yang dianggap mereka sosok yang kurang ajar dan tidak tahu malu. Ada yang beteriak mengusirnya, namun pria ini tidak menghiraukan teriakan tersebut. 

Bersama Dora, sang buah hati tercinta, pengemudi becak ini turun dan berjalan melangkah menuju ke ruangan pertemuan. Dora menggandeng tangan ayahnya yang sedikit pincang karena memiliki bentuk kaki yang tidak simetris. 

Sebagian dari orang tua menunjukkan muka mengejek, menghina dan ada yang berbisik-bisik mencibir keberadaan tukang becak beserta anaknya yang juga menuntut ilmu di sekolah ini. 

Di depan ruangan, ayah Dora menanyakan lokasi kamar kecil kepada anaknya. Sebenarnya Dora ingin menuntun ayahnya menuju kamar kecil, namun ditolak sang ayah. 

Ayah Dora : "Kamu masuk duluan ke dalam ruangan, nanti kamu bisa terlambat. Waktunya sudah hampir tiba... Pokoknya kamu tidak boleh terlambat..." 

Seperti biasa, Dora tidak pernah membantah apa yang dikatakan ayahnya. Dia menunggu ayahnya di depan pintu ruangan aula. 

Tidak berapa lama kemudian, terdengar pengumuman agar semua murid dan para orang tua segera masuk ke dalam aula pertemuan. Semua orang berlomba-lomba masuk ke dalam ruangan untuk mendapatkan tempat duduk paling depan. 

Dora masih menunggu ayahnya keluar dari kamar kecil. Namun seorang guru menyuruhnya masuk ke dalam, karena acara akan segera dimulai. Dora yakin ayahnya tidak apa-apa dan bersedia mengikuti arahan sang guru untuk masuk ke dalam ruangan. 

Pada saat guru mulai menutup pintu ruangan dan akan memulai acara, tiba-tiba pintu yang baru saja ditutup terbuka kembali perlahan-lahan. Seorang pria paruh baya, yang tidak lain adalah ayah Dora muncul dari balik pintu. Pakaiannya kumal, ada bekas jahitan dan sebagian warnanya sudah luntur. 

Dengan menganggukkan kepala dan tersenyum, ayah Dora berkata : "Maaf, saya terlambat karena tadi terpaksa pergi ke kamar kecil... Saya mohon maaf atas keterlambatan ini..." 

Kemunculan ayah Dora, cukup menarik perhatian para orang tua murid. Penampilannya yang kumal dan tidak rapi sangat kontras dengan gaya dan penampilan orang tua murid lainnya. 

Guru berkata : "Permisi, Bapak ini siapa yah...?" 

Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang becak itu berkata : "Saya adalah ayahnya Dora..." 

Guru muda itu terlihat kaget, wajahnya seperti menunjukkan ketidakpercayaan. Sang guru segera meminta ayah Dora menandatangani buku tamu atau buku kehadiran orang tua murid. Seketika ayah Dora menggelengkan kepalanya, lalu berkata: "Mohon maaf, Bu... Saya buta huruf, tidak dapat membaca dan menulis..." 

Sebagian orang tua murid mulai menunjukkan sikap mengejek dan yang lainnya ikut-ikutan tertawa mendengar ketidakmampuan ayah Dora untuk menulis di buku tamu. 

Sang guru berkata dengan ramah : "Tidak apa-apa, saya akan membantu Bapak menulis nama dan pekerjaan Bapak. Nanti Bapak tinggal tanda tangan saja." 

Setelah selesai, ayah Dora segera mencari keberadaan Dora di dalam ruangan. Wajah lugunya terlihat kebingungan melihat banyaknya orang tua murid yang menatap ke arahnya. Akhirnya dia menemukan sosok Dora, sedang duduk di bagian belakang ruangan. Sesaat kemudian, beberapa orang guru lainnya menyusul masuk ke dalam ruangan. Salah seorang di antaranya adalah kepala sekolah. 

Sang kepala sekolah menjelaskan maksud pertemuan ini. Acara yang berlangsung di akhir semester, bertepatan dengan pembagian rapor ini bertujuan untuk lebih mengakrabkan hubungan antara pihak sekolah dengan orang tua murid. Agar murid di sekolah ini dapat bertumbuh lebih bagus lagi dengan melibatkan peran orang tua, ketika para murid berada di luar lingkungan sekolah. 

Pihak sekolah ingin mendengarkan pengalaman orang tua murid dalam mendidik anak-anaknya di rumah, sekaligus dapat berbagi dengan orang tua yang lain. Beberapa orang dipanggil untuk maju ke depan ruangan. Sebagian lagi menunjukkan tangan ke atas agar diperbolehkan maju ke depan untuk berbagi pengalaman. Ada yang menceritakan bagaimana mereka mengawasi anak-anaknya dengan sangat ketat, tidak membiarkan anak-anaknya bermain di luar rumah, memaksa mereka mengikuti les pelajaran sekolah dan bahasa asing serta les piano. 

Seorang ibu yang menunjuk tangan agar dapat bercerita, mengungkapkan bagaimana dia sangat menjaga pendidikan anaknya. Memberikan tambahan les private di beberapa tempat walaupun uang lesnya senilai jutaan. 

Ada juga yang membanggakan kemampuannya membelikan buku-buku dari penerbit terkenal dan alat bantu pelajaran yang berharga mahal agar anaknya menjadi pintar dan melek ilmu pengetahuan. Kelihatan sekali, semua orang tua murid berusaha menonjolkan kemampuan masing-masing dengan menyediakan guru les tambahan maupun buku dan peralatan yang mendukung kemajuan pendidikan anaknya. 

Setelah mendengarkan penuturan dari para orang tua murid, lantas kepala sekolah mulai berbicara lagi : "Terima kasih atas sharing pengalamannya. Dalam kesempatan ini saya ingin memperkenalkan orang tua dari murid teladan dan memperoleh juara umum. Hampir semua pelajaran bernilai sempurna. Selain memiliki prestasi akademik yang bagus, murid teladan ini juga memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik, tidak pernah melanggar peraturan sekolah dan senang membantu teman-temannya yang kesulitan. Dan satu lagi, dia tidak pernah absen atau terlambat masuk sekolah. Mari kita sambut orang tua Dora, sang murid teladan..!!!" 

Ayah Dora terkejut mendengar namanya dipanggil oleh kepala sekolah, apalagi dipersilakan maju ke depan untuk menceritakan pengalaman dalam mendidik Dora. 

Dengan sedikit kikuk, ayah Dora bangkit dari tempat duduk. Kepalanya sedikit tertunduk, seperti tidak sanggup melihat tatapan mata mereka yang hadir ke dalam ruangan. Berjalan dengan perlahan, sedikit pincang namun tetap melangkah hingga ke depan. 

Seluruh mata tertuju kepadanya. Sebagian merasa tidak percaya, bagaimana seorang tukang becak mampu mendidik anaknya menjadi juara umum dan murid teladan di sekolah ini. Apalagi melihat dengan jelas, bahwa ayah Dora ternyata seorang buta huruf. 

Sebagian lagi, justru merasa malu karena sempat mencibir dan mengejek ayah Dora saat beliau memarkirkan becak bututnya di halaman sekolah. Beberapa orang tua murid yang lain, ada yang berdiri dan memberikan tepukan tangan dan menunjukkan jari jempol ke arah ayah Dora. 

Kepala sekolah menjabat tangan ayah Dora dengan hangat, mengucapkan selamat, lalu berkata : "Mohon kesediaan bapak untuk menceritakan pengalaman mendidik Dora sehingga menjadi murid teladan di sekolah ini...." 

Ayah Dora sudah berani melihat ke depan setelah mendapat jabatan penyemangat dari kepala sekolah. 

Ayah Dora mulai bercerita : "Sebenarnya saya malu menceritakan kondisi keluarga kami. Saya takut Dora merasa berkecil hati dan tidak percaya diri karena kami berasal dari keluarga miskin. Saya hanyalah seorang penarik becak. Dengan kondisi kaki yang sedikit pincang, saya berusaha untuk menghidupi kami berdua, terutama mendukung pendidikan Dora hingga ke jenjang paling tinggi..." 

Ayah Dora menarik nafas, lalu berkata lagi : "Sepeninggal ibunda Dora, saya bertindak sebagai ayah sekaligus ibu Dora. Saya sangat suka melihat Dora belajar dan mengerjakan PR. Sepulangnya saya menarik becak, saya pasti akan duduk di samping Dora, menemaninya mengerjakan PR, walaupun kadang badan ini terasa amat lelah. Saya ingin Dora dapat merasakan kehadiran ayahnya, tidak merasa kesepian...." 

Semua orang mendengarkan dengan seksama cerita yang amat menggugah perasaan itu. Seorang orang tua murid menyeletuk : "Bukankah bapak buta huruf? Apakah bapak mengerti jika Dora bertanya tentang pelajaran yang tidak dimengertinya?" Ayah Dora : "Saya tidak mengerti..." Ibu yang berpakaian mewah itu bertanya lagi : "Jika bapak tidak mengerti, bagaimana bapak tahu kalau Dora mengerjakan PR-nya dengan benar?" 

Ayah Dora : "Jika Dora mengerjakan tugasnya dengan cepat, berarti dia pasti bisa mengerjakan dengan benar. Jika tiba-tiba Dora meninggalkan PR-nya dan berjalan ke belakang, membuat teh manis untuk kami berdua, lalu membuka daun jendela, maka saya tahu, pasti tugasnya susah dan kemungkinan Dora tidak sanggup mengerjakannya. Saya hanya dapat menghiburnya, kerjakan semampu kamu saja. Besok sepulang dari sekolah, ayah akan membawa kamu ke tempat Bang Udin..." 

Sejenak mengelap peluh yang jatuh di dahinya, lalu berkata : "Saya berterima kasih kepada Bang Udin, seorang penjual buku bekas, yang bersedia mencarikan buku yang diperlukan Dora saat kesulitan mengerjakan PR-nya. Dan lagi, sebagian besar buku pelajaran Dora saat ini, dipinjamkan oleh beliau. Nanti setelah tidak digunakan lagi saat naik kelas, baru akan dikembalikan kepada Bang Udin untuk dijual kepada orang lain..." 

Ayah Dora melihat ke arah Dora, ingin memastikan bahwa apa yang diceritakannya tidak sampai membuat puteri semata wayangnya merasa malu. Dora tersenyum. 

Ayah Dora melanjutkan : "Saya hanya seorang tukang becak, tidak sanggup memberikan uang jajan yang banyak. Dora mengerti dengan kesulitan ayahnya. Dora tidak pernah pergi ke warnet, tidak pernah berbelanja atau jajan yang macam-macam. Dora sering membantu mengepel, mencuci piring dan baju, serta rajin membersihkan rumah kami yang sederhana. Setiap hari libur, saya selalu mengajaknya ke taman atau ke daerah pedesaan. Saat inilah, saya merasakan amat bahagia melihat Dora bermain dengan gembira..." 

Ayah Dora : "Hingga suatu ketika, kami melewati kompleks perumahan mewah. Saya menanyakan kepada Dora, apakah dia ingin tinggal di rumah itu dan ingin mengendarai mobil kemana-mana, bukan melulu dengan becak butut ayahnya? Dora mengangguk dengan cepat. Saya tersenyum dan berkata kepada Dora, kamu pasti akan meraih impianmu jika kamu rajin dan tekun belajar tanpa mengenal lelah. Kamu harus berusaha menjadi yang terbaik di sekolahmu, walaupun saat ini kamu bukanlah anak orang kaya...." 

Tiba-tiba setetes air mata bergulir dari pelupuk mata ayah Dora. Dia tidak sanggup lagi melanjutkan cerita ini. Lalu ayah Dora membungkukkan badannya untuk memberikan hormat kepada guru dan para orang tua murid. 

Diawali oleh beberapa orang tua murid yang sejak awal memberi dukungan kepada ayah Dora, akhirnya seluruh orang tua murid dan guru memberikan aplaus dan tepuk tangan meriah kepada ayah Dora. Mereka merasa sangat tersentuh dengan pengalaman ayah Dora mendidik anaknya hingga menjadi murid kebanggaan sekolah. 

Sobatku yang budiman... Tidak selamanya, dengan menyediakan fasilitas dan segala kemewahan akan mampu mendidik seorang anak menjadi anak teladan. Bukan juga dengan menyediakan guru les atau kakak pengasuh yang banyak untuk mereka. Atau menyekolahkan mereka ke sekolah terbaik dan bertarif mahal. 

Banyak orang tua salah dalam mendidik anak, menyerahkan seluruh kegiatan mendidik anaknya kepada pihak lain, tanpa mau ikut campur sedikitpun. Mereka hanya ingin mendengar saat anak mereka berhasil meraih prestasi, tanpa pernah mau ikut serta bersama sang anak dalam mengarungi kesulitan, yang merupakan proses alami menuju ke gerbang kesuksesan. 

Sesungguhnya yang paling dibutuhkan seorang anak adalah keberadaan, kedekatan dan perhatian orang tua di saat mereka sedang mengerjakan sesuatu hal, terutama di saat mereka sedang mengalami kesulitan. Salam kebajikan  #firmanbossini

Dewa - Dewi

Legenda Tiongkok

PEPATAH TIONGKOK

KESETIAAN / ZHONG

TAHU MALU / CHI

KESEDERHANAAN / LIAN

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011 - 2016. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger