|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)..Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri 1438H, Mohon Maaf Lahir & Bathin....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda
Latest Post

Dia Dibuang Ibunya, Ditelantarkan Ayah, Dirawat Neneknya. Tak Disangka 26 Tahun Kemudian Dia Mencetak Box Office 2.4 Miliar Dolar!

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Minggu, 26 November 2017 | 19.58

KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Saat membicarakan sosok Jing Boran, kebanyakan orang mengenalnya sebagai salah satu idola remaja yang sedang naik daun.

Namun, tidak banyak yang tahu kalau dibalik ketampanan dan kesuksesannya, sebenarnya sebelum menjadi idola remaja, hari-hari yang dilalui Boran amatlah getir terutama semasa kanak-kanak.

Dia jauh lebih menderita dibanding anak-anak miskin lainnya.

Jing Boran lahir dalam keluarga yang tidak harmonis, hubungan antara orang tua tidak pernah akur, sering bertengkar.

Saat usia Boran baru genap satu bulan, ibunya mencampakkannya dan kemudian kabur dari rumah.

Lalu ayahnya menceraikannya, Boran pun resmi di bawah perawatan sang ayah.

Boran baru mengontak ibunya lagi di usianya yang ke-7 tahun.

Namun, ayahnya tidak mau merawatnya bahkan tidak peduli padanya.

Akhirnya, Boran pun dititipkan dan dibesarkan oleh kakek dan neneknya sejak kecil, terutama neneknya yang sangat menyayanginya.

Kondisi keluarga mereka sangat menderita saat itu, dan bertambah susah harus merawat Boran lagi.

Untungnya Boran bisa mengerti kondisi kakek neneknya yang memang susah, sehingga tidak merepotkan neneknya.

Dia sering membantu pekerjaan neneknya. Setelah besar, Boran masuk ke sekolah seni, neneknya bekerja keras mencari uang untuk biaya sekolah Boran.

Kasih sayang neneknya inilah yang membuat Boran bertekat belajar dengan tekun demi membalas budi sang nenek dan agar neneknya tidak perlu lagi bersusah payah serta bisa menikmati masa senjanya kelak.

Kerja kerasnya membuahkan hasil. Pada 2007, teman sekolahnya mengajak Boran pergi makan BBQ, siapa sangka di sana dia bertemu dengan sutradara yang menyukainya dan langsung merekomendasikannya untuk ikut serta dalam ajang pemilihan bakat.

Boran memanfaatkan kesempatan besar itu. Di usianya yang baru 18 tahun saat itu, dia berhasil melejit menjadi juara pertama dan seketika menjadi idola remaja.

Kemudian, melalui kerja kerasnya, dia mulai menapakkan karirnya di dunia perfilman.

Bermain dalam film Hot Summer Days bersama actor senior lainnya seperti Jacky Cheung, Liu Ruoying, Wu Yanzu, Yang Ying dan artis senior lainnya.

Dia mendapat penghargaan sebagai artis pendatang baru terbaik.

Film-film Boran berikutnya juga menghasilkan nilai yang baik.

Kemudian, ia membintangi film “LOVE O2O”, “Lost and Lonely”, “The Lost Tomb” dan film-film lainnya.

Belakangan, Boran memiliki kesempatan menggantikan seorang artis lainnya dan berperan sebagai pemeran utama pria di usianya yang ke-26 tahun.

Tak disangka dalam film ini dia mencetak box office hingga 2,4 miliar dolar!

Banyak orang mengatakan Boran sangatlah beruntung karena tanpa diduga mendapatkan prestasi seperti ini.

Namun melihat kehidupan dan perjuangannya dari kecil sampai sekarang, bukan hanya beruntung, namun dia memang benar-benar berjuang. Dan yang pasti tanpa kerja keras dan kekuatan, dari mana datangnya keberuntungan?

Melihat sepanjang lika-liku yang dijalaninya selama bertahun-tahun, wajah Boran selalu dipenuhi dengan sinar mentari.

Dia mengatakan bahwa banyak orang yang perlu dia syukuri, termasuk ayahnya yang sangat tidak bertanggung jawab, tapi dia tidak menyalahkan orang tuanya.

Justeru dia sangat berbakti, terutama berbakti kepada neneknya yang menyayangi dan mencintai serta telah membesarkannya.

“Nenek telah memberi saya cinta kasih yang tulus, membantu pertumbuhan saya, dan nenek jualah yang memberi saya kekuatan untuk terus maju, sehingga saya baru bisa meraih kesuksesan hari ini,” kata Jing Boran, penyanyi dan artis film kelahiran 1989. Salam kebajikan (Sumber)

Dia Diusir oleh Ibunya Masih Kecil. Setelah Kaya Raya Dia Mempermalukan Ibunya. Hingga Dia Tersadar Lalu Bersujud Memanggil, “Ibu” Saat Celana Wanita itu Dirabanya, Tak Ada Kaki!


KEBAJIKAN ( De 德 ) Menurut cerita, ada seorang nenek di desa Nan-an. Warga desa suka memanggilnya Nenek Huang karena si nenek tidak punya nama.

Setiap pagi, nenek Huang selalu duduk melamun di bawah pohon besar gerbang desa, melihat orang-orang yang berlalu lalang, dan terkadang air matanya berlinang.

Saat muda, bisa dikata nenek Huang adalah seorang gadis desa yang cantik di desa Nan-an.

Dia kemudian menikah dengan sosok seorang pria yang jujur, tapi malang, suaminya tewas dihantam batu saat mendaki gunung.
ILUSTRASI. (Internet)

Dia meninggalkan nenek Huang dan sepasang putri kembarnya dan hidup menderita.

Anak laki-laki nenek Huang bernama Ah-Jun, konon katanya sudah kaya dan makmur di kota.

Setiap kali pulang ke kampung selalu diiringi beberapa mobil yang membuka jalan untuknya, benar-benar hebat dan berwibawa.

Namun, nenek Huang tidak menikmati sedikit pun semua kemewahan ini, karena sepuluh tahun yang lalu, dia telah memberikan Ah-Jun sebagai anak angkat keluarga Zhao di desa, jadi anaknya bermarga Zhao mengikuti marga keluarga angkatnya!

Ah-Jun juga tahu, nenek Huang adalah ibu kandungnya. Tetapi selama puluhan tahun ini, dimana setiap lewat dari desa Nan-an, rasa bencinya semakin dalam begitu melihat nenek Huang.

Saat itu, usianya baru tiga tahun, ayahnya meninggal, lalu ibunya membawanya dan hidup bersama dengan kakak perempuannya.

Malam itu, ia masih ingat ibunya memeluk mereka berdua, dan dengan lembut berkata, “Kelak, kita bertiga tidak boleh berpisah lagi, bagaimana pun, ibu akan merawat dan membesarkan kalian!”

Saat itu, nenek Huang bekerja serabutan, agar bisa mendapatkan lebih banyak uang.

Dia juga mengambil alih pekerjaan laki-laki, dan sudah pasti banyak lepuh darah di badannya.

Saat itu, Ah-jun bersumpah, akan membahagiakan ibunya kelak setelah dewasa.

Namun, sumpah itu akhirnya lenyap dua bulan kemudian. Itu adalah malam yang diiringi dengan hujan lebat.
ILUSTRASI. (Internet)

Dia mendengar suara ibunya yang tegas, “Ibu tidak mau kalian lagi, ibu akan memberikan kalian kepada orang lain! Karena ibu tidak suka dengan kalian!”

Sejak saat itu, hati Ah-Jun pun merasa hancur dan mati seketika, untungnya suami-isteri keluarga Zhao sangat baik padanya, meski hidup susah, tapi akhirnya mereka merawat dan membesarkan Ah jun hingga dewasa.

Hari itu, Ah Jun kembali dari kota. Kali ini, dia sangat gembira, karena dia datang kali ini mau menjemput suami-isteri Zhao untuk tinggal di kota, dan mungkin untuk selanjutnya dia tidak akan pernah kembali lagi ke kampung halamannya.

Ketika melewati desa Nan-an, Ah jun melihat nenek Huang dan kakak perempuannya duduk di bawah pohon.

Tiba-tiba dia mendapat ide, dia hentikan mobinya dan sengaja membawa keluar suami-isteri Zhao, kemudian Ah Jun berlutut dan berkata, “Ayah-ibu, selama puluhan tahun ini telah menyusahkan ayah-ibu yang telah membesarkan Ah Jun, mulai sekarang, ayah-ibu tinggallah bersamaku di kota untuk menikmati masa bahagia kalian. Sekarang tiba saatnya bagi Ah Jun yang tidak berbakti ini merawat kalian!”

Suami-isteri Zhao agak malu mendengarnya, mereka mendongak kepala dan melihat ke nenek Huang yang duduk di bawah pohon besar dan berkata, “Ah Jun, jangan, begitu, nenek Huang itu juga ibumu, mengapa kamu sengaja bersikap begitu kepadanya?”

Ah Jun menggelengkan kepalanya, kemudian meoleh ke bawah pohon besar itu dan berteriak dari kejauhan.

“Kak, ayo kita pergi, pergilah bersamaku ke kota untuk menikmati hidup nyaman, untuk apa sih kamu menjaga wanita tua tak tahu diri ini? Apa kamu lupa bagaimana ia mengusir kita puluhan tahun silam itu!”

Dan dari kejauhan, nenek Huang terlihat mendorong kakak perempuan Ah Jun.

Sesaat kemudian, kakak Ah Jun tiba-tiba berjalan ke arah Ah Jun yang menyunggingkan senyum kemenangan, dan membuka pintu mobil untuk kakaknya.

Tiba-tiba tangan sang kakak melayang ke muka Ah Jun dan “plak” terdengar suara tamparan yang cukup keras.

Ah Jun merasa mukanya berdesir panas seketika ditampar kakaknya. Dan belum sempat Ah Jun buka suara, sang kakak langsung menimpalinya.

“Betapa bencinya kamu sama wanita tua itu? Kamu jangan lupa, dia telah merawatmu tiga tahun!”

Ah Jun tdak terima diperlakukan seperti itu oleh kakaknya, ”Memangnya kenapa, tiga tahun kemudian dia mencampakkan aku! Memberikan kepada orang lain!”

Kakak Ah Jun tiba-tiba menarik Ah Jun berjalan ke depan, dan berhenti di depan nenek Huang.

Sang kakak mengangkat celana nenek Huang, tapi tidak terlihat kakinya.

“Apa menurutmu ibu benar-benar mau mencampakkanmu? Puluhan tahun yang lalu, demi kita berdua, ibu banting tulang melakukan pekerjaan kasar laki-laki! Jika bukan karena kakinya patah, apa ibu akan meninggalkan kita? Apa kamu tahu kompensasi untuk kakinya yang patah, semuanya itu ibu berikan kepada orangtua angkat kita, agar kita bisa makan dengan baik!”

Ah Jun terhenyak dan pikirannya hampa, diam seribu bahasa, dia mendengarkan dengan serius cerita kakaknya.

“Kamu kira ibu mau berjalan dengan susah payah ke gerbang desa dan duduk di bawah pohon itu hanya untuk bersantai? Sepasang kakinya telah patah! Dia hanya tidak mau melewatkan kesempatan dengan duduk disini agar bisa memandangmu setiap kali lewat di gerbang desa ini meski dari kejauhan. Semasa kecil, ibu selalu cemas setiap kali melihat kamu terjatuh saat bermain di luar, terkadang kamu malah memarahi ibu tidak berguna saat terjatuh, tapi kamu tidak tahu, dia…orang yang meninggalkanmu itu sudah tak pernah bisa berdiri lagi selamanya!” Cerita kakak Ah Jun dengan mata berlinang.

Ah Jun langsung jatuh berlutut di atas tanah, meraba-raba celana nenek Huang yang kosong tak berkaki, dan suaranya bergema seketika saat memanggil “IBU”. Salam kebajikan (Sumber)

Jaga Mulut! Sebaiknya Hindarilah Kata-kata Ini! Sekilas Terlihat Sangat Sederhana, Tapi Sangat Sedikit Orang yang Bisa Menjaga Mulutnya


KEBAJIKAN ( De 德 ) Kata-kata bisa digunakan untuk memuji juga bisa melukai hati seseorang, bahkan jauh lebih menyakitkan daripada serangan fisik.

Jadi sebaiknya pertimbangkan dulu matang-matang sebelum terlanjur mengutarakannya, terutama paling pantang membicarakan tentang benar atau salah orang lain.

Menjaga mulut masing-masing memang sekilas terlihat mudah, tapi sangat sedikit orang yang benar-benar bisa menjaga mulutnya (ucapan).

1. Jangan menilai tentang keluarga orang lain, karena itu tidak ada hubungannya sedikit pun dengan Anda.

2. Jangan menilai pengetahuan orang lain, karena yang tak pernah kurang di dunia adalah pengetahuan.

3. Jangan menilai tentang baik buruknya orang lain, karena mereka tidak mempengaruhi Anda makan.

4. Jangan menilai perilaku orang lain, karena Anda belum tentu lebih mulia darinya.

5. Jangan menilai siapa pun, meski itu adalah orang yang kamu anggap rendah.

6. Jangan menyakiti orang lain, karena akan ada balasannya cepat atau lambat.

7. Jangan membahas akhlak siapa yang baik dan buruk, perilaku tergantung individu masing-masing, orang lain adalah cermin dari diri Anda, yang mencerminan kekurangan diri sendiri, latihlah diri sendiri dalam kekurangan itu.

8. Jangan berlebihan dalam menonjolkan diri, ketahuilah tak ada seorang pun yang lebih lemah dari Anda. Singkatnya, bersikaplah rendah diri/sederhana.

9. Jangan mengandalkan orang lain, karena hidup itu keras, siapa pun ingin hidup dengan nyaman.

10. Gunakanlah uang dengan bijak, karena besok mungkin Anda akan menganggur.

11. Jangan bersikap arogan dan angkuh, karena besok Anda mungkin akan kehilangan power/kekuasaan/pengaruh.

12. Jangan mudah naik darah/marah-marah semaunya, tidak ada yang berutang padamu. Kita sering mengeluh tentang hidup yang tidak adil pada kita, padahal hidup itu tidak tahu siapa kita.

13. Tidak perlu menjelaskan tentang sikap kita, itu adalah pilihan yang bijak.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali ingin mencoba menjelaskan sesuatu.

Namun, begitu dijelaskan, justeru ditemukan betapa lemahnya penjelasan apa pun itu bentuknya, bahkan semakin gelap.

Gunung tidak menjelaskan ketinggiannya, tapi tidak mempengaruhi wujudnya yang menjulang tinggi.

Laut tidak menjelaskan kedalamannya, tapi tidak mempengaruhinya menampung segalanya.

Bumi tidak menjelaskan ketebalannya, tapi tidak ada yang bisa menggantikan posisinya sebagai pijakan dari segala benda.

Kita tahu tentang prinsip kebenaran dalam bersikap, tapi berapa banyak orang yang bisa melakukannya?

Mungkin setelah menyimak artikel ini, anda bisa merasakan penempaan diri yang tidak memadai.

Sedikit bicara dan lebih banyak bekerja, itu baru menunjukkan tinggi-rendahnya tingkat pencapaian individu masing-masing.

Jadi jagalah baik-baik mulut/ucapan diri masing-masing, ada beberapa hal yang seyogianya tidak perlu kita bicarakan semaunya!

Tidak ada yang menganggapmu bisu kalau tidak bicara, dan biarkan saja kalau pun ada. Ingat! Jagalah mulut (kita) masing-masing! Salam kebajikan (Sumber)

Selamat Ibu Mertua, Anda Menang, Anda Berhasil Menghancurkan Rumah Tangga Kami dengan Alasan Rumah!

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Kamis, 23 November 2017 | 20.15


KEBAJIKAN (De 德) -  Rumah itu bukan keluarga, tapi dengan adanya rumah baru ada yang namanya keluarga.

Cerita ini diadopsi berdasarkan sebuah kisah nyata, kisah real estat orang pertama.

Saya Benny, usia 31 tahun dan telah menikah tiga tahun. Saya berasal dari desa, setelah lulus delapan tahun lalu, saya ke sebuah kota kecil.

Namun, di kota kecil ini sama sekali tidak dapat menemukan pekerjaan yang layak.

Saya menyewa rumah tinggal, bekerja tidak tetap, dan sepenuhnya mengikuti tes penempatan kerja di institusi pemerintah.

Tahun ketiga akhirnya diterima di Departemen Jamsostek daerah setempat.

Di bawah perkenalan rekan sekantor, saya berkenalan dengan Ratna, dia adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit.

Dia cantik, keluarganya juga lumayan baik secara ekonomi, kedua orang tua Ratna adalah pegawai negeri.

Setelah tahu dengan kondisi keluargaku, Ratna tidak serta memandang rendah padaku, kami merasa cocok, tak lama kemudian kami pun menjalin hubungan serius.

Namun, ibunya Ratna menentang hubungan kami, tidak hanya sekali menemuiku, menyuruh saya untuk tidak berkhayal.

Tapi isteriku tidak peduli, ia bersikeras tetap bersamaku. Saya sendiri terus terang tidak punya rumah, juga tidak punya uang, tapi isteri saya juga tidak peduli.

Namun, terhalang oleh pagar ibu mertua yang menuntutku harus membeli rumah milik sendiri secara tunai !

Orang tua saya adalah petani, semua tabungan yang ada juga tidak lebih dari 200 juta rupiah, sementara harga rumah di kota kabupaten 6 juta per meter persegi, belum termasuk dekorasi dan furniture.

Saya berusaha mencari pinjaman dimana-mana, tapi hanya berhasil mendapatkan pinjaman 60 juta.

Isteri saya sendiri punya simpanan sekitar 40 juta dari hasil kerjanya selama beberapa tahun, kalau dikalkulasi juga ada sekitar 300 juta!

Tapi ini adalah hal yang tidak mungkin. Uang segitu masih jauh dari cukup, belum lagi biaya pengeluaran lainnya.

Ratna berusaha membicarakan hal itu dengan ibunya, tapi ia juga hanya bisa menggerutu dan menangis, hingga akhirnya ibu mertua bersedia kompromi, beli secara angsur, tapi rumah itu harus atas nama Ratna isteriku!

Saya tidak punya pendapat, tapi orang tua saya tidak setuju. Mereka merasa besannya sengaja mempersulit.

Mereka juga bilang pernikahan ini seharusnya tidak terjadi, hari-harimu selanjutnya nanti akan menderita.

Tapi sikap saya sangat tegas, apalagi isteri saya sendiri yang juga mengeluarkan uang untuk biaya dekorasi dan perabotan, akhirnya orang tua saya setuju.

Setelah berselisih pendapat mengenai hal itu, aku dan Ratna akhirnya menikah.

Satu tahun setelah menikah, kami dikaruniai seorang anak. Ibu mertua kemudian tinggal bersama kami, merawat isteriku.

Entah mengapa segala apa pun yang saya lakukan selalu tidak bisa memuaskan ibu mertua, hanya bisa pasrah dan bersabar.

Bayi kami sekarang berusia 2 tahun, ingin sekali saya meminta tolong ibuku untuk menjaga cucunya, sebagai nenek, ia tidak pernah sekali pun nginap barang satu malam di rumahku selama dua tahun ini. 

Begitu ibuku datang menjenguk cucunya, ibu mertuaku langsung memandangnya dengan sinis, dan ibuku sadar dengan posisiku, dia tidak ingin menimbulkan masalah buat saya, akhirnya ia hanya meletakkan barang bawaannya lalu pulang.

Beberapa waktu lalu, saat makan malam, saya memberanikan diri berkata pada ibu mertua.

“Ibu, sejak Andika lahir sampai sekarang, selalu diurus sama ibu, kupikir ibu pasti capek, gimana kalau aku minta ibu kesini ikut bantu merawat Andika selama beberapa hari, dan ibu bisa istirahat dulu.”

Mendengar perkataanku, ibu mertua hanya diam dan berkata, “Tidak usah, meski capek juga biar Andika aku yang urus, pendidikan harus dimulai sejak kecil, jangan sampai menerima pendidikan yang gagal, nanti kalau sudah besar seperti … ”

Isteriku mencoba menarik ibunya, mencegahnya berkata lebih lanjut, dan ibu mertuaku pun diam tidak mengatakan apa-apa lagi.

Aku pun emosi mendengar sindirannya, jelas-jelas ibu mertua juga sekaligus menyindir ibuku!
Aku pun meninggikan suara dan berkata, “Saya memang tidak berguna, tapi itu bukan kesalahan ibuku. Anda makilah saya tak perlu bicara yang tidak-tidak tentang ibuku!”

Ibu mertua langsung menyahutku dengan suara lantang, “Kenapa memangnya?
Mendidik anak yang tidak berguna saja banyak alasan! Bukankah maksudmu memang menginginkan saya pergi, agar orangtuamu bisa berkuasa disini!”

Dengar baik-baik ya, jangan harap! Ini rumah milik kami! Anak Anda seharusnya ikut nama marga kami!

Istriku Ratna berusaha menarik ibunya, tapi ibu mertuaku tidak peduli, terus saja ngomong.

Istri saya bagaimana cara menariknya, dia mengabaikan apapun terus berlanjut, “Anda adalah menantu yang tinggal di rumah mertua ! Apa kamu tidak menyadarinya ”

Mendengar perkataan ibu mertua yang semakin keterlaluan, emosiku pun memuncak!

Aku berdiri dan berteriak, “Selama ini saya selalu mengalah! Sejak awal anda sudah menghina keluarga kami, saya tahu! Rumah itu atas nama Ratna, tapi kami yang membayar 230 juta rupiah untuk uang mukanya! Begitu juga angsuran, kami yang menyicilnya selama ini, Kenapa anda bilang saya tinggal di rumah mertua! Anda yang meminta angsuran rumah itu atas nama Ratna anakmu, dan kami sudah mengalah! Tapi tak disangka anda semakin tak tahu diri! Tidak menganggapku sama sekali! Dan menyepelehkan orangtuaku! Aku sudah muak dengan sikapmu!”

Kemudian tanpa peduli dengan bujukan Ratna, isteriku, aku pun dengan tegas meninggalkan tempat yang dinamakan “Keluarga” ini. Salam kebajikan (Sumber)

Dewa - Dewi

Legenda Tiongkok

PEPATAH TIONGKOK

KESETIAAN / ZHONG

TAHU MALU / CHI

KESEDERHANAAN / LIAN

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011 - 2016. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger