Welcome To My Website.......Nine Emperor Gods Festival (九皇大帝) Terima Kasih atas kunjungan Anda Di Website Kebajikan ( De 德 )
|
Loading...
Latest Post

Melakukan Kesalahan

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Selasa, 30 September 2014 | 12.00

 

KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Pada jaman dinasti Wei Utara (北魏), hiduplah seorang jenderal yang bernama Zhen Chen (甄琛). Semasa muda, Zhen Chen sangat gemar bermain catur.

Suatu ketika hari telah gelap, akan tetapi kegemaran bermain caturnya belum juga terpuaskan. Zhen Chen menyuruh seorang bujang tua memegangi lilin sebagai penerangan untuk melanjutkan bermain catur.

Karena telah lelah bekerja sepanjang hari, sang bujang tua kehilangan konsentrasi. Tanpa sengaja, ia menjatuhkan lilin yang dipegangnya. Zhen Chen menjadi murka dan ingin memukul sang bujang tua.

Dengan penuh rasa bersalah, sang bujang tua berkata, ”Jika anda menyuruh saya memegangi lilin sepanjang malam sebagai penerangan untuk belajar, saya akan dengan senang hati melakukannya. Akan tetapi jika anda menyuruh saya memeganggi lilin sebagai penerangan untuk memuaskan kegemaran bermain catur dan masih ingin memukul. Ini sungguh tidak dapat ditoleransi.

Mendengar perkataan dari sang bujang tua, Zhen Chen merasa sangat menyesal. Sejak saat itu, ia menjadi tekun belajar. Pada akhirnya dapat menjadi seorang jenderal besar yang sangat dihormati orang.

Pada jaman dinasti Song (宋), masa pemerintahan Song Zhen Zong (宋真宗) hiduplah 2 orang pejabat. Seorang bernama Wang Dan (王旦), seorang yang lain bernama Kou Zhun (寇准). Wang Dan adalah seorang pejabat daerah Zhong Shu (中书), sedangkan Kou Zhun adalah seorang pejabat di pusat dokumentasi kerajaan (枢密院).

Kedua orang pejabat ini memiliki sifat yang berbeda. Wang Dan dikenal murah hati, sedangkan Kou Zhun jujur dan keras. Di hadapan baginda Song Zhen Zong, Kou Zhun seringkali membuka kelemahan Wang Dan. Akan tetapi, Wang Dan justru sering memuji kelebihan Kou Zhun.

Saat baginda memberitahukan perbuatan Kou Zhun, Wang Dan dengan tenang berkata, ”Saya pastilah memiliki banyak kekurangan. Kou Zhun dapat menunjukkan kesalahan saya, berarti membuktikan jika ia adalah seorang pejabat yang setia.”

Suatu ketika, daerah Zhong Shu mengirimkan dokumen ke pusat dokumentasi kerajaan. Sayang, ada sedikit kesalahan dalam menyusunnya. Kou Zhun segera melaporkan kesalahan Wang Dan kepada baginda Song Zhen Zong. Atas pengaduan dari Kou Zhun, Wang Dan mendapatkan hukuman.

Pada kesempatan lain, bagian pusat dokumentasi kerajaan juga melakukan kesalahan yang sama. Para bawahan Wang Dan ingin menggunakan kesempatan ini untuk membalas dendam, akan tetapi tidak diperkenankan oleh Wang Dan.

Wang Dan mengembalikan dokumen tersebut kepada Kou Zhun untuk diperbaiki. Mendapat perlakuan demikian, Kou Zhun merasa menyesal. Dengan bersoja, Kou Zhun berkata kepada Wang Dan, ”Anda adalah seorang yang penuh toleransi.”

Dalam kitab Di Zi Gui tertulis, Guo neng gai, gui yu wu, Tang yan shi, zeng yi gu, Fan shi ren, jie xu ai, Tian tong fu, di tong zai (过能改,归于无, 倘掩饰,增一辜, 凡是人, 皆须爱, 天同覆,地同载).

Setiap orang pastilah pernah melakukan kesalahan. Jadikanlah suatu kesalahan sebagai bahan introspeksi diri. Bila dapat tidak mengulangi kesalahan yang sama baru dapat dikatakan berhasil memperbaiki diri. Mencari alasan untuk menutupi kesalahan yang telah dilakukan hanya akan menjadikan diri sendiri merugi.

Setiap orang harus memiliki sifat saling memperhatikan dan saling menyayangi. Kita semua hidup di bawah langit dan di atas bumi yang sama. Salam kebajikan (Xie Zheng Ming)

Setelah Belajar, Menyimpan Buku Dengan Baik


KEBAJIKAN (De 德) -  Semenjak kecil, Cheng Min (程敏) telah menjadi seorang anak yatim. Ia tinggal bersama sang ibu. Untuk bertahan hidup, sang ibu bekerja sebagai buruh cuci dan tukang jahit. Karena hidup pas-pasan, sang ibu tidak mampu menyekolahkan Cheng Min.

Untuk meringankan beban sang ibu, Cheng Min bekerja sebagai buruh kasar. Kebetulan, tetangga sebelah tempat Cheng Min bekerja adalah sebuah sekolah privat. Saat sedang bekerja, Cheng Min dapat mendengarkan suara pelajaran sedang berlangsung.

Ketika merapihkan kayu bakar, ia dapat ikut menirukan suara para murid sedang belajar. Selang beberapa waktu kemudian, sang guru sekolah privat mengetahui keadaan Cheng Min yang sebenarnya. Cheng Min tidak dapat bersekolah karena harus bekerja dan merawat sang ibu.

Sang guru memberinya buku dan peralatan menulis untuk digunakan di rumah. Beliau berkata kepada Cheng Min, ”Jika mengalami kesulitan dalam belajar, kau boleh datang menemui saya untuk berdiskusi.”

Berkat bantuan sang guru, pagi hari sembari bekerja Cheng Min dapat menghafal apa yang telah dipelajari. Malam harinya berlatih menulis.

Berkat usaha kerasnya selama beberapa tahun, Cheng Min berhasil lolos ujian dan diangkat oleh baginda raja menjadi seorang pejabat. Setelah menjadi seorang pejabat, Cheng Min tetap seperti sedia kala, bersikap hemat-giat belajar dan sangat menyayangi buku. Cheng Min menjadi teladan bagi semua orang termasuk keluarga dan bawahannya.

Dalam kitab Di Zi Gui tertulis, "Lie dian ji, you ding chu, Du kan bi, huan yuan chu, Sui you ji, juan shu qi, You que sun, jiu bu zhi (列典籍,有定处, 读看毕,还原处, 虽有急,卷束齐, 有缺损,就补之)."

Simpanlah buku dengan baik dan rapih, tatalah buku berdasarkan jenis atau golongannya. Setelah selesai membaca sebuah buku, kembalikanlah pada letak semula, dengan demikian kelak kita akan mudah mencarinya untuk dibaca kembali.

Meskipun dalam keadaan yang tergesa-gesa, tetap harus merapikan buku. Ketika mendapati ada buku yang rusak, harus segera diperbaiki agar tidak menjadi lebih rusak, sehingga buku tersebut masih dapat digunakan kembali. Salam kebajikan (Xie Zheng Ming)

Terusan Besar Pembawa Kehancuran

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Senin, 29 September 2014 | 14.00


KEBAJIKAN (De 德) -  Sekitar 1.400 tahun silam, berkuasalah Kaisar Sui Yang (605-616) di Tiongkok yang suka hidup bersenang-senang. Sejak naik takhta, dari pagi hingga malam hanya minum arak dan bersenang-senang bersama selir-selirnya, tidak peduli urusan lain. Suatu saat kaisar merasa bosan, lalu terbayang akan pemandangan Jiangnan (selatan sungai Yang Zhi) nan indah mempesona dan hendak ke sana, untuk bersenang-senang.

Di saat itu, seorang pejabat tinggi istana yang paling pintar menjilat, mengajukan ide, mengatakan bahwa dengan naik perahu ke Jiangnan, tidak saja dapat menikmati pemandangan yang indah, lagi pula sangat nyaman dan aman. Namun, sebenarnya tidak ada sungai dari arah utara mengalir ke selatan.

"Tidak ada sungai yang demikian, "kata kaisar.

"Paduka dapat memerintahkan orang untuk membuka jalur di atas daratan!" ujar penjilat tersebut.

Kaisar serakah dan suka berfoya-foya itu akhirnya menginstruksikan untuk segera membuka sebuah terusan besar, dari ibukota Luo Yang menembus ke kota Jiangdu di selatan (kira-kira dari Provinsi Henan sampai Provinsi Jiangshu sekarang ini). Bahkan harus menggunakan emas untuk membuat perahu naga yang mewah seperti istana di atas sungai.

Waktu itu, sejumlah besar menteri dengan rasa cemas menasihati, "Paduka, membuka terusan bukanlah seperti menggali selokan, itu harus mengerahkan tenaga dan biaya yang tak terhitung banyaknya, juga bisa menyengsarakan rakyat jelata!"

Namun, kaisar tidak peduli, dan akhirnya dimulailah proyek penggalian sungai yang maha besar itu. Prajurit yang kejam menangkap orang di mana-mana untuk kerja berat, ratusan ribu manusia bagaikan sapi dan kuda dengan susah payah menggali tanah, memindahkan batu, memancang tiang.

Sejumlah orang, karena siang malam berlumur lumpur, kakinya membusuk, tetap dipaksa bekerja, dan setiap hari pasti ada sejumlah orang yang mati akibat kelelahan atau sakit. Terusan ini bagaikan seekor naga jahat, seinci demi seinci membentang ke selatan, dan sesuap demi sesuap menelan banyak orang.

Setelah tergali hingga sampai di Yong Qiu, Provinsi Henan, muncul kejadian aneh. Suatu pagi, seorang mandor dengan perasaan takut melapor pada pejabat pengawas, "Di depan terhalang sebuah kuil kecil, dan di belakang kuil itu ada makam kuno yang telah berusia ribuan tahun. Konon, di dalam makam itu terkubur seorang petapa yang telah menjadi dewa. Lebih baik proyek terusan menjauh dari jembatan kecil dan makam kuno itu, jangan menyentuhnya!"

Pengawas menjawab dengan kasar, "Perintah Kaisar, siapa yang berani melanggar, peduli amat makam siapa, singkirkan!"

Dengan rasa takut dan terpaksa, para pekerja selama beberapa hari telah merobohkan kuil kecil itu. Ketika akan menggali makam kuno itu, tiba-tiba terdengar suara ledakan dahsyat, makam kuno itu merekah dan tampak sebuah lubang besar, hitam pekat seperti menembus ke pusat bumi, dan berembus angin dari alam lain yang dinginnya bukan main.

Pengawas berpikir, "Jika memang yang terkubur di dalam makam itu adalah petapa yang telah menjadi dewa, siapa tahu masih ada benda pusaka lainnya. Jika bisa dipersembahkan kepada Kaisar, bukankah kesempatan emas untuk menjadi kaya dan naik pangkat?"

Namun, tidak ada yang mau turun ke dalam. Prajurit mulai mencambuki pekerja, menyuruh mereka turun. Semua berdiri gemetar di depan lubang, tidak berani masuk.

Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring mengatakan, "Jangan cambuk lagi, biarlah saya masuk untuk melihat-lihat!"

Orang yang berkata itu bernama Di Qu Xie, ia berbadan tegap, nyalinya juga besar, biasanya ia sering melawan prajurit-prajurit yang congkak, jahat serta kejam itu, sekarang melihat semua orang disiksa ia merasa kasihan, maka dengan jantan berani maju ke depan. Para prajurit menggunakan beberapa tali, baru menurunkan Di Qu Xie ke dasar lubang. Ternyata di dasar lubang ada sebuah terowongan.

Setelah menarik napas, ia kemudian berjalan dengan meraba-raba di tengah kegelapan cukup lama, terdengar suara mencicit di depannya, tiba-tiba berkelebat bayangan putih yang sangat besar. Ternyata seekor tikus putih yang besarnya seperti sapi, ia bercicit nyaring, matanya memancarkan sinar kebengisan.

Dengan bergegas Di Qu Xie melompat ke belakang, tikus putih menyambar ke tempat kosong, namun tidak mengejarnya. Ternyata kedua kaki tikus yang besar itu terikat rantai besi yang besar dan berat, tidak berdaya melepaskannya. Di Qu Xie segera angkat kaki lari, dan tertatih-tatih dalam perjalanan, tiba-tiba memasuki sebuah ruangan yang semuanya tersusun dari batu besar. Di dalam terangnya bukan main, menyilaukan mata.

Dia melihat sebuah rumah, di mana duduk seorang pendeta Tao tua berjubah merah, janggutnya yang seputih salju terjulur hingga beberapa meter di atas lantai.

Ketika ia akan maju memberi hormat, pendeta tua tiba-tiba berseru, "Pengawal! Bawa Ahma kemari!"

Dan segera ada empat pendekar yang laksana pengawal Dewa, dengan sekuat tenaga membawa masuk tikus putih tadi. Di Qu Xie bergegas bersembunyi di balik tiang batu, menahan napas, memelototkan matanya dan dengan terkejut menyaksikan segalanya.

Pendeta tua berkata lantang, "Siluman tikus terkutuk! Saya melepaskan seluruh bulu kulit kamu untuk menjadi kaisar di dunia manusia, agar supaya kamu mengurus negara dengan baik, namun tak disangka kamu hanya tahu hidup bersenang-senang, dan mencelakai begitu banyak orang."

Dengan garang tikus putih melotot, lalu menaikkan ekor panjangnya yang bagaikan pentung besi menyapu sembarangan. Pendeta tua dengan sangat marah berkata, "Ahma, saya peringatkan. Jika lain kali sewenang-wenang lagi, menyiksa rakyat yang tidak berdosa, akan kugunakan tali putih menjeratmu hingga mati!"

Setelah selesai berkata, dan saat kebut ekor kuda yang berada di dalam genggaman tangan pendeta tua diayunkan, segumpal awan putih tiba-tiba menutupi segala yang berada di depan mata.

Tidak berapa lama kemudian, awan putih berpencaran, Di Qu Xie mendapati ia seorang diri berdiri di dalam terowongan yang gelap gulita, pendeta tua, tikus putih, atau pengawal yang dilihatnya semuanya telah lenyap. Ia mengusap-usap matanya, tiba-tiba melihat di depannya seperti ada setitik cahaya, lantas merangkak berjalan ke sana, sembari terus memikirkan kejadian aneh yang baru saja terjadi, ia terus memikirkan apa yang baru saja dilihatnya.

"Ahma? Seperti pernah dengar nama kecil Sang Kaisar juga Ahma, ini sebenarnya apa yang telah terjadi?" pikir Di Qu Xie dalam hati bertanya-tanya.

Tanpa disadarinya Di Qu Xie telah berjalan keluar ke sebuah mulut lubang.

Terangnya matahari membuat ia tidak bisa membuka matanya, dan tidak lama kemudian, ia baru mengetahui secara jelas dirinya berdiri di sebuah puncak gunung. Di sekitar hutan tampak seseorang pencari kayu bakar. Di Qu Xie segera berjalan ke sana dan bertanya padanya tempat manakah ini?

Pencari kayu berkata, "Ini adalah gunung Shao Shi".

Jarak gu eh itu, dan segera turun gunung, bergegas pulang kembali ke Yong Qiu.

Di perjalanan terlihat sawah ladang dipenuhi tumbuhan liar, sekelompok rakyat nung Shao Shi ke Yong Qiu sekitar ratusan li jauhnya, jika menunggang kuda juga perlu beberapa hari, baru bisa sampai. Ia tidak menghiraukan lagi atas peristiwa an

mengungsi, orang kurus kering. Sebenarnya apa yang terjadi?

Dalam perjalanan Di Qu Xie kesasar lagi, lalu bertanya pada kakek tua di jalan, "Ke Yong Qiu arah mana?"

Dengan terkejut kakek tua berkata, "Yong Qiu? Yong Qiu sudah lama diduduki perompak, apa kamu mau mati?"

"Tetapi, beberapa jam yang lalu saya masih berada di Yong Qiu menggali terusan, mana ada perompak!?" kata Di Qu Xie yang benar-benar tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi?

Namun, kakek tua itu berkata lagi, "Gali terusan apa, apa kamu bermimpi? Beberapa tahun yang lalu, terusannya sudah jadi."

Kakek tua menggeleng-gelengkan kepala, "Ah, jika membicarakan terusan membuat orang pedih. Tidak tahu Kaisar itu jelmaan dari siluman pengacau apa, jutaan orang telah mati dalam penggalian terusan itu. Terusan telah dapat dibangun, dan ia bisa bermain sepuasnya, namun beberapa tahun, sawah juga tidak ada yang menggarap, di setiap tempat gagal panen, yang kuat menjadi perampok, sedang yang lemah, mengungsi, sangat menyedihkan sekali!"

Ia kembali ke kampung halaman, namun telah berubah menjadi padang belantara, kemudian ke hutan terpencil dan menetap di sana. Selama beberapa tahun tinggal di hutan. Suatu malam, Di Qu Xie kedatangan seorang pejalan kaki yang lewat, keduanya lalu berbincang-bincang.

Tuan rumah manarik napas panjang dan bertanya, "Apakah Kaisar masih hidup bersenang-senang? Ia tidak mendapat simpati dan dukungan rakyat, dan saya lihat kekuasaan Dinasti Sui, cepat atau lambat akan hancur!"

Orang itu terkejut, "Dinasti Sui apa, sekarang sudah masanya Dinasti Tang Raya! Kaisar yang tamak dan serakah itu, seluruh rakyat begitu membencinya, bagaimana mungkin negara dapat bertahan lama? Tidak lama setelah terusan selesai setelah selama 6 tahun dibangun, pendekar dan kesatria dari segala penjuru angkat senjata melawannya. Tapi ia tak peduli, pergi lagi ke Jiangnan bertamasya dan bersenang-senang. Di tengah perjalanan, seorang bawahan yang berkhianat, dengan menggunakan seutas tali dengan bengis menjeratnya hingga mati, memang pantas dibunuh!"

"Oh! Ternyata waktu itu saya masuk ke dunia kayangan, dan kejadian yang terdengar itu, kini semuanya telah terbukti," kata Di Qu Xie dalam hati.

Sambil memandangi langit, ia berkata sendiri, "Ternyata Kaisar Sui Yang adalah jelmaan dari siluman tikus putih itu! Ia hanya memikirkan untuk hidup bersenang-senang, menggali terusan besar, dan mencelakai begitu banyak orang. Akibatnya, benar- benar dijerat tali putih hingga mati." Salam kebajikan

Chun cai yu tian cai (蠢才与天才) Si Dungu dan Si Genius


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Pada sebuah kesempatan, seorang penggemar olahraga sepeda yang telah memiliki pengalaman 80000 km menceritakan pengalamannya ketika belajar sepeda kali pertama. Kisahnya sangat menyedihkan.

Sejak kecil ia terlahir sebagai anak yang bernyali kecil dan kurang percaya diri. Selama beberapa bulan sang kakak membantunya belajar bersepeda, akan tetapi tidak kunjung berhasil. Baru saja sang kakak memapahnya mengendarai sepeda, ia telah kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Kejadian ini terjadi berulang kali, tidak ada perbaikan.

Sang kakak dengan jengkel berkata kepadanya, ”Kau adalah orang yang paling dungu di dunia.”

Kegagalan dalam belajar bersepeda juga berdampak terhadap kemampuan akademiknya. Ia yang dulunya memiliki nilai raport menonjol bagus, tiba-tiba anjlok drastis. Baik para guru maupun teman-teman sekelas sangat mengkuatirkan keadaannya. Sang ibu dan ayah juga merasa heran mengapa anaknya yang begitu berprestasi tidak bisa mengendarai sepeda?

Ia melanjutkan ceritanya, ”Jika tidak karena seorang guru yang baik hati, selamanya saya tidak akan bisa bersepeda. Beliau adalah guru SMP saya, guru terbaik yang pernah saya temui,” tuturnya.

Pada sebuah liburan musim semi, secara kebetulan sang guru memboncengnya ke luar kota untuk bertamasya. Saat beristirahat di tengah jalan, sang guru dengan lembut membujuknya untuk belajar bersepeda.


“Kayuhlah sepeda ini, saya akan memapahmu! Kamu memiliki keunggulan dalam banyak hal, termasuk juga bersepeda!”

Intonasi dan suara sang guru yang memberikan dorongan telah membangkitkan rasa percaya dirinya. Ia menuruti perkataan sang guru untuk mencoba mengendarai sepeda. Sang guru senantiasa berada di belakang untuk memapahnya agar tidak terjatuh. Makin lama, ia makin kencang dalam mengayuh sepeda. 


Sang guru perlahan-lahan melepaskan tangannya, tidak lagi berada di belakang sepeda memapah. Tiba-tiba ia menoleh ke belakang dan mendapati sang guru tidak lagi memapahnya. Ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke tanah. Begitu terjatuh, ia segera bangun dan mengangkat sepeda. Kali ini ia bisa tersenyum, tidak lagi merasa bersedih seperti dulu.

Sang guru berkata, ”Bersepeda adalah hal yang mudah. Karena kau adalah seorang anak yang genius, segala hal dapat dilakukan dengan mudah. Begitu pula dengan anak-anak yang lain, mereka adalah anak-anak yang jenius.”

Ia mengakhiri kisahnya dengan memberi sebuah kesimpulan. “Tidak peduli apakah saya adalah anak jenius/bukan. Saya merasa sangat beruntung, ketika berusia belasan tahun dapat bertemu dengan seorang guru yang mengatakan jika saya adalah seorang yang genius. 


Saya telah mengelilingi banyak daerah, menjumpai banyak sekali anak. Sayangnya, sangat sedikit yang bernasib seperti saya. Mereka sering kali dikatakan sebagai seorang yang dungu, mereka yang sebenarnya genius menjadi dungu.” Salam kebajikan (Xie Zheng Ming)

Manfaat Luar Biasa Bangun Pagi


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Bangun pagi sebelum Matahari terbit selain kita bisa berolahraga untuk kesehatan tubuh, dengan pikiran yang masih segar adalah waktu yang tepat untuk menyusun rencana pada hari tersebut. 

Jika bangun setelah matahari terbit, kita tidak hanya kehilangan keindahan langit di pagi hari, tetapi juga kehilangan manfaat kesehatan tertentu dan juga manfaat-manfaat yang lain.

Berikut adalah daftar kecil dari manfaat dan kegembiraan yang didapatkan dari bangun pagi :

  1. Bangun pagi menyelaraskan tubuh dengan seluruh alam. Ritme sirkadian abadi ini memungkinkan jam tubuh Anda berfungsi secara efisien.
  2. Bangun pagi akan memberikan Anda perasaan pengasuhan diri, mengisi Anda dengan energi positif. Dalam sebuah penelitian Harvard tahun 2010, ahli biologi Christoph Randler melakukan survei pada 367 mahasiswa. Ia menanyakan waktu kapan mereka merasa paling energik dan bagaimana kemauan dan kemampuan mereka dalam mengambil tindakan yang mengubah situasi demi keuntungan mereka. Persentase lebih tinggi dari sekelompok orang bangun pagi yang setuju dengan pernyataan proaktif seperti, "Saya menghabiskan waktu mengidentifikasi tujuan jangka panjang diri saya" dan "Saya merasa bertanggungjawab membuatnya terwujud".
  3. Anda dapat meluangkan waktu selama satu atau dua jam, yang dapat Anda gunakan untuk mem-berikan pikiran, tubuh, dan jiwa pada perhatian mereka butuhkan.
  4. Tekanan rutinitas pada pagi hari belum menyerang, sehingga Anda dapat mengambil keputusan yang lebih baik dan merasa lebih tenang.
Seandainya ada satu perubahan kebiasaan yang benar-benar bisa mengubah kondisi kesehatan dan kesejahteraan Anda, maka itu adalah bangun pagi. Namun tentu saja, tantangannya adalah untuk dapat bangun sebelum Matahari terbit!

Berikut adalah beberapa saran yang dapat membantu Anda :

1. Mulailah dengan menulis resolusi perubahan
Ini bukanlah kontrak yang terikat oleh hukum, tapi janji yang Anda buat pada diri sendiri, dengan komitmen penuh menghormatinya. Katakan kepada diri sendiri bahwa Anda akan membuat perubahan dari manusia malam menjadi manusia pagi, karena Anda berhutang pada diri sendiri untuk hidup sehat, hidup yang berarti. 


Hal ini penting, karena bangun pada saat fajar menyingsing bukanlah suatu kebiasaan yang mudah untuk ditumbuhkan, Anda perlu mendorong diri sendiri. Kemauan yang kuat dan pengetahuan mendalam tentang besarnya manfaat pikiran tubuh, akan sangat membantu.

2. Membuat perubahan secara bertahap

Pendekatan drastis atau dramatis, tidak perlu dan tidak praktis untuk dilakukan. Jika Anda terbiasa bangun pukul 8 pagi, cobalah untuk bangun 15 menit lebih awal di keesokan harinya. Lakukan metode pemunduran 15 menit secara bertahap hingga Anda terbiasa bangun pada pukul 5 pagi. Cobalah tidur sedikit lebih awal dari biasanya. Mampukah Anda mematikan komputer dan TV, serta menyingkirkan ponsel. Buatlah pengaturan yang tenang di kamar tidur Anda untuk memudahkan tertidur.

3. Isi pagi hari dengan hal yang Anda suka lakukan

Jika Anda mengawali hari dengan membalas email yang masuk, maka pesona bangun lebih awal hanya akan terasa membosankan. Ini adalah waktu ekstra yang telah Anda buat untuk diri sendiri! Gunakan untuk menikmatinya! Saya menemukan aliran kreatif saya lebih halus saat ini, jadi saya menulis di blog, atau membuat penegasan yang mengatur nada untuk hari yang positif. 


Anda bisa berjalan-jalan di udara terbuka, meneguk secangkir kopi dengan santai, atau hanya berendam dalam keheningan yang indah. Melakukan lari pagi atau yoga, mendengarkan kicauan burung menyambut hari ... jam emas dipenuhi dengan kemungkinan yang indah!

4. Selesaikan pekerjaan

Sebagian dari kita benar-benar membutuhkan beberapa jam tambahan untuk meringankan beban. Jika Anda termasuk di antaranya, dengan segala cara selesaikan pekerjaan saat ini, Anda akan memiliki konsentrasi dan kecepatan yang lebih baik. Anda juga bisa memilah lemari, membersihkan laci, merapikan pakaian Anda, dan merencanakan sarapan yang sehat. Semua ini akan memberikan rasa bahagia. Cara yang baik untuk mengawali hari! Salam kebajikan (epochtimes)

Warna Bambu


KEBENARAN ( De 德 ) -  Seorang kaya mengundang seorang pelukis ternama untuk melukis lukisan bambu.

Orang Kaya : Wah, lukisan bambunya sangat indah. Sayang warna bambu-nya merah. Salah.

Pelukis : Lantas, kamu mau bambu-mu warna apa ??

Orang Kaya : Hitam donk.

Pelukis : Siapa yang pernah tahu warna bambu hitam.

Kita sering menunjukkan kesalahan orang lain. Tetapi kesimpulan kita belum tentu juga benar. Salam kebajikan

PEPATAH CINA

CINTA

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2014. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger