Hasil Perhitungan Cepat Pemilu Berdasarkan Cyrus Network dan CSIS : PDIP 18,90%, Golkar 14,30%,Gerindra 11,80%, Demokrat 9,70%, PKB 9,20%, PAN 7,50%, PPP 6,70%, PKS 6,90%, Nasdem 6,90%, Hanura 5,40%, PBB 1,60%, dan PKPI 1,10%....Terima Kasih atas kunjungan Anda Di Web Site Kebajikan ( De 德 )
|
Loading...
Latest Post

Renungan Malam

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Minggu, 20 April 2014 | 21.18


Kebajikan (De 德) -   Sebelum kita mengucapkan tuduhan atau penghakiman terhadap seseorang, mengapa tak terlebih dahulu kita berkaca diri sudahkah kita jauh lebih baik?

Karena bisa saja seseorang yang sibuk mengurusi kesalahan orang lain, dia bahkan tak punya waktu untuk dirinya sendiri..

STOP berbicara kelemahan orang lain terutama keburukannya..Belajar bahwa dalam kehidupan berlaku bertutur berpikir bertindak dengan BIJAK akan membuat kita semua terlepas dari marabahaya.

Jangan bertindak sesuka hati, jangan bekerja seorang diri, hanya dengan menyatukan kekuatan orang banyak, urusan besar dapat diselesaikan

Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.

Ego pribadi manusia sering memaksa kita untuk bertindak semaunya, walaupun keliru, demi gengsi diterobos juga.

Itu sebabnya orang yang sendirian tingkat kegagalannya lebih tinggi ketimbang orang yang bekerja dalam team.

Bila mau menjadi besar dan berhasil, masuklah dalam team semakin banyak orang yang ada semakin banyak input dan nasihat yang kita terima. Salam kebajikan (Penulis : Lulu)

Akibat Berzinah Tuhan Tidak Berkenan


Kebajikan ( De 德 ) -   Pada masa Dinasti Song Selatan, di Jiangzhou hiduplah seorang cendekiawan yang bernama Pan Yu. Ayahnya, Pan Lang, telah pensiun dari jabatannya sebagai residen Changsha di Hunan.

Setelah mendapat urutan pertama dalam ujian kekaisaran tingkat provinsi, Pan Yu berencana untuk pamit pada sang ayah dan menyewa perahu untuk perjalanannya ke Lin’an (sekarang Hangzhou) untuk mengikuti ujian tingkat nasional.

Malam sebelum keberangkatannya, sang ayah bermimpi melihat sekelompok penabuh tambur, pemusik dan barisan yang membawa panji warna-warni dan papan horizonal yang bertuliskan nama orang yang mendapat urutan pertama dalam ujian negara tingkat nasional.

Ternyata itu adalah Pan Yu. Keesokan paginya, Pang Lang memanggil anaknya dan memberitahunya mengenai mimpi tersebut. Karana yakin akan keberhasilannya dalam ujian, Pan Yu berangkat dengan bersemangat, menyanyi dan minum sepanjang malam.
 

Saat tiba di Lin’an beberapa hari kemudian, ia masuk ke dalam sebuah penginapan kecil. Pemilik penginapan menyambutnya dan bertanya, “Apakah kau Tuan Pan?”

“Ya,” jawab Pan Yu, “Bagaimana kau tahu?”

“Dewa penjaga setempat muncul dalam mimpiku semalam dan berkata, “Tuan Pan, yang akan mendapat urutan pertama dalam ujian akan tiba di sini esok siang. Uruslah ia baik-baik. Tuan adalah orang itu. Jika Tuan tank menganggap tempat ini buruk, mohon tinggalah di sini.”

“Baiklah. Jika apa yang kaukatakan itu menjadi kenyataan, aku akan membayarmu dua kali lipat.” Pan Yu lalu menyuruh pelayannya untuk membawa masuk barang-barangnya ke dalam penginapan.


Pemilik penginapan memiliki seorang putri cantik berusia 16 tahun. Setelah mendengar ayahnya bercerita tentang mimpinya yaitu Tuan Pan mendapat urutan pertama dalam ujian negara, dia mengintip melalui jendela dan terkesan akan ketampanannya. 


Namun dia merasa sedih tak bisa menemukan cara untuk mengungkapkan perasaannya.
Suatu hari, Tuan Pan pergi ke dapur mengambil air untuk tintanya karena pelayannya sedang pergi. Di sana, ia bertemu dengan putri pemilik penginapan. 


Dia tersenyum sebelum meninggalkan Pan Yu. Pan Yu langsung jatuh cinta sampai menyerahkan dua buah cincin emas dan jepit rambut giok pada si pelayan dan menyuruhnya menemukan saat yang tepat untuk menyatakan perasaannya pada si gadis dan mengatur janji bertemu.

Si gadis muda menerima hadiah tersebut dengan senang dan sebagai balasannya, dia memberi sebuah kantong bersulam yang selalu dia bawa di pinggangnya, dan berjanji untuk datang ke ruang belajar Tuan Pan saat ayahnya pergi. Selama beberapa hari berturut-turut, Tuan Pan menunggunya dengan sia-sia.


Setelah ujian selesai, pemilik penginapan mentraktir Pan Yu makan malam, dan mereka minum sampai pemilik penginapan mabuk. Baru saja Pan Yu hendak pergi tidur, mendadak ia mendengar suara ketukan lembut di pintu kamarnya.

Pan Yu membuka pintu dan melihat ternyata yang mengetuk adalah si gadis muda. Tanpa berbasa-basi, ia segera membawanya ke kamar dan bercinta dengannya. Di tengah kegembiraan yang luar biasa itu, ia berjanji bahwa setelah berhasil mengurkir namanya di dunia, ia akan mengambil gadis itu sebagai istri.


Malam itu, Tuan Pan Lang kembali bermimpi melihat penabuh tambur, pemusik dan pembawa panji yang bertuliskan nama kandidat yang sukses mendapat nomor satu, tapi mereka berjalan melewati pintu rumahnya. Pan Lang berterik, “Panji dan papan ini adalah anak keluargaku!”

“Tidak,” jawab si pembawa papan.

Pan Lang berlari mengejar mereka untuk melihat papan itu lebih jelas. Ternyata, kali ini di papan tersebut tertulis nama lain. Salah seorang pembawa papan berkata, “Anakmu, Pan Yu, ditakdirkan untuk menjadi nomor satu sebagai zhuangyuan (seorang jinshi urutan pertama dalam ujian tingkat istana, saat kaisar menanyai mereka yang telah lulus ujian negara tingkat nasional), namun karena ia melakukan tindakan asusila, Shang Di, Tuhan Yang Maha Agung, memerintahkan agar kariernya diberikan pada orang lain.”
 

Pan Lang terbangun karena kaget, tanpa tahu apakah ia harus percaya pada mimpi tersebut atau tidak. Tak lama, hasil ujian pun diumumkan. Pan Lang langsung memeriksa daftar kandidat yang lulus. Benar saja, si zhuangyuan ternyata adalah yang namanya tertulis di papan dalam mimpinya tersebut. Anaknya telah gagal.

Begitu Pan Yu kembali, sang ayah bertanya apa yang telah ia lakukan. Karena tak mampu berbohong, dengan segan Pan Yu mengakui semuanya. Ayah dan anak itu lalu menghela napas.

Setelah setahun lebih berlalu, Pan Yu tetap merindukan gadis putri pemilik penginapan itu, namun saat ia mengirimkan comblang dengan membawa mas kawin yang mewah, ternyata si gadis sudah menikah. Pan Yu lalu mengikuti ujian lagi sampai beberapa kali, namun semuanya gagal dan ia pun meninggal karena patah hati.
 

Demi kesenangan sesaat, Ia menghancurkan kesempatan seumur hidup. Nabi Kongzi bersabda, Yang tidak susila jangan dilihat, Yang tidak susila jangan didengar, Yang tidak susila jangan dibicarakan, Yang tidak susila jangan dilakukan (Lun Yu XII, 1:2) Salam kebajikan

Ji Zha Menggantung Pedang (季札挂劍)


Kebajikan ( De 德 ) -   Menjadi orang haruslah dapat dipercaya. Dapat memegang perkataan adalah prinsip dasar sebagai manusia. Melakukan hal apapun kepercayaan memegang peranan penting. 
 
Seseorang yang telah kehilangan kepercayaan, maka tidak dapat diterima oleh masyarakat, melangkah satu langkah pun sulit. Kepercayaan lebih penting daripada nyawa, karena itu dalam pergaulan sehari-hari seseorang itu harus dapat dipercaya.

Ji Zha, dari Negara Wu dikenal juga sebagai Ji Zi karena dia mendapat gelar mulia di kotapraja Yan Ling. Suatu saat ketika dalam perjalanannya menuju Negara Lu untuk melaksanakan tugas sebagai duta negara, Ji Zha dari Negara Wu singgah di ibukota negara Xu untuk menemui sahabat baiknya yaitu Raja Xu.

Pertemuan mereka berlangsung akrab. Raja Xu menyambut tamunya dengan pelayanan sempurna. Mereka menghabiskan malam sambil bercerita banyak hal. Dalam pertemuan itu, Raja Xu melihat pedang Ji Zha yang sangat bagus. Pedang itu menarik perhatiannya dan dalam hati ingin punya pedang seperti itu.
 
Negara Wu memang terkenal sebagai pembuat pedang yang bagus dan negeri itu telah berhasil "menguasai dunia" dengan kehebatan pedang mereka. Melihat bagaimana kagumnya Raja Xu akan pedangnya, Ji Zha berjanji suatu saat akan menghadiahkan pedang itu kepada sahabatnya tersebut.

Pada kunjungannya kali ini hal itu tak mungkin ia lakukan karena pedang itu masih ia  perlukan untuk tugasnya ke Negara Lu, karena pedang adalah sebagai lambang resmi yang harus dipakai sebagai duta negara.

Ji Zha berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya ke beberapa negara lainnya dan berterima kasih kepada Raja Xu. Ji Zha mengatakan bahwa setelah dia nanti merampungkan tugasnya, maka ia akan kembali lagi ke Negara Xu dan berjanji akan memberikan pedang pusakanya kepada Raja Xu. Akhirnya Tuan rumah pun melepasnya dengan senang hati.

Setelah beberapa bulan lamanya, Ji Zha selesai merampungkan tugasnya di Negara Lu dan beberapa negara lainnya. Dalam perjalanan pulang, ia singgah lagi di negara Xu. Tetapi alangkah terkejutnya ia ketika tidak lagi menemukan sahabatnya.

Raja Wu wafat mendadak karena serangan jantung, setelah kepergian Ji Zha beberapa lama. Sebelum wafat, dia terus merindukan kedatangan sahabatnya yang sudah berjanji padanya untuk memberikan pedang pusakanya.
 
Ji Zha merasa sangat sedih dan segera memacu kudanya untuk pergi ke kuburan Raja Wu. Setibanya di makam Raja Wu, dia berlutut dan menundukkan kepalanya sebagai tanda berdukacita yang dalam.

Semakin lama dia semakin sedih karena janjinya untuk memberikan pedangnya kepada sahabatnya tidak dapat terlaksana. Sebagai gantinya, ia memberikan pedang itu kepada putra Raja Xu.

Namun, anak itu menolak, "Ayah tidak meninggalkan wasiat bahwa saya harus menerima pedang pusaka. Oleh karena itu saya tidak berani menerimanya. Mohon maaf."
 
Di sisi makam Raja Wu, ada tumbuh sebuah pohon. "Melihat pohon ini, saya seperti melihat Raja Xu. Karena itu, saya gantung di sini saja pedang ini. Walaupun Raja Xu telah wafat, tetapi di hati saya masih ada janji. Semoga ia yang sudah di surga bisa melihat pedang ini dan mengingat janji saya padanya," kata Ji Zha.

Orang-orang yang menyaksikan hal tersebut terbengong-bengong dan menanyakan kepada Ji Zha apa maksudnya. Ji Zha menjawab, "Dulu, waktu berkunjung kemari saya telah berjanji untuk memberikan pedang ini kepada Raja Xu, tapi oleh karena sekarang Raja Xu sudah mangkat, maka saya tetap harus menepati janji saya padanya dan tidak boleh tidak dapat dipercaya.

Kisah Ji Zha yang menggantungkan pedangnya di pohon dekat makam sahabatnya segera menyebar ke seantero Negeri Tiongkok. Hal itu kemudian dijadikan orang sebagai perlambang janji yang harus ditepati. Salam kebajikan

Tabib Baik Tidak Mengingat Dendam Lama

 

Kebajikan ( De 德 ) -  Dahulu kala, ada seorang tabib yang memiliki keahlian yang tinggi dan hati yang baik, bernama Pan Kui. Dalam membantu orang menyembuhkan penyakit, selalu menggunakan obat yang baik walaupun mahal.

Terhadap orang miskin yang memeriksakan penyakit dan tidak mampu membayar biaya obat, bukan saja ia tidak menerima uang mereka sepeser pun, ada kalanya masih mengambil kantong sendiri memberikan uang dan makanan untuk pasien miskin.

Suatu kali wabah penyakit merebak, dari pagi hingga malam, tabib Pan Kui pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk mengobati orang sakit. Tidak peduli kaya atau miskin, dipandang sama, dengan seksama  dan penuh perhatian mengandalkan tangan ajaibnya untuk menyembuhkan penyakit dan berhasil menyembuhkan penyakit, dan berhasil menyembuhkan banyak orang yang hampir meninggal.

Saat itu di sebelah rumahnya, seorang tetangga bernama Zhao juga terkena wabah penyakit. Melihat nyawanya hampir melayang, ia menyuruh anaknya cepat-capat mengundang tabib Pan untuk datang mengobatinya, hati anaknya ragu-ragu cukup lama, lalu dengan keberatan berkata, "Ayah, kita pernah berselisih dengannya, juga pernah berperkara di pengadilan, coba pikir apakah ia mau datang mengobati penyakit ayah?"

Ayahnya yang sudah tidak berdaya berkata, "Penyakit saya sudah tidak bisa dibiarkan, walaupun kita dua keluarga ada dendam, saya pikir ia tidak akan mempermasalahkan. Jangan menghabiskan waktu, cepat undang ia datang! Pasti ia tidak akan mencelakakan saya."

Tabib Pan datang dengan membawa tas obat, tidak hanya mengobatinya dengan seksama, juga menghibur pasien, seolah tidak pernah terjadi hal yang tidak menggembirakan di antara mereka, tidak lama kemudian tetangga Zhao itu sembuh.

Tabib Pan yang begitu lapang dada dan pemaaf, memiliki hati yang sangat mulia yang tidak mengingat dendam lama! Perilaku kebajikan seperti ini bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan semua orang. Karena itu, setiap saat Tuhan tentunya secara diam-diam melindunginya, sehingga ketiga anaknya berhasil menjadi pejabat tinggi. Salam kebajikan

Hidup Adalah Belajar


Kebajikan (De 德) -  Jika kita ingin tahu apakah seseorang itu pintar tidaknya, lihat dia senang atau tidaknya untuk belajar. (如果我们想知道一个人是否聪明,就看他爱不爱学习)

Hidup adalah belajar, sampai dimana kita jalan, maka harus belajar sampai dimana. Perjalanan hidup kita tidak terhitung panjangnya, yang telah dilalui itulah pengalaman.

Kesulitan dan kebahagiaan tiada habisnya, semua perjalanan kita dimulai dari langkah pertama.

Langkah pertama dan seterusnya selalu dilalui dengan penuh hati-hati, agar tidak pernah salah jalan. Jangan pernah merasa sudah pinter tak perlu belajar, karena belajar dalam hidup tidak pernah habis atau tamat.

Dimana kita merasa kita mampu atau sudah tidak perlu belajar, disana penyakit sok pintar timbul di diri kita, yang tiada pernah ada obatnya.

Orang yang terus belajar adalah orang yang berani menyambut tantangan hidup untuk sukses. Orang yang menyerah untuk belajar adalah orang yang hidupnya akan berujung penyesalan.

Kepahitan dalam belajar adalah obat kehidupan menuju sukses. Orang sukses selalu belajar dari pengalaman hidupnya dan tak pernah menyerah.

Daripada menaklukkan ratusan puncak gunung, lebih baik menaklukkan kegelapan batin kita (.征服百岳山,不如征服無明關). Conquering ignorance is superior to conquering a hundred peaks. - Master Cheng Yen - Salam kebajikan (Sumber/Aiti)

Masalah Memicu Berkat


Kebajikan (De 德) -  Dulu Alabama dikenal sebagai negara bagian penghasil kapas terbesar di AS. Suatu hari seekor kumbang kapas Meksiko terbawa ke Alabama. Di sana kumbang ini membuat koloni kumbang pemusnah kapas sehingga perkebunan kapas Alabama musnah dalam waktu yang relatif singkat.

Penduduk Alabama bingung, frustasi oleh masalah ini karena mata pencaharian mereka lenyap. Namun beberapa tahun kemudian penduduk Alabama sepakat mendirikan sebuah tugu peringatan dengan maskot si kumbang kapas. Bagaimana bisa?

Kumbang yang menyebabkan kesulitan perekonomian menjadi maskot kota itu? Ternyata masa-masa sukar yang dialami penduduk karena kehilangan kebun kapas telah membuat mereka beralih dengan mencoba menanam buah dan sayuran.

Hasilnya ternyata sangat menakjubkan. Alabama yang dulu terkenal menghasilkan kapas, kini berubah menjadi penghasil buah dan sayur terbesar di Amerika.

Kadangkala keadaan memaksa kita untuk memutar arah hidup dan ketika arah hidup berubah, kita harus siap kembali berjuang mulai dari nol. Dalam kondisi seperti ini beberapa orang larut dalam kebingungan dan terus mengajukan pertanyaan, "Mengapa ini terjadi?",

Namun orang yang mau menghadapi perubahan, meskipun itu menyakitkan akan melemparkan pertanyaan, "Semua sudah terjadi. Selanjutnya langkah apa yang harus saya lakukan dan siap untuk berjuang."

Reinhold Niebuhr th 1930 menulis doa, "Anugerahi aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah dan kebijakan untuk mengetahui perbedaannya."

Jadilah bijak dalam segala keadaan, tetap BE HAppy dan always ENJOY AJA, terus berjuang hingga mencapai hasil terbaik.

Nah sobat, Dari sebuah HARAPAN, kita belajar BERJUANG.
Dari sebuah PERJUANGAN, kita belajar BERKORBAN.
Dari PENGORBANAN, kita belajar KETULUSAN.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2014. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger