|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)......KEBAJIKAN ( De 德 ) Mengucapkan Xin Nian Kuai Le (新年快乐) 2571 / 2020...Xīnnián kuàilè, zhù nǐ jiànkāng chángshòu, zhù nǐ hǎo yùn..Mohon Maaf Blog ini masih dalam perbaikan....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda

Minggu, 15 Februari 2015

15 Hari Perayaan Tahun Baru Imlek yang Penuh Pesta Tradisional

 


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Bagi orang Tionghoa, tahun baru imlek memiliki sebuah makna besar yang identik dengan gabungan hari Natal dan tahun baru masehi bagi orang barat. Peringatan pesta perayaan ini berulang terus setiap tahun, yang tahun ini jatuh pada tanggal 19 Februari 2015 menurut kalender Masehi.

Tahun yang baru, "Tahun Kambing" ala Tiongkok dimulai pada tahun ini pada tanggal 19 Februari. Kalender Tionghoa mengikuti perhitungan fase Bulan, seperti hari Paskah dan pesta Pantekosta di Jerman. Diikuti oleh 15 hari perayaan, silaturahmi dan memelihara hubungan - yang sudah ditentukan sesuai jadwal tetap.

Hari pertama tahun baru dilewatkan di kalangan keluarga sang suami. Pada pagi hari mereka saling ketemu sesudah para anak-anak memperoleh angpao mereka pada malam tahun baru sebelumnya, anggota keluarga yang belum menikah, dihadiahi angpao terkadang juga tamu yang belum menikah. 

Pada mulanya hanya uang receh yang dibagikan, akan tetapi seiring dengan kesejahteraan yang meningkat jumlah angpao tersebut juga semakin besar. Terutama pada keluarga yang mampu, yang di daratan Tiongkok pada umumnya berada/hidup di daerah pesisir pantai timur, bisa saja sejumlah besar uang diselipkan di dalam amplop angpao.

Pada hari ke dua dilakukan kunjungan kepada keluarga sang istri. Kebanyakan pada kesempatan tersebut diadakan jamuan makan lengkap. Terutama pada keluarga yang menjunjung tinggi tradisi, yang biasanya telah menerima pewarisan altar sembahyang kepada para leluhur dan para dewata. 

Untuk itu mereka biasanya sangat ramah kepada anjing peliharaan dan memperbolehkan mereka hadir di perjamuan. Sesuai kepercayaan tradisi, hari ke dua (Imlek) ialah hari ulang tahun semua anjing. Tahun yang baru seharusnya diawali dengan tindakan yang baik, dengan keramah-tamahan dan respek antar sesama maupun kepada semua mahluk Tuhan. Untuk itu anjing sebagai hewan peliharaan memperoleh perhatian khusus. 

Pada banyak keluarga pengertian untuk hidup selaras dengan alam telah luntur. Maka dari itu dewasa ini perayaan tahun baru Tiongkok nyaris hanyalah sebagai pesta untuk pertemuan kekeluargaan dan kekerabatan saja.

Pada hari ke tiga dan ke empat diadakan kunjungan kepada famili jauh. Sering kali ini dikaitkan dengan acara mini-piknik dari keluarga besar. Hari tersebut juga dinamakan "Chikou" (mulut bebas). Oleh karena pada pesta keluarga mudah terjadi perbedaan pendapat. Keluarga besar menerapkan rambu-rambu pengaman bagi pertikaian yang bisa saja berlangsung dengan sangat keras dan bising. Karena di luar keluarga/klan, di dalam kehidupan bermasyarakat, orang Tionghoa tidak boleh menempuh risiko kehilangan muka.

Hari ke lima di Tiongkok utara dimulai dengan sarapan hidangan Jiaozi. Pada hari tersebut orang-orang menyembahyangi dewa rejeki orang Tionghoa (Chaishen). Asul usul historikalnya tertuju pada Zhao Gongming atau Bi Gan. Cai Shen pada mulanya hanyalah seorang pahlawan rakyat Tiongkok, yang konon hidup pada masa awal dinasti Qin (baca: Chin, 2.200 tahun yang silam). Ia di kemudian hari diangkat ke tingkat dewa. Ia seringkali dilukiskan sedang menunggangi seekor macan hitam, dan memegang sebatang tongkat keemasan.

Hari ke enam dan ke delapan dijadwalkan sebagai hari-hari istirahat di antara pelbagai aktifitas.

Pada hari ke tujuh, juga disebut "Renri",secara tradisinya diperingati sebagai "Hari ulang tahun setiap orang". Itu adalah hari dimana orang secara otomatis satu tahun lebih tua, karena di Tiongkok kuno hari ulang tahun pribadi hampir dianggap tidak penting. 

Tiongkok sebagai negara agraris mempersilakan para petaninya pada kesempatan tersebut merayakan hari-hari pesta tahun barunya, karena mereka pada saat-saat tersebut di musim dingin tidak menggarap ladang mereka. Dewasa ini kebiasaan tentang perayaan hari ulang tahun juga telah berubah seiring dengan perubahan kehidupan modern. Di Tiongkok secara lambat laun hari ulang tahun bagi individu telah menjadi perhatian utama.
 
Hari ke sembilan kaum Taois menggunakannya sebagai pemujaan terhadap Tian Gong "Raja Giok Langit" terutama di sejumlah kuil. Untuk itu mereka memohon dari-Nya terutama kebahagiaan dan belakangan ini juga uang yang banyak. Dupa/Hio di kuil-kuil pada kesempatan seperti ini harus dibayar dengan lebih mahal. Sejak hari ke 10 s/d hari ke 12 hari-hari perayaan perlahan-lahan sudah mendekati usai. Para sahabat dan kerabat diundang makan malam di rumah atau di restoran. Rasa kebersamaan dapat dijumpai dalam permainan judi uang menguntungkan seperti Mah-jiang/Mahyong tetapi juga pada permainan catur Tiongkok.

Hari ke 13 dan 14 diperuntukkan bagi persiapan pesta lampion yang dilangsungkan pada malam ke 15. Pesta lampion (Deng Jie) atau pesta Yuan Xiao (yuanxiaojie) menutup serangkaian acara pesta tahun baru tersebut. Penggarapan rame-rame atas lampion merupakan puncak acara sebelum para pekerja keliling tersebut pergi berpencaran selama satu tahun penuh. 

Secara tradisi motiv seperti shio, lukisan simbolik penuh makna seperti binatang, tumbuhan, mahluk fabel, petikan dari roman klasik, legenda, dongeng, tetapi juga adegan perkelahian-silat sangat disukai. Lampion selalu diproduksi/dikerjakan dengan penuh perhatian seksama. Sebagai material dipergunakan antara lain kayu dicat lack, monte/mutiara, perkamen, kertas dan tanduk.

Pajangan yang terkadang super besar itu digantung di depan rumah-rumah atau di halaman. Para kerabat menjelajahi jalanan kota untuk menyaksikannya dan menebak teka-teki yang terdapat pada lampion-lampion itu. Untuk jawaban teka-teki yang tepat, pengunjung akan memperoleh kado mini dari si pemilik lampion. Anak-anakpun pada malam tersebut bermain dengan lampion di jalanan.

Dalam dunia imajinasi orang Tionghoa, lampion merupakan symbol untuk harapan tentang hidup yang lebih baik, kebahagiaan dan sukses - identik dengan pepatah Jerman "Melihat cahaya di penghujung terowongan". 

Juga mereka mewakili kenangan akan para sanak keluarga yang jauh dari kampung halaman seperti pula para pekerja keliling musiman yang akan pergi selama satu tahun lebih atau bahkan beberapa tahun ke depan. Sudah merupakan suatu kebiasaan, pada malam pesta lampion mereka memakan Tangyuan yang berwujud pentolan kecil terbuat dari tepung beras ketan dengan isian makanan manis. 

Dalam bahasa Tionghoa lafal dari aksara "Tang Yuan" hampir sama dengan bunyi "Tuan Yuan" (tuanyuan/pertemuan keluarga). Oleh karena itu orang percaya, bahwa keluarga dapat hidup dalam kesatuan, jikalau semua anggota keluarga memakan Tang Yuan. Sesudah pesta lampion, maka kehidupan akan kembali lagi ke jalur kesehariannya, dan orang-orang akan menanti dengan harap pesta tahun baru berikutnya. Salam kebajikan

Tidak ada komentar:
Write komentar