|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)......KEBAJIKAN ( De 德 ) Mengucapkan Xin Nian Kuai Le (新年快乐) 2571 / 2020...Xīnnián kuàilè, zhù nǐ jiànkāng chángshòu, zhù nǐ hǎo yùn..Mohon Maaf Blog ini masih dalam perbaikan....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda

Selasa, 23 Agustus 2016

Mengapa Doa dan Sembahyang Kita Tidak Terkabul?

 


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Pergi ke kuil atau vihara untuk bersembahyang dan memanjatkan doa pada setiap perayaan hari raya, adalah tradisi masyarakat Tionghoa. Setiap menjelang hari pertama imlek, semua kuil, vihara atau tempat sembahyang lainnya selalu disesaki dengan manusia. Asap-asap dupa menyelimutii segenap kuil, kotak-kotak amal dipenuhi dengan uang kertas sembahyang. Ketika orang-orang membakar dupa dan berlutut memanjatkan do’a, mereka berharap para dewa dapat melimpahkan berkah rezeki, usaha atau karier dan kesehatan pada mereka.

Namun, kenyataannya terkadang sangat menyedihkan, karena bagi sebagian besar orang, doanya tidak terkabul.

Kebanyakan orang sepanjang hidupnya selalu rajin sembahyang, namun, sebagian besar tidak pernah dilimpahkan kesejahteraannya, sial tetap saja sial, dan tetap hidup dalam kemiskinan. Orang yang benar-benar dilimpahkan kesejahteraan berkat doa’nya itu amat sangat sedikit sekali! Padahal kita juga tahu, do’a sembahyang yang kita panjatkan dengan khusuk sekalipun itu juga belum tentu terwujud, dan kita juga pernah merenung dan bertanya dalam hati, sebenarnya apa yang kurang atau salah dan sebagainya ?

Seperti kata pepatah: segala sesuatu yang dilakukan dengan tulus, jujur dan sungguh-sungguh, maka harapan pun akan terwujud. Apakah hati kita tidak cukup tulus dan jujur ? Saya yakin, selain orang lain, sebagian besar orang pasti tulus, jujur dan sungguh-sungguh ketika bersujud (memanjatkan do’a) di hadapan-Nya. Apakah tempatnya (kuil/vihara dan semacamnya) tidak manjur ? 

Pada zaman akhir Dharma ini, sebagian besar kuil atau vihara dan semacamnya itu telah tercemar oleh duniawi, banyak akar kebaikan dari para biarawan tidak lagi murni, bahkan ada kuil atau vihara dikontrak oleh biarawan atau biksu palsu sebagai tempat untuk mencari uang.

Sebenarnya apa masalahnya ? Ini adalah simpul yang tidak bisa saya urai selama bertahun-tahun!

Saya mulai mencari penjelasan dan arti dari makna kata “Fu” (keberuntungan), dan langsung memeriksa dan menyelidikinya dari oracle bones (Aksara tulang ramalan, berdasarkan bentuk-bentuk awal aksara Tionghoa), penjelasan terkait pada dasarnya sama : Dalam aksara tulang ramalan, huruf “Fu” memiliki makna mendapatkan berkah (rezeki, keberuntungan dan sebagainya) dari Sang Ilahi atas orang-orang yang menyembahnya. Apa ada yang aneh dengan penafsiran ini ? Bukankah selama ribuan tahun ini memang demikian, sepanjang hari kita memanjatkan do’a sambil menyalakan hio(membakar dupa) di hadapan para Dewa, bukankah untuk memperoleh berkah dari-Nya!?

Saya meminta petunjuk atau pencerahan dari seorang tokoh Buddhis. Ketika saya mengemukakan keraguan saya, beliau tersenyum dan bertanya, “pada zaman dahulu, arak adalah sesuatu yang sangat berharga, apa namanya kalau kita menyumbangkan atau mempersembahkan sesuatu yang paling berharga ?” 

Saya tertegun sejenak, “mempersembahkan sesuatu yang paling berharga dari kita”? Bukankah itu “persembahan” ? Jadi, arti sebenarnya dari “Fu” itu bukan “meminta”, tapi “mempersembahkan”? Ah!Tidak mungkin !? Ini sepenuhnya terbalik dengan pengetahuan saya selama bertahun-tahun !!!

Beliau menuturkan : “Pengikut Buddha yang sejati, membakar dupa memanjatkan do’a itu merupakan penghormatan pada Sang Buddha, dan mempelajari kebenaran Dharma Buddha, mempersembahkan seumur hidupnya pada Buddha, namun, tidak ada arti dari permintaan apa pun di sini. Jika tidak ada persembahan, lalu dari mana datangnya berkah ? Sepanjang hari hanya memikirkan kepentingan pribadi, yang dipikirkannya hanya meminta, tapi tidak membantu orang lain, atau bahkan menyakiti atau mencelakakan orang lain, jadi, dari mana bisa mendapatkan berkah. Yang ada justru musibah, jadi, kamu telaah sendiri saja makna di dalamnya ini.”

Sejak beliau keluar dari kuil, tinggallah saya sendiri duduk termenung di dalam kuil. Kuil itu tampak ramai, para peziarah tampak sibuk keluar masuk, tapi di mata saya, suasana kuil sepenuhnya sudah berubah. Di depan saya, tampak seorang pemuda, sekilas terlihat seperti seorang pedagang. Melihatnya begitu khusuk, pasti sedang berdo’a meminta Dewa memberkati dan melimpahkan rezeki padanya. Sementara di sisi lain, tampak seorang pria paruh baya, sepertinya seorang pejabat korup, melihatnya begitu khusuk, pasti sedang berdo’a juga meminta Dewa memberkatinya agar naik jabatan dan rezeki yang melimpah.

Mungkin juga mereka datang ke kuil menyumbangkan uang untuk menepati janjinya kepada Dewa, tapi entah mengapa, kesadaran saya sayup-sayup bergejolak dalam batin, barangkali mereka memanjatkan doa meminta berkah untuk kepentingan sendiri atau bahkan meminta perlindungan atas kejahatan yang dilakukan, siapa tahu. Di kuil yang sarat dengan para peziarah ini, apa ada orang yang berdo’a memberi kesempatan pada dirinya agar bisa memberikan sumbangsihnya kepada masyarakat, atau mempersembahkan sesuatu untuk orang lain ? Saya rasa mungkin tidak ada satu pun !

Kita sering mengatakan bahwa doa yang tulus dengan tiga batang dupa di hadapan Dewa itu dapat menjalin kontak batin dengan-Nya! Tapi apa pesan yang kita sampaikan ? Apa yang kita tunjukkan di hadapan Buddha itu? 

Sekeping hati yang buruk, egois, serakah, penuh kemunafikan dan kepura-puraan, kelakuan yang buruk dan hanya memandang kepentingan diri. Kita seharusnya menghormati Buddha, dan melakukan segala sesuatunya sesuai dengan kebenaran Buddha! Tapi sekarang justru menyembah dan memohon Buddha, memperlihatkan sepenuhnya keburukan dan kegelapan diri sendiri di hadapan Buddha. Dan lebih menyedihkan lagi, bahkan mau menukarnya dengan Buddha menggunakan uang kotor duniawi, dengan maksud agar para Dewa melakukan segala sesuatunya sesuai dengan permintaan kita, membantu kita tampak lebih buruk di hadapan-Nya ? ! Coba tanyakan pada diri Anda, apakah Buddha akan memberkati kita ?

Darimana datangnya berkat kalau tidak ada sumbangsih apa pun ? Tidak memberikan sumbangsih apa pun pada orang lain atau masyarakat, hanya meminta berkah dan menikmatinya sendiri. Asal tahu saja, ini bukanlah doa meminta berkah, tapi justru memberitahu Sang Buddha : “Saya orang jahat ! Saya orang hina !” Memberitahu segala keburukan hati Anda sendiri pada Buddha, dan sadarilah kalau Anda itu sedang mengharapkan Sang Dewa menjatuhkan hukuman pada diri Anda ! Salam kebajikan (Sumber)

Tidak ada komentar:
Write komentar