|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)......KEBAJIKAN ( De 德 ) Mengucapkan Xin Nian Kuai Le (新年快乐) 2571 / 2020...Xīnnián kuàilè, zhù nǐ jiànkāng chángshòu, zhù nǐ hǎo yùn..Mohon Maaf Blog ini masih dalam perbaikan....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda

Sabtu, 27 Agustus 2016

Pilihan Sikap

 


KEBAJIKAN ( De 德 ) -  Sinchan adalah seorang yang memiliki kepribadian yang menyenangkan dan sangat disukai oleh orang-orang sekitarnya. Semua orang akan ikut larut dalam situasi gembira saat melihat keriangan yang senantiasa terpancar dari sikapnya yang ramah dan bersahabat.

Ketika temannya sedang bersedih karena mengalami musibah, maka Sinchan dengan sigap akan menghiburnya. Melontarkan candaan yang dapat membuat temannya melupakan kegundahan yang sedang menderanya.

Sinchan juga memiliki pemikiran positif, tidak pernah mengeluh dan selalu mengambil keputusan dengan melihat dari berbagai sudut pandang. Moodnya selalu baik dan kalimat yang keluar dari mulutnya selalu bernada menyemangati. Banyak orang belajar dari pribadi Sinchan yang menyenangkan.

Suatu ketika, Sinchan mengalami peristiwa perampokan. Dompet dan tas sandang miliknya tidak berhasil dipertahankan dari para perampok yang beringas. Bukan hanya kehilangan harta saja, namun sebilah pisau kecil menancap di perut Sinchan.

Untunglah Sinchan masih dapat bersikap tenang. Walaupun darah mengucur deras dari perutnya, Sinchan masih sempat menutup lukanya dengan sehelai saputangan yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi.

Dengan menumpang sebuah becak, Sinchan berhasil tiba di rumah sakit. Para perawat dan dokter berjibaku dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa Sinchan. Mereka segera melakukan operasi untuk mengangkat sisa pisau yang tertanam di perut Sinchan.

Sinchan masih tetap sadar, walaupun darah mengucur lumayan deras. Dengan menahan rasa sakit, Sinchan masih berupaya menebar senyumnya. Dia berharap dengan senyum, para dokter dan perawat dapat bekerja dengan tenang dan tidak panik.

Seorang perawat bertanya kepada Sinchan : "Apakah dirimu merasa kedinginan karena kehilangan banyak darah? Sakitkah...?"

Sinchan berusaha menampilkan wajah yang tenang, seperti tidak mengalami masalah apapun dan berkata lirih : "Sakit sich sakit, namun tidak sesakit ketika saya mengalami putus cinta...."

Kalimat candaan dari Sinchan membuat seisi ruangan tersenyum dan tertawa. Mereka sangat heran, melihat keriangan hati Sinchan. Padahal nyawanya sedang terancam.

Seorang dokter berkata : "Jangan khawatir, kami akan berupaya keras menyelamatkan nyawamu..."

Sinchan menjawab : "Terima kasih dok... Saya berharap besok masih dapat menikmati semangkok bakso kegemaranku. Saya tahu, Tuhan masih menyayangi diriku..."

Kalimat-kalimat optimis dari Sinchan, melecut semangat para dokter untuk bekerja dengan baik.

Saat operasi pengangkatan serpihan pisau di perut Sinchan sedang berlangsung, muncul ketegangan di wajah para dokter. Rupanya luka akibat tikaman pisau sempat mengenai lambungnya.

Sinchan sempat mendengar pembicaraan para dokter, lantas berkata pelan : "Wah, saya lupa bawa selotip. Apakah dokter memiliki selotip untuk menutup luka lambungku...?"

Sekali lagi, suasana di ruang operasi manjadi cair. Para dokter tersenyum mendengar lelucon Sinchan. Baru kali ini mereka mendapatkan pasien yang masih berusaha membanyol dalam kondisi sakit.

Akhirnya, operasi berhasil dilaksanakan. Nyawa Sinchan terselamatkan. Sikap Sinchan yang tetap tenang dan dapat mencairkan suasana tegang, sangat membantu upaya para dokter menyelamatkan nyawanya.

Dapatkah kita membayangkan, apabila Sinchan memilih untuk apatis, pasrah atau bahkan bersikap kasar dan marah-marah kepada para tim medis, barangkali saja operasinya akan mengalami kegagalan.

Sobatku yang budiman...

Hidup ini adalah pilihan. Kita dapat memilih apa yang akan kita lakukan ketika berada dalam situasi yang tidak menguntungkan. Apa yang terjadi dalam kehidupan kita, sangat ditentukan oleh sikap dan perbuatan kita.

Seringkali kita tidak menyadari bahwa apa yang kita perbuat saat ini akan menentukan apa yang akan dihasilkan kelak. Semua bergantung kepada kita dalam merespon suatu kejadian yang muncul dalam kehidupan kita.

Saat kita disakiti, secara naluriah kita akan bereaksi untuk membalasnya. Saat seseorang menyenggol tangan kita yang menyebabkan minuman kita tumpah, maka secara spontan kita ingin meminta ganti rugi. Itulah reaksi umum yang biasa dilakukan banyak orang.

Padahal, tidak ada seorangpun yang "memaksa" kita untuk membalas perbuatan buruk orang lain kepada kita. Jika demikian, mengapa kita harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mempermasalahkannya?Bukankah kita dapat memilih untuk memaafkan perbuatan mereka?

Bukan tidak mungkin, dengan memberi maaf kita justru akan mendapat "imbalan" yang tidak terduga.

Membuat diri sendiri dan orang lain bahagia adalah pilihan kita sendiri. Jangan biarkan orang lain memaksakan pilihan mereka untuk kita. Mengatur-atur kita agar berperilaku seperti yang mereka harapkan. Sebab buah hasil perbuatan yang kita lakukan, yang baik maupun yang buruk adalah mutlak menjadi milik kita.  Salam kebajikan #firmanbossini

Tidak ada komentar:
Write komentar