|
Welcome To My Website Kebajikan (De 德)..Happy Cap G Meh (十五暝)2569/2018....Dalam era kebebasan informasi sekarang, hendaknya kita dapat lebih bijak memilah, mencerna dan memilih informasi yang akurat. Kami menempatkan kepentingan pembaca sebagai prioritas utama. Semangat kami adalah memberikan kontribusi bagi pembaca agar dapat meningkatkan Etika dan Moral dalam kehidupan serta meningkatkan Cinta kasih tanpa pamrih pada sesama baik dalam lingkup lingkungan sekitar maupun lingkup dunia dan menyajikan keberagaman pandangan kehidupan demi meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap kehidupan. Tanpa dukungan Anda kami bukan siapa-siapa, Terima Kasih atas kunjungan Anda
Home » » Ayam Jantan Cacad dan Musang Pemburu

Ayam Jantan Cacad dan Musang Pemburu

Written By Kebajikan ( De 德 ) on Kamis, 20 Oktober 2016 | 15.02


KEBAJIKAN ( De 德 ) Seorang dermawan yang berprofesi sebagai motivator bernama Emte sedang memberikan motivasi kepada anak-anak yatim piatu di sebuah panti asuhan. Setiap bulannya, beliau selalu meluangkan waktunya untuk bercengkerama dengan anak-anak yang hidup dalam kondisi haus kasih sayang karena harus berpisah dari kedua orang tuanya sejak masih kecil.

Kali ini, Emte menceritakan tentang kisah seekor ayam jantan yang cacat dan musang pemburu. Begini ceritanya...

Suatu hari di pinggiran hutan, seekor ayam jantan sedang mencari makan untuk pasangannya yang sedang mengerami telurnya. Ayam jantan tersebut bukanlah ayam yang normal karena sebelah kaki kirinya sedang terluka karena tersayat oleh duri pohon yang sangat tajam.

Dengan berjalan tertatih-tatih, ayam jantan yang cacat itu terus mematuk-matuk tanah menggunakan paruhnya untuk mencari cacing dan serangga kecil yang hidup di tanah. Sesekali ayam tersebut menggores-goreskan kuku tajamnya untuk menggali lebih dalam lagi.

Dari kejauhan terlihat seekor musang sedang mengintai gerak-geriknya. Perlahan namun pasti, musang tersebut mulai mendekati ayam cacat itu.

Setelah berjarak sedemikian dekat, barulah ayam jantan tersebut menyadari bahaya yang sedang mengancam jiwanya.

Dengan segenap kekuatan yang ada, ayam jantan itu berlari menghindari kejaran musang yang berukuran cukup besar. Walau harus menahan sakit karena kaki kirinya yang terluka, ayam jantan itu terus berlari secepat mungkin, kadang-kadang harus mengepakkan kedua sayapnya agar dapat terbang tinggi menghindari terkaman musang lapar tersebut.

Saat memikirkan pasangannya yang sedang menunggu kepulangannya, ayam jantan yang cacat itu semakin termotivasi untuk menyelamatkan jiwanya. Sepanjang jalan yang dilalui, darah berceceran dari lukanya yang semakin parah. Namun ayam jantan itu tidak mau menyerah dan terus berupaya semaksimal mungkin menyelamatkan dirinya.

Akhirnya, berkat semangat pantang menyerah dan keyakinan yang tinggi, ayam jantan tersebut berhasil meloloskan diri dari kejaran musang yang ganas.

Setelah selesai bercerita, Emte bertanya kepada anak-anak : "Ada yang tahu, mengapa musang tadi tidak berhasil memangsa ayam jantan tersebut? Padahal ayam tersebut dalam kondisi cacat, sedangkan musang dapat berlari lebih cepat dari seekor ayam?"

Berbagai jawaban dilontarkan oleh anak-anak tersebut, mulai dari ayam bisa terbang, ayam tersebut bersembunyi di dalam lubang hingga ada yang menjawab karena pertolongan Tuhan.

Sang motivator itu tersenyum sambil menggangguk-anggukkan kepalanya, lalu berkata : "Sebab ayam jantan itu tahu bahwa jika saja musang pemburu itu berhasil mengejarnya, maka tamatlah riwayatnya di dunia ini. Bukan itu saja, kematiannya akan membuat pasangan hidupnya merasa amat sedih. Dia akan terus menunggu dalam ketidakpastian. Motivasi ayam tersebut adalah untuk keberlangsungan hidup diri dan keluarganya. Sedangkan bagi seekor musang, keinginannya berlari hanyalah untuk mendapatkan makanan favoritnya. Jika dia gagal mendapatkan ayam jantan itu, tentunya ini bukan masalah besar. Masih banyak tersedia makanan untuk dilahapnya nanti."

Semua anak mendengarkan cerita ini dengan penuh perhatian. Mereka merasa apa yang disampaikan Emte merupakan dorongan bagi mereka untuk melangkah menapaki kehidupan ke depannya.

Emte melanjutkan : "Motivasi ayam tersebut berlari adalah untuk melanjutkan kehidupannya, sedangkan motivasi musang tersebut berlari hanya untuk memenuhi keinginan hati mendapatkan makanan favoritnya..."

Sobatku yang budiman...

Banyak orang menjalani kesehariannya dengan bersantai-santai dan seperti tidak memiliki beban hidup. Apa yang diperoleh setiap bulan, pasti akan dihabiskan di akhir bulan. Mereka berprinsip untuk menikmati hidup selagi masih bisa, tanpa berusaha untuk menabung demi masa depan. Mereka berpikir, toh awal bulan nanti pasti mendapat gaji lagi.

Dan sebagian orang lagi menjalani kehidupannya dengan penuh perjuangan dan perhitungan. Mereka tidak memiliki pilihan lain selain harus bekerja keras dan selalu berhemat sebab hasil yang diperoleh bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Mereka tahu bahwa masih ada orang selain dirinya yang harus dinafkahi.

Saat kita merasa berkekurangan atau memiliki fisik yang kurang sempurna, jangan menyerah. Jika beberapa orang menertawakan dan berusaha menjatuhkan kita, jangan berhenti melangkah, tetap tegar dan teruslah berjuang.

Ingatlah bahwa masih ada orang-orang yang kita kasihi dan yang mencintai kita, sedang menunggu kesuksesan kita.  Salam kebajikan #firmanbossini
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011 - 2018. Kebajikan (De 德) - All Rights Reserved
Template Created by Kebajikan (De 德) Published by Kebajikan ( De 德 )
Proudly powered by Blogger